Alfredo tidak bisa tidur. Sedari tadi dia berjalan di apartemennya sendirian. Dia merebahkan tubuhnya pada ranjang king size miliknya. Walaupun ranjang itu sangat empuk karena berkualitas tinggi dan dibeli dengan harga dengan 6 digit 0 di belakangnya, Alfredo tetap merasa tubuhnya remuk. Bukan karena ranjang itu, tetapi karena aktivitasnya beberapa hari ini yang sangat menguras tenaga dan pikirannya.

Alfredo mengecek hp-nya dan melihat pesan masuk dari Fienna.

Fienna: Gue mau ketemu lo. Ada hal yang harus gue omongin. Penting!!

Alfredo membalas pesan dari Fienna sambil mengernyitkan dahinya.
Alfredo: Tentang apa? Dimana?

. . . . .  

Tidak ada balasan.

Keesokan harinya. . .

Alfredo bangun dari tidurnya dan mengucek matanya yang masih mengantuk. Lalu, dia teringat dengan pesan dari Fienna.

Alfredo membuka pesan dari Fienna. Ternyata Fienna sudah membalas pesannya.

Fienna: Tentang artikel "itu"
Fienna: Di Cafe Lorreine
Fienna: Gue tunggu jam 9 pagi

Alfredo melirik jam dan mengumpat karena jam telah menunjukkan pukul 08.55.

"Sh*t*

Alfredo beranjak dari ranjangnya dengan gesit dan merapikan dirinya kurang 5 menit. Alfredo melihat jam dan tau dia pasti akan terlambat. Apalagi jika ada kemacetan di jalan.

Alfredo mengetik pesan pada Fienna bahwa dia akan terlambat datang.

Alfredo: Gue bakal telat. Tunggu gue bentar

Setelah menekan tombol send, Alfredo mengambil kunci motornya dan segera masuk ke dalam lift menuju basement apartment.

Brum brum

Alfredo men-starter motornya dan menjalankan motornya. Alfredo sampai ke Cafe Lorreine pukul 09.10. Disana Fienna sudah menunggu  di sudut kafe.

Alfredo menarik bangkunya di seberang kursi Fienna dan duduk disana. Pertama-tama keduanya tidak saling berbicara.

"Jadi gue pengen ngomongin soal artikel itu." Kata Fienna membuka percakapan.

"Lo merasa terganggu sama artikel itu? Tenang aja, wajah lo di-blur sama pihak penerbitnya. Orang-orang cuma tau itu gue." Balas Alfredo.

Fienna mengotak-atik hp-nya sebentar dan meletakkan hp-nya di meja. Kemudian, ia menyodorkan hp-nya pada Alfredo.

"Yang mau gue tunjukin ke lo itu ini!" Ucap Fienna sambil menunjuk layar hp-nya.

Sekilas, Alfredo tidak melihat ada yang aneh. Sampai ia membaca screenshot chat yang tertera di layar hp Fienna.

Alfredo menyipitkan matanya,"Lo dapet darimana screenshot ini?"

"Kemarin, Robert ngajak gue ke kafe. Pas dia ke toilet, gue iseng ngeliat chat hp-nya dan nemuin ini. Habis itu gue simpen buktinya di hp gue." Jelas Fienna.

Alfredo mengambil hp dari saku jeans -nya," Boleh lo kirim gak screenshot itu ke gue?"

Fienna mengangguk,"Bentar gue kirim dulu."

Fienna mengirim foto screenshot itu pada Alfredo.

********

Robert iseng membuka hp-nya. Dia ingin membayar Edo sebagai imbalan karena Edo sudah menyukseskan rencananya untuk menjatuhkan Alfredo. Namun, Robert tidak menemukan kontak Edo di hp-nya. Robert mengira ia tidak sengaja menghapus kontak Edo. Oleh karena itu, Robert meminta salah satu bawahannya untuk mengirimkan kontak Edo.

Kemudian, Robert bertanya pada Edo.

Robert: Apa yang Pak Edo inginkan sebagai imbalan bantuan itu?"

Edo: Kayak yang saya chat bos kemarin. Saya pengen naik gaji.

Robert: Kapan? Pak Edo tidak pernah chat saya untuk naik gaji. Malah kontak Bapak hilang dari hp saya kemarin.

Edo: Bukannya bapak nge-chat saya kemarin?

Edo sent a photo

Robert melihat screenshot chat yang dikirimkan Edo. Lalu, Robert mengingat-ingat apa yang dilakukannya kemarin. Tanpa sengaja, otaknya memutar kejadian kemarin di kafe bersama Fienna.

"Damn!" Umpat Robert

TBC

Maaf ya author baru update. . Soalnya serius akhir-akhir ini jadwal author padat abiss. Tugas ada dimana-mana. Bikin stress. Mohon maklum ya.

Sorry for typo

Thx for reading

Hope you like this part

😘😘😘😘😘

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!