Chapter 19: Just Missunderstanding

Mulai dari awal

"Bisakah kamu menjawab pertanyaanku dulu sebelum bertanya hal lainnya?"

"Ini bukan tentang masalah lain ini tentang putri kecilku." Jawab Ha Jin dengan nada cukup tinggi.

Mata Joon So memerah, emosinya memuncak. "Aku tidak pernah menduga, kamu memiliki seorang anak dengan Jung."

Ha Jin kaget mendengar kata-kata Joon So. Ia memandang Joon So dengan tatapan marah. Kini ia tahu arah pembicaraan Joon So saat ia bilang tentang pengkhianatan.

"Katakan dengan jelas padaku. Apakah dia anakmu dan Jung? Apakah dia lahir sebelum waktunya? Dia lahir di bulan ke tujuh kan? Tak ku sangka setelah meninggalkan istana kau meninggalkan ku dalam kesepian tapi kamu berbahagia dengan Jung."

PLAK

Hajin menampar pipi Joon So dengan amarah. Ada rasa sakit yang menusuk dadanya.

Joon So yang ditampar memegang pipinya sambil tersenyum. Kemarahan Ha Jin menjadi tanda bahwa dugaannya salah. "Melihat kau marah padaku, aku malah merasa senang. Berarti dugaanku salah bukan?"

"Bodoh, perlukah kamu menanyakan itu? Kamu benar-benar melukaiku."

"Seol, dia anak kita. Benar?" Joon So kembali bertanya untuk memastikan. Kali ini Ha Jin mengangguk, "Aku akan benar-benar marah jika kamu tidak mempercayainya."

Joon So memegang bahu Ha Jin, "kenapa kamu menyembunyikannya dariku?"

"Kamu lebih tahu jawabannya. Kamu tahu bagaimana aku menderita hidup di istana? Aku tidak ingin anak itu menderita seperti diriku. Aku memilih untuk menitipkannya pada Jung yang berada di luar istana."

"Apakah itu alasanmu meninggalkanku dan memilih menikah dengan Jung?"

"Jika aku tidak memiliki Seol apakah mungkin aku meninggalkanmu?"

"Jung tidak pernah mengungkap siapa Seol. Aku tahu dia anakku tapi terkadang aku mencurigai bahwa dia memang anaknya. Karena aku melihat bagaimana kamu begitu dekat dengan Jung."

"Apakah kamu diam-diam memperhatikanku di kediaman Jung?"

"Aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Sampai aku begitu sakit dan kecewa melihat kedekatanmu dengan Jung. Aku memilih menyimpan rasa sakit dan cemburuku dengan berusaha sibuk dengan urusan istana."

Ha Jin tersenyum ada rasa lega yang ia rasakan. Beban di dadanya terasa menghilang seketika. "Kamu tahu aku selalu beranggapan kamu benar-benar membenciku. Tidak terhitung banyaknya surat yang ku kirimkan, tidak satupun kamu balas. Tidak sekalipun kamu datang."

"Suratmu aku baca tepat dihari kepergianmu. Aku tidak tahu surat dengan amplop tulisan tangan Jung ternyata adalah surat darimu. Kamu tahu aku selalu marah dan menyimpan surat itu tanpa membacanya karena ku pikir Jung ingin memamerkan kemesraannya denganmu."

Air mata Ha Jin mengalir deras. Perasaan mengganjal dihatinya kini telah menghilang. Joon So mengingat hampir semua ingatan Wang So. Kini ia tahu Wang So tidak pernah membencinya, dan tetap mencintainya. Wang So yang sedari awal tidak pernah berubah.

Joon So mengusap air mata yang mengalir dari mata Ha Jin, "Jangan menangis hatiku menjadi sakit melihatmu menangis. Apakah selama ini kamu menganggap aku benar-benar membencimu?"

Ha Jin mengangguk dengan air mata masih mengalir.

Joon So tersenyum dan menjentikkan jarinya di dahi Ha Jin kali ini sangat lembut, "Bodoh, Joon So ataupun Wang So tak akan pernah berubah. Dia mencintaimu dengan seluruh hatinya. Bagaimana dengan Hae Soo?"

"Kamu tidak membaca suratku? Aku mengatakan dengan jelas, semenjak kamu membentangkan jubahmu ditengah hujan saat semua meninggalkanku. Saat kamu melindungiku dari anak panah dengan tubuhmu. Kamu sudah memiliki seluruh hatiku. Tidak akan pernah ada orang lain yang bisa mengisinya lagi." Jawab Ha Jin agak bergetar karena masih dengan tangisnya.

"Salah paham. Semua salah paham ini telah selesai kan?"

Kali ini Ha Jin tidak menjawab dan memilih melingkarkan tangannya di leher Joon So dan menyandarkan kepalanya di bahu Joon So tidak peduli Joon So yang basah kuyup karena sudah diguyur hujan.

Perlahan hujan berhenti, halilintar terdiam menemani kepergian hujan. Bulan mulai menampakkan sinarnya yang terang benderang menerangi sepasang manusia yang telah menghilangkan beban dihatinya masing-masing. Malam kembali hening hanya ditemani tetesan perlahan sisa air hujan dari pepohonan. Cahaya bulan menampakkan sinarnya yang lembut menambah indahnya malam itu.

to be continued . . .

NB: jangan lupa vote dan komentar ya, maaf kalo masih ada typo atau ceritanya kurang memuaskan, kritik dan saran sangat ditunggu..

Tinggal satu chapter... ^^

Moon Lovers Scarlet Heart Ryeo (Seoul) Season 2 (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang