Dan kepastian itu membuatnya didalam masalah.

***

Jalanan cukup ramai malam ini, tetapi hal itu tidak meredupkan niatnya menghabisi seseorang disana. Sekarang Arka sedang menyetir menuju rumah Papa dan Mama-nya untuk mengantar Karin kesana. Dia bisa merasakan jika Karin tidak suka dengan keputusannya, tetapi itulah pilihan yang terbaik. Tidak mungkin 'kan Arka membiarkan Karin berada di rumah sendirian disaat bahaya sedang mengawasinya.

"Kakak mungkin tidak akan kembali dalam seminggu."

Karin kaget dan hanya diam. Dia tidak ingin menimbulkan percekcokan yang hanya akan membuatnya tidak rela membiarkan Arka meninggalkannya.

Arka menghela napas panjang, "Selesaikan ujianmu! Pikirkan dirimu. Jangan mengingat aku jika itu hanya membuatmu tidak fokus pada dirimu sendiri."

"Baiklah." jawab Karin pendek tanpa menatap Arka.

Setelah sampai di tujuan, Arka langsung menepikan mobilnya dan membantu Karin membawakan barangnya. Fredi dan Rini sudah menunggu didepan gerbang untuk menyambut kehadiran putra dan menantu mereka.

"Pa, Ma, aku titip Karin. Aku ada urusan seperti yang aku katakan tadi di telepon." Arka langsung berpesan pada orangtuanya.

Arka menatap Karin yang hanya tertunduk diam tanpa sekalipun mau menatap matanya. Arka semakin merasa bersalah sudah membentakknya tadi. Arka lalu menarik Karin lalu memeluknya erat.

"Maafkan aku..." lirihnya pelan.

Karin menggeleng, "Aku yang seharusnya minta maaf."

"Ini tidak akan lama dan kebahagian akan menjadi milik kita. Aku pergi dulu." ucap Arka sambil mencium kening Karin dan melepaskan pelukannya. Arka bisa melihat jika Karin sedang berusaha menahan tangis.

"Kakak harus baik-baik saja," pesan Karin dengan suara gemetaran.

"Ya, pasti." Balasnya dengan senyum lebar.

"Aku pergi dulu, Pa, Ma. Doakan aku baik-baik saja." pamit Arka kemudian kembali melanjutkan perjalannya.

Karin berlari kedalam pelukan Rini. Menangis disana. Menumpahkan kekhawatirannnya yang tidak akan pernah habisnya jika pria yang sudah dicintainya itu tidak berada disampingnya.

"A-akankah dia kembali, Ma?" gumam Karin bertanya.

Rini mengusap punggung menantunya itu lembut, "Tentu. Percayalah pada Arka. Suamimu itu hebat, Nak." ucapnya menenangkan.

***

Arka berjalan cepat masuk kedalam sebuah kafe di pinggir jalan. Dia sudah berjanji akan bertemu dengan seseorang disana.

Ia langsung duduk dihadapan seseorang yang sudah menunggunya.

"Apa yang mau lo bilang?" cerocos Vico kesal. Bagaimana tidak kesal, Arka menyuruhnya ke kafe saat itu juga dan sendirinya yang meminta malah terlambat.

"Langsung ke inti," Arka mengeluarkan sebuah flashdisk dari sakunya dan meletakkannya diatas meja.

"Apa ini?" tanya Vico dengan kening berkerut sambil meraih flash disk itu.

Lovely HusbandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang