Chapter 112: Kabur

2.8K 172 18

Aah, ada pergantian penggunaan kata lagi mulai chapter ini '-')a

Masih inget《Hero's Relic》? Sebelumnya kan cuma ditulis 'Hero's Relic' seperti biasa, nah mulai chapter ini, bakal digunakan kata 'relik pahlawan' supaya makin lokalisasi.

Dengan demikian, selamat menikmati

Chapter 112: Kabur

____________________

"Argh... tetap tidak bisa ya?" (Eveam)

Eveam merapatkan giginya dengan frustasi seraya menyentuh pelindung itu lagi. Walaupun waktu sudah berjalan cukup lama, tapi pelindung ini tidak terlihat berubah sama sekali.

"Argh! Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, kita harus menghabisi semua sampah Humas yang ada di sini!" (Marione)

"Tidak!" (Eveam)

Eveam langsung menolak saran Marione tanpa pertimbangan.

"Tapi mereka mengkhianati kita!" (Marione)

"Sudah kukatakan, bukan? Kita akan memikirkannya setelah kita keluar." (Eveam)

"Ya... tapi..." (Marione)

"Saat ini kita harus melakukan sesuatu terhadap pelindungnya dan pergi menuju Xaos secepat yang kita bisa untuk menghentikan oerang. Aku melarangmu menggunakan kekuatan dan tenagamu disini." (Eveam)

"Ku..." (Marione)

Marione menyerah dengan kesal.

"Judom-dono juga sedang mengumpulkan kekuatan dan staminanya. Aku sarankan kau melakukan itu juga sementara aku melakukan sesuatu terhadap pelindung ini!" (Eveam)

Walaupun dia sendiri juga tidak bisa menemukan solusi, namun Eveam tetap berusaha.

Saat Eveam melakukan itu, pendeta Oldine Great Temple, Portnis, mengalihkan pndangannya ke Raja Victorias, Rudolf.

"Raja Victorias, walaupun kau adalah teman dan penasehat kami, bagaimana kau bisa melakukan tindakan kotor ini dengan tenang di sini? Apa kau punya penjelasan?" (Portnis)

Ya, Portnis juga dikhianati oleh Rudolf. Pertemuan ini diadakan untuk membangun perdamaian, jadi dia dengan senang hati kalau konferensi semacam itu diadakan di Tanah Suci ini yang merupakan simbol perdamaian.

Namun, salahsatu pihaknya malah mendeklarasikan peperangan.

"Apa yang kau lakukan adalah penistaan terhadap nama keadilan! Tidak tahu malu!" (Portnis)

Walaupun dia benar-benar marah, Rudolf menjawabnya dengan tidak peduli.

"Pendeta, kau mengerti kan? Setelah semua berakhir, akan ada kedamaian yang sesungguhnya." (Rudolf)

"Dengan menghancurkan ras lain selain Humas!" (Portnis)

"Itu adalah cara terbaik untuk mendapat kedamaian." (Rudolf)

"Seperti kata Judom... kau tidak pantas jadi raja." (Portnis)

Rudolf mendengus setelah pendeta mengatakannya. Dia pun melihat Eveam.

"Maou." (Rudolf)

"Apa!" (Eveam)

Eveam sudah tidak menggunakan bahasa yang sopan. Ini karena dia berpikir kalau lawan bicaranya itu tidak pantas untuk dihormati.

"Seperti yang aku katakan. Aku sudah kehilangan orang yang dekat dan berharga untukku." (Rudolf)

"..." (Eveam)

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!