Jantungnya berdegup kencang, cewek ini memegang erat tali rafia yang tergantung di bahu kanannya, ia menelan ludah dengan susah payah, menatap gerbang kokoh yang bertuliskan SMA Sevit Bandung di atasnya.

Tentu saja dia gugup, ini adalah hari pertamanya mengikuti kegiatan MOS di sekolah barunya. MOS sendiri adalah singkatan dari Masa Orientasi Siswa. MOS di adakan hampir di seluruh sekolah di Indonesia, dan seperti sudah menjadi tradisi, para pesertanya harus mengenakan pakaian aneh dengan peralatan yang tidak masuk akal untuk dibawa. Salah satunya seperti tas dari kresek hitam yang sedang di pegang gadis kecil yang bernama Aluna Amanda Nindiatama itu.

"Aluna!" panggil seorang cewek dari arah belakang.

Cewek yang di panggil itu menoleh, melihat ada cewek lain yang berlari susah payah ke arahnya. Dia Radela Mila Putri atau biasa di panggil Rara. Sahabat Aluna sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Gue kira gue telat." Ucapnya membungkuk dan memegang lututnya.

"Emang udah telat kali, Ra!" seru Aluna, wajahnya mengernyit.

"Serius, lo?" tanya Rara yang tak percaya, ia melihat jam tangannya. Pupil matanya membesar, ketika ia mengetahui kalau jam tangannya rusak.

"Ya, ampun! Kok gue bego, sih?" pekik Rara, "Jam tangan gue rusak."

Aluna menghela nafas pelan. "Ya udah, kita langsung masuk aja, yuk? masih ada waktu buat isi absen."

Rara mengangguk sebagai tanda jawaban. Kedua cewek itu berlari masuk ke dalam sekolah yang sangat luas itu.

Dengan sedikit tergesah-gesah kedua cewek itu berlari menuju aula yang ada di belakang sekolah. Keduanya sedikit kesulitan berlari, karena membawa peralatan yang begitu banyak di kreseknya, mereka takut kresek itu robek jika mereka terlalu terburu-buru, sementara di sisi lain mereka juga sangat takut jika terlambat masuk. Tentu saja mereka tidak ingin mendapatkan masalah di hari pertama Ospek, terutama Aluna.

Rara berlari dengan sangat cepat, membuat Aluna kesulitan mengejarnya, sampai akhirnya Aluna tidak sengaja menabrak bahu seorang cowok yang sedang berjalan dari arah yang berlawanan.

"Auch!" ringis Aluna, langkahnya terhenti ketika bahunya menyentuh bahu cowok itu, begitupun cowok yang di tabraknya.

Aluna membalikan badannya, menatap cowok yang berdiri di belakangnya. Untuk beberapa saat Aluna terdiam takjub melihat cowok berkaus hitam itu.

Badannya tinggi, kulitnya putih, rambutnya sedikit kecoklatan, dan sebenarnya yang membuatnya terkejut adalah bola mata cowok itu. Ia memiliki bola mata berwarna hijau terang.

"Sorry." ucap Aluna kikuk. "Gue gak sengaja."

Cowok itu tidak menjawab hanya diam menatap Aluna yang panik karna sudah menabraknya.

"Lo gak apa-apa, kan?" tanya Aluna seraya memegang bahu cowok itu, namun dengan cepat cowok itu menepis tangan Aluna. Membuat Aluna tersentak karena terkejut.

"Kasar banget sih!" ujar Aluna memegang tangannya yang ditepis tadi.

Cowok itu masih mematung, tidak menjawab atau merespon apapun yang Aluna katakan, bahkan suara napasnya pun tidak terdengar.

Aluna berdecih. Tanpa banyak berkata lagi ia pergi meninggalkan cowok itu dan mengejar Rara yang sudah hampir sampai di depan Aula.

Dasar aneh. Ucap Aluna dalam hatinya.

Aluna berhasil mengejar Rara. Mereka berdua mendekat ke panitia yang sedari tadi duduk di depan pintu aula.

"Kalian, kenapa baru datang?" tanya seorang panitia perempuan berkaca mata.

SENIORBaca cerita ini secara GRATIS!