Satu : Bintang Prabasa

31K 1.2K 166
                                                  

"AHAHAHAHAH."

Aku mengangkat kepala dari buku yang aku baca, demi mencari sumber suara.

Di sana! Beberapa meter dari tempatku duduk bersender sambil selojoran kaki, Selina duduk di lantai sambil tertawa menatap layar laptop yang ia letakkan di atas dipan kayu setinggi 30 cm di depannya, dipan kayu tempatku duduk.

Setelah tawanya mereda, Selina lanjut menulis di double polio samping laptopnya.

Aku kembali membaca materi tugas ekstra sains komputer yang diberikan pembina ekstra karena tadi batal ekstra. Sebab lab komputer digunakan guru-guru untuk input data hasil UTS yang diadakan minggu lalu. Jadilah aku terdampar di perpustakaan, malas pulang lebih awal.

"I know it breaks your heart! moved to the city in a broke-down car and! 4 years no call! Now you're looking pretty in the hotel bar and! I-I-I can't stop! No I-I-I can't stop! And if you feel you're sinking, I will jump right over! Into cold, cold water for you! I'm only one call away! I'll be there...,"

ARGH. Tidak di kelas, tidak di kantin, tidak di lab komputer, tidak di perpustakaan, perempuan dengan rambut panjang sampai lutut itu selalu saja membuat area sekitarnya jauh dari kata tenang. Berisik.

Selina sebenarnya sedang apa? Hah! Tangannya memegang bolpoin di atas double polio, di samping double polio ada laptop yang sedang memutar video entah apa--ah paling tidak jauh dari kata 'KOREA'--yang sebelumnya ditatapnya sambil tertawa-tawa.

Lalu sekarang, dia bernyanyi ria sambil menulis. Ah lebih benar disebut berteriak ria daripada disebut menyanyi. Terlebih lagi, dia suka membawakan lebih dari satu lagu dan parahnya bagian reff-nya saja.

"KYAAAA BODOH BANGET!!! KYAAA!!!"

Ah telingaku sayang. Belum tiga menit kamu beradaptasi dengan suara sumbangnya, kini kamu hampir tuli karena teriakannya.

Hah. Aku tidak suka!

"SELINA!" sentakku. Aku pasang wajah sangar.

"Kenapa, Bintang?" tanyanya dengan raut wajah tak berdosa. Polos yang teramat.

Ah, aku jadi ingin menjambak rambut karenanya. Aku gemas.

"Ini perpustakaan." ucapku. Lalu kembali menatap buku.

"Terus?"

Kurang waras!

Aku angkat lagi kepalaku, lalu mendelik. "Ini perpustakaan, jangan ribut. Kalau mau ribut di rumah atau di lapangan aja sana!"

"Terserah gue dong. Jugaan cuma ada elo sama Bu Esti doang. Bu Esti juga enggak marah." ucapnya. Dia mengalihkan pandangnya dariku. Menatap kembali laptop sambil menggerak-gerakkan tetikus.

Argh. Ingin rasanya aku tarik rambut panjangnya lalu dipotong sampai gundul. Seenaknya saja dia! Bu Esti juga, kenapa dia membiarkan saja Selina tertawa, menyanyi, dan berteriak-teriak tak jelas seperti kerasukan begini di perpustakaan?

Sepertinya aku harus turun tangan memberi penjelasan.

"Selina, di mana-mana kalau di perpustakaan itu enggak boleh ribut! Biar dibolehin ataupun enggak, Selina!"

"Biarin aja, sih!" sahutnya. "AHAHAHAHA." Dia kembali tertawa menatap layar empat belas inchinya.

Aku tidak tahan lagi. Aku lempar pensilku ke arah jidatnya yang tidak begitu lebar.

"Aduh! Sakit tahu!" Selina mengusap-usap jidatnya yang mulai memerah. Sepertinya lemparanku terlalu kuat.

Aku bangkit dan melangkah mendekatinya. Aku berlutut di sampingnya double polio-nya untuk mengambil pensilku yang terjatuh di lantai.

Behind The HappinessTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang