BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

Twenty-seven (Rayya_ finally you!)

19 0 0


Kamis terakhir di tahun ini. Rayya merasa lelah akibat semalaman berceloteh panjang, meluapkan segala isi kepala dan hatinya kepada Jery tentang banyak hal. Di balik lelah, ada rasa lega yang membuat batinnya sedikit lapang. Rayya ingin merilekskan dirinya hari ini, bayang-bayang secangkir Red velvet hangat dengan gambar lucu yang dibentuk dari krim susu racikan madun sudah memenuhi kepala Rayya. Ia rindu cafe. Tidak hanya karena cairan hasil dari pesanan yang mengalir di tenggorokannya saja. Terlebih pada suasana. Aroma dinding kayu bercampur dengan bubuk teh yang bersirkulasi didalam ruangan itu menjadi salah satu penenang pikirannya. Satu lagi, bau kertas dari buku-buku yang tersusun di rak adalah aroma favoritnya.

Ingin terlihat lebih santai, kali ini ia datang mengenakan pakaian overall denim ala mario bross yang di padukan dengan kaos dalam lengan panjang berwarna putih polos. Untuk alas kaki, ia memilih converse putih yang sudah terlihat sedikit lusuh. Dari luar, beberapa barisata di dalam sana sedang asik mengobrol dengan pemilik cafe. Rayya melirik pada jam casio hitam yang ada di tangan sebelah kanannya, pukul empat sore lebih 3 menit. Biasanya, pemilik cafe akan keluar dari rumah, melakukan pengontrolan pengunjung dan proses kerja barista agar tetap teratur sembari memberikan semangat. Yah, beliau begitu peduli dengan cafe yang dirawat sejak 15 tahun silam serta 'merawat' orang-orang yang ikut serta didalamnya. Selang beberapa detik, sang pemilik cafe menyadari keberadaan Rayya di halaman depan, lalu tersenyum lebar. Rayya bergegas mengayunkan langkahnya menuju pintu masuk.

"Ini dia gadisku. Sudah lama aku tidak melihatmu, Rayya," Sapa laki-laki paruh baya itu. Rayya hanya tersenyum sambil mencium tangan orang yang sudah dianggap sebagai keluarganya itu.

"ini hari kamis terakhir di tahun ini, silahkan melewatinya sebaik mungkin Rayya,"

"oh, baik pak. Terimakasih," jawab Rayya

"oh iya, nikmatilah pesanan favoritmu sepuasnya, gratis." Mata Rayya kemudian melebar. Kalimat barusan menambah energi pada moodnya hari ini. Mereka berdua saling melemparkan senyum bahagia, berharap kamis terakhir ini mewujudkan harapan masing-masing dari mereka.

***

Rayya sibuk membenahi kaktusnya. Memberikan semprotan air dari satu pot ke pot yang lain. Buku-buku yang ada di rak di tata ulang membentuk formasi baru. Ia ingin suasana baru untuk menyambut kamis di awal tahun nanti. Bilik tempatnya banyak menghabiskan waktu itu ingin diubah untuk membangun suasana baru. Rayya mulai menciptakan harapan baru di batinnya. Ia tidak lagi ingin terpuruk. Rayya berusaha menyusun cerita baru yang akan di lewatinya nanti dengan gaya hidup yang berbeda. Segalanya akan menjadi baru. Namun, kebiasaan ini tetap sama, hanya saja, waktu untuk produktif lebih di prioritaskan oleh Rayya. Semua sudah di bersihkan. Ketiga kaktus itu dijejerkan pada rak paling atas. Menurunkan deretan buku yang tadinya memenuhi tempat itu ke rak nomor dua. Agar ada ruang khusus untuk kaktus-kaktusnya itu. Barangkali akan ada yang keempat, jadi nanti tinggal di letakkan disampingnya, batin Rayya. Dia tidak pernah lelah untuk terus memunculkan kemungkinan lainnya.

"have done!" pinta Rayya sambil mengamati dari jauh rak itu.

"Sekalian rak yang ini dong, Ray," Sempat-sempatnya Madun yang ingin keluar pintu cafe untuk mengantarkan pesanan menuju smoking area, mengomentari penataan Rayya. Rayya hanya berseru dengan memajukan bibir bawahnya. Dari balik pintu suara tawa Madun ikut membuat Rayya menyengir. Perlahan sinar senja menyorot masuk memberi bayangan pada rak. Momen seperti ini lah yang di suka Rayya untuk mengamati potret bingkai kayu rak yang baru saja ditatanya itu. Rayya masih mengamatinya, sambil menimbang-nimbang apa yang kurang.

Dari balik sisi dinding kaca, berdiri seorang laki-laki yang tengah mengamati tingkah Rayya dari tadi. Tidak ada yang menyadari keberadaannya disana. Laki-laki dengan luaran Parka berwarna coklat tua dan kaos hitam polos didalamnya. Di bahu kanannya tas sandang berbahan canvas menggantung bebas. Kemudian ia sedikit mendekat ke arah meja disudut ruangan itu dari luar. Melihat, ada secangkir Red Velvet dengan gambar kaktus yang masih utuh disana, lalu tersenyum. Belum tersentuh. Pun sepertinya Rayya juga belum menyadari pesanannya yang telah berada di atas meja. Kemudian laki-laki itu memundurkan langkahnya. Mengeluarkan handphone lalu mengetik sesuatu disana.

Tiba-tiba hape Rayya bergetar. Ia spontan merogoh saku baju nya itu untuk mengecek. Tanpa nama. Nomor baru masuk mengiriminya pesan.

"Jangan terlalu sibuk dengan duniamu. Menoleh lah. Aku disini."

Sontak Rayya memalingkan wajahnya dari layar. Mendapatkan sesosok laki-laki yang berdiri di tengah halaman depan cafe. laki-laki yang di kenalnya lebih dari tiga tahun yang lalu. Rayya terpaku. Sekujur tubuhnya membeku. Telapak tangan dan kakinya mulai dingin. Ia merasakan lututnya mulai lemas. Benda yang berada di tangannya sudah tidak lagi tergenggam kuat. Gemetaran. Matanya panas dan basah. Kini tidak tertampung lagi cairan dari matanya. Air itu terjun bebas menyentuh pipi Rayya yang memerah. Seluruh wajahnya terasa kebas.

Ghafran!

Seketika Ghafran yang menyadari ekspresi Rayya, berjalan secepat mungkin masuk ke dalam cafe. Mendekap perempuan yang sudah tidak berdaya itu kedalam pelukannya. Isakan keras tangisan Rayya teredam disana. Ghafran tidak menyangka melihat kondisi Rayya yang benar-benar tidak mampu lagi menahan rindunya itu. Ghafran memeluknya erat. Menahan tubuh Rayya yang nyaris tidak mampu lagi berdiri. Dari dalam pelukannya Rayya hanya dapat menyebut nama Ghafran berulang kali.

"Hei... Rayya, am here," Ghafran menenangkan. Rayya berusaha mengontrol dirinya. Selama Sepuluh menit ia tidak melepas pelukan itu. Perlahan tangisannya reda. Mereka berusaha untuk duduk agar lebih tenang. Ghafran memulai banyak  percakapan melihat Rayya yang masih banyak diam.

"Rayya, apa saja yang sudah dia ceritakan tentangku selama kita lost contac?" tiba-tiba pertanyaan Ghafran membuyarkan pikiran Rayya yang masih mengambang.

"Dia?" tanya Rayya heran, mulai membuka mulut.


#31HariMenulis

old tasteBaca cerita ini secara GRATIS!