Gue udah siap nyari posisi enak. Minuman di meja, hp gue tergeletak manis di sebelahnya, dan gue siap meneruskan membaca novel gue yang tertunda, Norwegian Wood-nya Haruki Murakami. Gue gak bisa gak jatuh cinta sama setiap paragraf yang dia tulis. Terlalu epic buat dilewatkan.

Gue memang jadi suka baca sejak masuk kuliah. Padahal jaman sekolah, gue mana pernah betah buka buku lama-lama apalagi buku pelajaran. Tapi karena fakultas gue memaksa gue harus baca buku, akhirnya gue paksakan dan sekarang malah jadi demen. Walaupun harus dibayar dengan mata gue jadi minus karena keseringan baca buku sabil tidur atau baca e-book.

"Adrio?" Satu suara membuyarkan mood membaca gue. Karena suara tersebut adalah suara yang selalu gue harapkan akan mengisi kehidupan gue kelak.

"April? Loh, hai!" God loves me.

April langsung duduk sebelah gue, gue gak nolak juga sih.

"Sendirian?"

"Yup, aku gabut di apartment, Regan lagi ke gereja, jadi kesini deh. Kamu sama siapa?"

"Sendiri, tadi abis ketemu temen."

"Oh, jadi ini mau pulang?"

"Awalnya, tapi ketemu kamu jadi ditunda, ah, pulangnya. Eh, tapi kalo kamu mau sendiri-"

"Nggak kok, hehe." Maaf ya Norwegian Wood, gue baca lo besok besok lagi.

Gue udah cerita belom kalo April looks effin' good with messy bun? Bahkan, gue mau liat dia dengan messy bun-nya setiap hari. Rambut hitamnya keliatan halus terus kayanya wangi sih, wangi apa ya— 

 Rambut hitamnya keliatan halus terus kayanya wangi sih, wangi apa ya— 

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Wait, why do I sound like a stalker?

"Heh," April nepok lengan gue. "Ngelamun mulu sih? Are you okay?"

Gimana mau fine kalo ada lo yang mekanisme kerjanya sama kaya epinephrine?

"Hah? I'm fine kok, hahaha. Kamu emang abis ketemu siapa?"

"Temen jaman SMA. Awalnya mau jalan-jalan tapi terus pacarnya masuk RS jadi dia langsung nyusulin."

"Yah, sedih."

"Biasa aja sih."

"Hahaha."

"Kamu demen pergi sendiri ya?"

"Sometimes. Kadang males aja gitu sama anak-anak ke mall harus ngikut kemana mereka jalan. Padahal aku pengennya kemana,"

"Satria, Brian, Marva, Damar kemana?"

"Weits, apal banget, bu." Gue seneng banyak kalo dia ternyata hapal temen-temen gue. "Satria pergi sama pacarnya. Brian sama Damar ke gereja. Marva ada sih kayaknya di apartemen dia,"

"Hapal, karena cuma kalian residen yang setiap aku temuin suka nyanyi-nyanyi. Brian apalagi."

"Tapi demen juga."

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!