Sang Penulis Kisah

955 79 2

Bhanumati tampak heran mendengar nama itu. Namun aku berkilah, mengatakan kalau aku mendapatkan informasi itu dengan cara menguping dari Karna.

Malam harinya, aku sama sekali tak bisa tidur. Diam-diam, aku menyelinap dari istana, berniat melakukan perjalanan yang pernah aku jalani saat masih menjadi Supriya.

Menyelinap saat menggunakan badan fisik tidak semudah saat aku bisa menghilang sesuka hati. Perlu segenap cara untuk mengelabui penjaga. Beberapa kali aku menyebut nama Krisna, berdoa agar terjadi keajaiban seperti keajaiban yang terjadi pada sari Drupadi.

Ketika aku melewati padang Kurukshetra, ingat bahwa tempat ini akan menjadi saksi atas sebuah perang mahadahsyat, aku menitikkan air mata. Dengan sedih, kusentuh pasir di padang itu. Mengenang sungai yang pernah mengalir di sana.

Sungai Saraswati.

Ada legenda yang mengatakan, berkah Dewa Wisnu atas tanah ini akan mengantarkan setiap jiwa yang mati pergi menuju kedamaian abadi di surga. Dengan dasar legenda ini, aku mengatupkan tangan, memanjatkan doa-doa untuk mereka yang darahnya akan membasahi tanah ini.

Aku mengusap air mataku, lalu menyentuh tanah itu sekali lagi dan berbalik. Saat itulah, aku menyadari kalau sejak tadi seseorang memerhatikan segala yang aku lakukan. Begawan Abyasa tersenyum kepadaku. Dan aku yakin, dengan ajna-nya dia tahu aku pernah menemuinya bertahun-tahun lalu.

"Salam, Begawan Abyasa."

"Diberkatilah, Kau... Dewi."

Aku tersenyum membalas sapaan Begawan Abyasa, "Saya bukan dewi lagi. Saya seorang manusia biasa sekarang."

"Putri Saraswati," Begawan Abyasa berkata dengan nada simpati, "Kalau kau menggunakan pilihanmu dengan bijak, mungkin saja... kau akan setenar Putra Gangga."

Aku tak menduga, Begawan Abyasa memiliki sedikit rasa humor. Dia tertawa sambil mengelus-elus jenggotnya. Beberapa saat, kami memandangi padang luas di depan kami.

"Aku tak perlu dikenang sebagai Putri Saraswati, Begawan Abyasa," kataku akhirnya, "Sama seperti jasa-jasa suamiku yang diabaikan karena statusnya. Aku hanya ingin dikenang sebagai istri seorang ksatria."

Begawan Abyasa tertegun mendengar pernyataanku. Dia mengangguk setuju. Lalu kembali memandang Kurukshetra.

"Aku memang beruntung, bisa melihat perang yang akan terjadi tak jauh dari rumahku."

"Apa yang akan anda lakukan, Begawan?" aku memandang Begawan Abyasa, "Apa yang akan dipetik orang dari perang ini? Apakah kematian dan duka seperti dalam sumpah Maharani Drupadi?"

"Dewi Kecil, kau tidak usah khawatir," ketenangan Begawan Abyasa mau tak mau membuatku kagum. Dia mendekati telaga di dekat kami. Mengambil sebuah teratai merah jambu, lalu menyodorkannya kepadaku.

"Meski teratai ini akan layu, bunga-bunga baru akan tumbuh, terus tumbuh untuk memekarkan kuncup yang baru," Begawan Abyasa berkata dengan nada lembut, "Namun teratai hidup di dalam air, bukan dalam api."

Dia tertawa lagi, aku sedikit bingung ketika dia menggunakan ajna-nya untuk mendengar syair Saraswati.

"Api hanya bisa dipadamkan dengan air," dia mengulang bagian itu, "Dewi Kecil, Aku akan membuat mereka yang tahu akan perang ini, memetik pelajaran penting di dalamnya."

"Bagaimana caranya, Begawan?"

Begawan Abyasa kembali tertawa, namun kali ini, tawanya terdengar lebih getir. Dia memandang teratai di tanganku, lalu berkata sambil menggeleng-geleng.

"Pulanglah, Dewi. Aku khawatir, air dari teratai itu harus segera digunakan."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang