Adhies mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sembari bersenandung mengikuti lirik lagu. Matanya melirik kesana kemari melihat keadaan kelasnya yang sepi.
Udara yang masih sejuk mungkin bagi siswa lain, mereka masih saja berguling guling ditempat tidur. Tapi tidak bagi Adhies, ia harus rela bangun pagi karena ayahnya mempunyai rapat penting.
Biasanya ia berangkat sekolah bersama Daffa. Tapi berhubung Daffa sedang tidak masuk sekolah karena sakit, ia berangkat bersama ayahnya.
Adhies melirik jam yang masih menunjukkan pukul 06.20. ia lalu mengambil bekal dari dalam tasnya.
Untung saja Bundanya menyiapkan bekal untuknya. Kalau tidak pasti ia harus ke kantin untuk membeli makanan.
Tanpa ia sadari, sedari tadi seorang cowok memerhatikannya dengan tatapan tengil sambil bersandar di pintu. Siapa lagi kalau bukan Aydan yang selalu mengganggu Adhies.
Aydan melangkahkan kakinya ke bangku Adhies yang belum disadarinya. Bahkan Aydan berdiri disampingnya belum ia sadari juga.
"Pagi Adhiesku sayaaang," ucap Aydan dengan keras yang membuat Adhies terlonjak kaget.
"Anjir, kaget gue," balas Adhies kaget. Ia mendongakkan kepalanya sambil menatap Aydan kesal. Yang ditatap memperlihatkan deretan giginya yang rapi seperti anak kecil.
Ya Allah, jantung gue mau copot. Bisa gak sih gak ketemu dia dalam sehari. Batin Adhies yang masih menatap aydan dengan kesal.
"Jangan natap kayak gitu dong,geser sana gue mau duduk disini," ucap Aydan lalu menggeser tubuh Adhies.
Aydan meletakkan bokongnya disebelah Adhies yang menyerangnya dengan pukulan keras. Tapi bagi Aydan itu tak sebanding dengan kekuatannya.
"Ih disini tuh tempatnya Gladys. Lo jangan disini dong," pekik Adhies yang masih saja memukul Aydan.
Aydannn, jangan bikin gue pingsan ditempat dong. Lo liatin gue aja udah bikin jantung gue mau lepas, apalagi duduk disamping gueeee. Pekik Adhies dalam hati.
Mana berani ia mengucapkan dengan frontal. Mau taruh dimana mukanya.
Tiba-tiba sahabat2 Aydan datang dan langsung mendobrak pintu kecuali kevin. Hanya dia yang waras diantara mereka bertiga.
"Woyy, lo berdua. Ini masih pagi kali udah mojok aja. Kata ustad gue itu gak baik," ucap Dino dengan wajah yang dibuat serius.
Ucapan Dino membuat Adhies berhenti memukuli Aydan yang terkekeh melihat wajah Dino.
"Siapa yang mojok, ini nih temen lo usir dong. Gak tenang gue kalo sama dia," ucap Adhies sambil menatap Aydan kesal.
Dino, Angga, dan kevin langsung saja duduk dibangkunya tepat disamping bangku yang Aydan dan Adhies duduki.
Kevin duduk dibangku itu bersama Aydan. Sedangkan Dino dan Angga duduk didepan bangku mereka.
"Gak, tenang karena jantung lo yang mau copot kalo deket Aydan maksud lo," Goda Angga. Ia memang tau gerak gerik Adhies yang menyukai Aydan, tapi ia hanya menjadikannya lelucon.
"Eh gak ya, siapa juga yang suka sama dia," elak Adhies dengan wajah yang sudah memerah.
Aydan menatap Adhies genit. Yang ditatap mengalihkan pandangannya dengan mencari kesibukan yaitu melanjutkan makannya.
"Eh, gue gak bilang suka loh ya, hayoo," goda Angga. Adhies mati kutu, ia semakin menundukkan kepalanya malu.
Aydan masih saja menatap Adhies yang sedang makan.
"Tapi, aku suka loh sama kamu," ucap Aydan sambil merangkul Adhies.
Adhies mematung. Saat ini ia ingin melenyapkan diri Aydan yang terus membuatnya baper tingkat dewa.
STAI LEGGENDO
Hope
Teen Fiction"terima kasih karena kamu membuatku bahagia, terima kasih karena kamu membuatku nyaman. terima kasih karena kamu membuatku berharap lebih atas perlakuan manismu. dan terima kasih juga karena kenyataannya perlakuanmu itu hanyalah sebuah harapanku yan...
