Mataku melihat sebuah benda bercaya medekat perlahan kearahku. Aku berpikir bahwa cahaya itu adalah peri Floss, namun mataku melebar seketika saat aku tahu bahwa cahaya itu hanya seonggok sayap peri yang patah dan semakin lama cahaya itu meredup. Sayap itu melayang di hadapanku dengan terombang-ambing oleh air. Perasaanku menjadi carut marut seketika, marah dan ingin meraih sayap itu dengan hati yang teriris.

Emosiku memuncak dalam level yang mengerikan hingga tanpa sadar tubuhku sudah di selimuti aura putih. Air di sekitarku kembali beriak tak beraturan. Rasanya aku ingin sekali mengamuk, namun sebuah tangan sudah memeluk tubuhku.

"Jangan lakukan itu Ririn,"

Suara Felix membuatku kembali dalam kondisi normal meski hanya beberapa persen. "Peri Floss dalam bahaya."

"Meskipun begitu kau harus tetap selamat."

"Kau pikir aku akan meninggalkannya begitu saja! Aku harus menyelamatkannya."

"Dia mengincarmu! Harusnya kau menyadari posisimu!"

"Tidak. Aku tidak bisa."

"Maaf Ririn, aku harus terpaksa membawamu keluar dari sini."

Tali yang mengikat di tubuhku mulai mengendur dan terlepas namun aku segera berkeliat dari Felix yang berusaha membawaku kepermukaan dengan menyerangnya. Dan bodohnya lagi, aku lupa kalau aku terikat Vinculum dengannya hingga aku merasakan sakit oleh seranganku sendiri.

"Kau sudah kehilangan sebagian energimu. Bisa apa kau!"

Felix meraih tanganku dan menariknya. Sebuah cahaya ungu mulai menyelimuti tubuhku yang mulai kaku. Ia merengkuh tubuhku dan membawaku kepermukaan.

"Felix lepaskan aku," teriaku setelah kepalaku berhasil keluar dari air. "Aku harus menolongnya, dia akan terluka."

"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu dalam bahaya."

"Felix!"

"Diam!"

Aku terdiam seketika sambil menatapnya tak percaya. "Sejak kapan kau menjadi egois seperti ini?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Sejak kapan kau menjadi bodoh seperti ini?"

"Aku harus menolong sesuatu yang harus ku tolong—"

"Dan aku harus menyelamatkan sesuatu yang harus ku selamatkan," timpalnya.

Aku masih menatapnya tak percaya. "Felix."

"Berhentilah untuk menjadi umpan mara bahaya Ririn."

"Tapi—"

"Sudah cukup!" sentaknya sambil mengangkatku keluar dari air.

Aku terduduk di tepi dermaga sambil menatap air yang gelap. Rasanya aku ingin kembali menyelam dan menemukan peri Floss, meski hanya melihat tubuh mungilnya tapi setidaknya aku tahu keadaanya.

"Kau datang kemari bukan hanya berurusan dengan Dendez, tapi kau bahkan berurusan dengan Qlue." Felix terdengar sangat marah dengan nadi bicaranya yang dingin. "Apa maumu? Tidak cukupkah kau hidup sebagai Manusia saja?"

Aku masih terdiam sejenak menatap air. "Dari awal aku memang sudah di incar. Bahkan sebelum aku datang ke Loizh, Qlue sudah mengincarku."

"Jadi—maksudmu Qlue ada di Bumi?"

Aku mengangguk. "Aku tidak menyadarinya. Dia—sangat baik padaku dan begitu perhatian. Tapi—ia sangat membenci Axcel. Dan akhirnya aku tahu bahwa Una dan Qlue memang tidak pernah bersatu."

"Sudah sejauh mana kau tahu tentang mereka?"

"Hanya sedikit. Tapi—aku jadi bertanya-tanya, jika Una dan Qlue di pisahkan oleh hutan dan danau Strix, bagaimana ia bisa muncul di sini?"

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!