"Dia nunjukkin lambang salah satu kampus, gue mikir ke arah situ lah. Kayanya dia ikut salah satu ukm dan di situ dia dianiaya."

"Kok pake kabur segala?"

"Kata gue sih.." Gue bukan bungkusan mayasi favorit gue. Dio di depan gue sambil makan indomie kuah dan nyomot kacang mayasi gue. "Dia lagi pelatihan dan kabur, mungkin lelah."

"Hmm... terus mau lo apain?"

"Gue mau buka itu tangan sama kakinya, gue benerin. Tapi lagi nunggu hasil lab dulu, lo ngapain aja dari tadi?"

"Bobo,"

"Yo, jadi gara-gara apa lo sampe nonjok cowoknya April?" Gue nunjuk perban di pipi dia. Perasaan gue seorang Ganesha Adrio Wirawan kagak bisa berantem, walaupun gue ajarin muay thai.. Dia dapet kekuatan dari mana bisa mukul orang kaya gitu, kekuatan cinta mungkin ya.

"Ada pengamen yang ngegodain April kemaren,"

"Pengamen sebrengsek apa lo sampe ditonjokkin balik?"

"Pengamennya abis konsumsi heroin."

"Asu, lo, Yo. Jangan bohongin gue."

"Dih, ya udah kagak perca—hey, April?"

Gue nengok. April udah nangkring di belakang gue, bawa kertas hasil lab. Gelagat April kayak orang gelisah, pengen buru-buru kelar walaupun air mukanya masih terlihat biasa aja.

"Udah keluar hasilnya? Woy?"

April langsung kesentak gue 'woy'-in. "U-udah, bang. Anti-HIV negatif, HbSAG negatif, Hb nya 14."

"Sip, siapin buat operasi, ya. Eh, Yo lo mau iku—HAH lo gak bisa ikut ya,"

Gue liat Dio curi-curi pandang ke April dan April kayak udah gak betah ada disini. Kayaknya gue mesti cari tau nih Dio babak belur gara-gara apa dan gue tahu harus nanya siapa. Tidak mungkin cuma gara-gara pengamen doang Adrio sampe babak belur gini—well, mungkin aja sih. Tapi kalo pun iya, pasti April juga gak bakal gelisah kayak gini. 

"April, lo jadi asisten ya."

"Hah? T-tapi kan-"

"Ntar gue bilang sama dokter Bil, udah, lo jadi asisten gue."

**

"Spill," Gue udah di kamar operasi sama April. We are opening my patient's arm, currently fixing his arms. Kacau sih ini, kalo lo mau liat sini, udah ancur banget persambungan tulangnya, ngaco parah. Ini patahnya udah berbulan-bulan dan gak pake gips, terus nyambung aja ngasal. Jadi gak lurus begini. Kalo udah kaya gini makin susah dibenerinnya dan biasanya hasilnya juga gak sempurna

"Spill?" April balik nanya.

"Tentang lo dan Dio."

"Ki-kita-"

"You can freely talk in here, what happen in this room stay in this room. The nurses won't give a fuck either."

April keliatan masih ragu-ragu buat cerita. Tapi gue mesti tau. Adrio itu sahabat gue, dan dia suka sama April. Gue mesti ngecek ini cewek apakah cewek baik-baik buat Adrio. Asal kalian tau ya, Adrio ini gampang dapet cewek tapi dapet cewek yang bisanya ngebegoin dia doang. Gak tau dia emang bego apa gimana.

"Jadi?" Gue mengulang pertanyaan gue sambil pasang skrup di alat bor gue. "Air dong, sambil dibasahin tulangnya."

"It's just, shit happens. We were accidentally met when some shits happens to me and it turned that..he helped me get out from it." Kata dia sambil masih nyiramin tulang yang mau gue pasang skrup.

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!