Dua Orang yang Berbeda Tetapi Sama

39.3K 1.5K 206

 Dua Orang yang Berbeda Tetapi Sama

Dua orang berlawanan jenis duduk berhadapan di sebuah kedai kopi yang terdapat di suatu pusat perbelanjaan. Yang Pria memesan secangkir kopi hitam. Sementara yang Wanita memesan minuman ringan yang mengandung soda tinggi, sebuah pemilihan aneh mengingat mereka berada di kedai kopi.

Si Pria bernamakan Dewa dan si Wanita Anila.

Dewa merupakan pria berpenampilan menarik. Bertubuh tinggi dengan proporsi badan sempurna yang mana berisi juga berotot luwes seperti halnya perenang andal. Kulit Dewa putih bersih. Berambut cokelat tua kemerahan juga bermata hitam-abu-abu. Berkat sebagian darah orang dari negeri jauh mengalir di tubuhnya.

Lalu Anila, berlawan dengan Dewa atau pun namanya yang menyerupai orang negeri seberang. Fisik Anila meneriakkan kata ‘Indonesia’ di setiap jengkalnya. Dari kulit kuning kecokelatan, rambut hitam panjang, dan mata cokelat kelam yang hampir menyerupai hitam.

Dua orang yang memiliki ciri fisik juga selera yang berbeda, kini saling berhadapan. Membicarakan remeh-temeh yang jika orang mencuri dengar akan bingung apa inti pembicaraan mereka. Hal itu merujuk pada betapa miripnya mereka—dalam hal psikologis—yang mana meski tidak jelas apa yang mereka bicarakan, tetapi keduanya mengerti maksud satu sama lain.

Apa yang mereka lakukan tidak lebih dari sekadar membunuh waktu atau merupakan selingan di waktu sibuk. Tapi di siang ini ada sedikit hal yang berbeda dari biasanya. Entah apa yang mengawali namun Dewa tiba-tiba berkata, “Ayo, kita menikah.”

Di lain pihak Anila yang mendengar …, lamaran Dewa hanya menatap Pria itu dengan ekspresi datar dan tanpa rasa terkejut dengan apa yang baru saja di dengar. Dan selang beberapa waktu kemudian, Anila mengangkat tangannya dengan telunjuk mengacung.

“Wa, ini berapa?” tanya Anila merujuk pada jumlah jari yang ia acungkan.

“Satu.”

“Kalau ini?” Kali ini jari Anila terangkat semua terkecuali ibu jarinya.

“Empat.”

“Planet yang kita tinggali apa?”

“Bumi.”

“Tahu ini warna apa?” Anila mengangkat ponsel pintarnya yang semula ia letakkan di meja.

“Warna kesukaan psikopat; Putih.”

Duk!

Terdengar suara benturan kayu yang bertabrakan dengan kaki Dewa saat Anila menendang tulang keringnya. “Jangan kurang ajar!” kata Anila dengan nada datar. Sebal dengan perkataan Dewa sebelumnya. Sementara Dewa yang ada di depannya meringis merasakan nyeri yang menjalar di kaki.

 “Kamu, enggak mungut makanan dari jalanan ‘kan, Wa?”

 Kini balik Dewa yang berkata, “Jangan kurang ajar!”

Sejenak ekspresi bingung terpasang di wajar Anila. Seakan ia sedang mencari suatu hal dalam ingatan yang mungkin dilupa. Sampai kemudian tangan kanannya terangkat dan berayun ke depan hingga dapat dipastikan Dewa akan mendapat sebuah tamparan jika bukan karena sikap tangkasnya yang menangkap tangan Anila sebelum itu terjadi.

“Mau apa kamu?” tanya Dewa.

“Mau nyadarin kamu,” jawab Anila tanpa rasa bersalah, “yang mungkin masih tidur dan melindur. Karena tadi aku periksa penglihatanmu masih bagus, otakmu juga masih berfungsi—meski aku enggak tahu waras atau enggaknya.”

Dewa tertawa datar mendengar jawaban dan penjelasan Anila. Meski tidak berkata apa pun untuk menyanggah atau membalas perkataan kurang ajar yang baru saja ia terima. Malah menyesap kopi yang kini suam-suam kuku dengan lambat sebelum tersenyum. “Aku serius.”

Mata Alina memicing. Menyuarakan rasa curiga yang terlihat jelas dari raut wajahnya. “Wa, perusahaanmu enggak bangkrutkan?”

Alis Dewa berkerut dalam mendengar itu. Bingung bercampur jengkel atas pertanyaan kurang ajar Anila. “Enggak. Memangnya kenapa kamu tanya begitu? Mau merayakannya?” Sedikit rasa skeptis menyelip dalam suara Dewa ketika itu. Meski pertanyaannya tidak aneh. Mengingat ia dan Anila, dalam dunia bisnis merupakan lawan seimbang dan saling menjatuhkan.

“Mungkin. Tapi pertanyaanku merujuk pada lamaranmu yang …. Men. Cu. Ri. Ga. Kan. Jangan-jangan kamu melamar untuk kemudian mengambil hartaku untuk membayar hutang. Mengambil organ dalamku. Atau menjebloskan aku dalam prostitusi.” Kedua tangan Anila menangkup wajahnya. Berpura-pura takut dengan buah pemikiran yang baru saja ia utarakan. Lain halnya dengan sinar mata yang cerah, menyorot kegembiraan.

“Atau aku akan jadikan kamu barang pertukaran untuk semua teknologi dengan alien yang mendarat di Bumi,” Dewa menambahkan dengan kejengkelan yang semakin terlihat jelas.

“Atau kamu mau ngejadiin aku tumbal jejadian untuk pesugihan.”

“Bukan!” sergah Dewa, “aku bakal menjadikan kamu babi ngepet.”

“Huh!” dengus Anila sambil mencebik, “aku terlalu manis untuk jadi babi ngepet. Itu lebih cocok untuk kamu. Nanti kalau kamu berubah, aku mau kok jagain lilinnya.”

“Enggak. Kamu cocok kok. Kamu kecil jadi bisa nyalip-nyelip kalau dikejar warga sekampung. Tapi, meski begitu, aku mengajak nikah bukan karena ingin begitu—meski jujur aku ingin melihat kamu saat jadi babi. Aku serius.”

“Wa, kamu enggak cinta ‘kan sama aku!?”

“Ya. Tapi aku suka. Mungkin yang paling kusuka di antara semua mahluk di bumi.”

“Dan kamu bukan mau nikah karena ada maksud lain ‘kan? Seperti untuk mendapatkan warisan kamu harus nikah, atau mau balas dendam, atau apa, atau apa begitu ‘kan?”

“Kamu terlalu banyak membaca novel picisan, Jendral!” seru Dewa sambil menarik hidung Anila, “aku cuma ingin menikah. Ingin merasakan kehidupan berumah tangga. Sesederhana ini.”

“Keinginanmu feminin sekali. Tapi aku mau kok menikah dengan kamu.”

Dua Orang yang Berbeda Tetapi Sama - Selesai

Rumah TanggaBaca cerita ini secara GRATIS!