Sixteen

7K 216 5

"Alfredo, kau harus cukup tangguh dariku untuk mempertahankan Fienna. Selama kau masihlah bocah yang tidak mampu apa-apa, jangan mencoba mempertahankan cintamu pada Fienna." Gumam Robert sambil melipat tangannya di dada.

"Apa jadinya bila headline media bisnis dihebohkan oleh berita *Putra Tunggal & Pewaris McLean Company Melakukan Hal yang Tidak Senonoh di Kampus*? " Robert menampilkan smirk -nya.

*******

. . .

"Halo, Pak! Kami sudah mengirim ulang bukti foto seperti yang Bapak minta." Kata sang detektif melalui telepon.

"...." Robert tidak menjawab. Dia malah memutuskan sambungan telepon.

Lalu, dia menelpon resepsionis di lobby bawah untuk membawakan foto itu ke ruangannya.

"Aku ingin foto itu dibawa ke ruanganku secepatnya!" Perintah Robert dengan bossy.

Tok tok tok

Resepsionis cantik itu berjalan memasuki ruang kerja Robert sambil membawa foto-foto itu. Ia baru pertama kali bertemu dengan Robert yang notabene merupakan pemilik perusahaan. Melihat paras Robert yang tampan, resepsionis itu mencoba mendekati Robert.

 Melihat paras Robert yang tampan, resepsionis itu mencoba mendekati Robert

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dia menegakkan tubuhnya dan berjalan dengan gaya anggun yang dibuat-buat. Ia meletakkan foto-foto itu di meja Robert dengan membungkukkan badannya. Ia sengaja melakukan itu untuk menggoda Robert. Dia tau benar bahwa saat menunduk, bagian dadanya akan terekspos.

Robert melirik bagian dada resepsionis yang dengan terang-terangan menggodanya itu, kemudian tersenyum miring.

"Bersenang-senang sebelum kemenangan mutlak rasanya tidak buruk. Lagipula resepsionis ini tubuhnya lumayan." Pikir Robert.

Robert menatap resepsionisnya itu dan menarik tangan sang resepsionis sebagai sinyal bahwa dia tertarik. Resepsionis itu langsung duduk di pangkuan Robert.

Resepsionis itu tersenyum genit, lalu memberanikan diri mencium bos-nya. Robert tidak menolak ciuman itu. Tangannya reflek bergerak ke arah sesuatu yang sedari tadi menarik perhatiannya.

Perlahan resepsionis-nya itu menjadi semakin berani karena tidak mendapat tanda penolakan dari Robert. Jemarinya menyusuri lengan Robert yang masih terbungkus kemeja naik turun. Robert terbuai, ia pria normal yang tidak mampu menolak dorongan hormon.

Kemudian, kondisinya sama seperti yang kalian perkiraan. Mereka making out di ruang kerja Robert tanpa memperdulikan CCTV yang masih menyala menyorot mereka. Robert berpikir karena dia pemilik perusahaan itu tidak masalah jika hanya pegawainya yang melihat kelakuan bejatnya.

Resepsionisnya itu melenguh dan berpegangan pada Robert. Dia tampak menikmati permainan Robert. Meskipun dia tau bahwa bos-nya hanya bermain-main dengannya, tapi dia tidak keberatan.

"Siapa tau setelah ini gajiku akan dinaikkan. " Pikir resepsionis itu.

Robert terhanyut dalam permainan itu sampai lima belas menit, lalu setelah dia merasa puas dia berhenti.

"Kenapa berhenti?" Tanya resepsionis itu.

"Kau! Kembali bekerja!" Perintah Robert dengan tegas.

Lalu, Robert baru teringat sesuatu. Ia harus menyerahkan foto-foto itu pada Edo agar berita itu segera dibuat dan dipublikasikan.

"Tunggu, tolong bawa foto ini ke ruangan Pak Edo!" Robert menyerahkan foto itu pada resepsionis itu.

Resepsionis itu merapikan penampilannya, lalu keluar dari ruangan Robert. Ia tidak berani melawan Robert walaupun ia merasa sedikit kesal. Resepsionis itu belum siap kehilangan pekerjaannya saat ini. Oleh karena itu, dia menuruti semua perintah Robert.

"Kalo ujung-ujungnya fotonya mau dikasih ke Pak Edo tanpa diliat sama Pak Robert, buat apa coba gue kesini?"
Sungut resepsionis itu dalam hati.

Robert merapikan kemejanya yang sedikit kusut karena permainan tadi. Lalu, dia mengirimkan data-data tentang Alfredo ke e-mail Edo. Dia mengirimkan pokok-pokok berita untuk dibuat oleh Edo.

*******

Edo sedang menandatangani berkas perusahaan tentang kontak baru perusahaan dengan para investor. Edo membaca dengan teliti setiap lembar dokumen itu. Seluruh konsentrasinya tercurah pada baris-baris kalimat berbahasa inggris itu.

"Mmm." Edo mengerutkan keningnya dan menganalisa dokumen itu. Dia berusaha bekerja dengan sempurna dan tanpa cacat agar dapat tetap bertahan di perusahaan ini.

Sebuah notifikasi e-mail masuk membuyarkan konsentrasi Edo. Edo segera membuka e-mail karena takut isi e-mail itu penting. Saat Edo membuka e-mail itu, ia langsung meninggalkan tumpukan dokumen yang sedang dikerjakannya.

Edo memfokuskan pandangannya pada layar komputer dan meneliti data Alfredo. Dia mengetik kata demi kata menjadi sebuah artikel.

Benarkah Ini Sikap Seorang Alfredo McLean di Kampus?!

Begitulah judul artikel tersebut. Di dalam artikel itu, Edo memuat beberapa foto dan juga kronologi berita itu muncul. Sebagian besar kronologi itu adalah hasil karangannya. Namun, Edo sudah menyesuaikan karangannya dan info yang ia dapat dari detektif Robert.

Di artikel itu tertulis,"Menurut salah satu saksi, Alfredo terlihat bersama seorang gadis di daerah belakang kampus yang sepi. Alfredo yang merupakan mahasiswa dan putra pengusaha pemilik McLean Company itu tampak melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan di tempat menimba ilmu tersebut.

Kemudian, di bawah tulisan tersebut dicantumkan bukti foto Alfredo sedang mengurung seorang gadis dengan kedua lengannya. Gadis itu dalam posisi bersandar pada tembok dan Alfredo mencondongkan badannya ke arah si gadis. Wajah gadis itu diburamkan sehingga orang-orang tidak bisa mencari identitasnya. Hal itu merupakan perintah langsung dari Robert. Dia tidak ingin Fienna disangkut pautkan dalam berita itu.

Setelah Edo merasa artikelnya sudah sempurna, ia menyunting beberapa bagian dan merapikan tulisannya. Lalu, dia mengirimkan hasilnya kepada Robert melalui e-mail. Rencananya, Robert-lah yang akan melakukan langkah terakhir untuk rencana ini yaitu menghubungi pihak media bisnis agar mereka memasukkan artikel itu ke dalam majalah atau website mereka.

Awalnya, editor media bisnis itu menolak mentah-mentah artikel Robert karena tidak mempercayai keakuratan berita yang bahkan narasumber, saksi, dsb saja tidak jelas. Namun setelah uang, koneksi, dan kekuasaan ikut campur dalam hal itu, tidak ada lagi penolakan. Bahkan pihak media itu bersedia memuat artikel itu selama 3 hari berturut-turut.

*****

Keesokan harinya. . .

Ketika orang-orang membaca artikel itu dan berita menyebar. . .

TBC

Maaf part-nya pendek😫😫
Thx for reading
Sorry for typo
Hope you like this part.

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!