Brian

Eh, hai! Lo semua disuruh Dio ngikutin gue ya hari ini? Si Dio lagi kena skors gak bisa ikut operasi sampe 3 hari ke depan. Kerjaan dia cuma ngerjain jurnal doang dan pasti gak rame. Ya udah, ikut gue aja. 

Ehem, gue Brian Setyo Bramantya, residen ortopedi tahun ketiga. You probably heard about me from Dio. Ngaku? Hahaha, semoga dia gak cerita yang aneh-aneh. Kehidupan gue juga gak jauh-jauh dari kamar operasi sih, ya, paling ditambah sama IGD dan poliklinik bedah tulang. Eh, gue bukan 'bengkel tulang' yang sering ada di daerah-daerah terpencil ya. Please, itu cuma mereka yang nyoba ngobatin orang dengan bantuin ilmu antah berantah tanpa ada penjelasan medis. Jadi, gue saranin kalo kalian punya masalah tulang yang serius, ke rumah sakit aja, cari dokter Brian, hehe.

"Bro, kasus tuh." Gue baru masuk IGD langsung disambut ramah sama Damar yang nunjuk ke arah ruang tindakan bedah. Gak lama, April nyamperin gue.

"Pasien baru, bang. Laki-laki sekitar 16 tahun, dibawa sama warga dari perkebunan sekitar. Mereka nemuin pasiennya ini udah banyak luka di badannya, dan lihat rontgen antebrachii sama cruris nya..."

April memasang dua foto rontgen tangan dan kaki pasien di rontgen illuminator, sebuah alat pembaca foto rontgen dengan bantuan lampu LED di dalamnya. 

"Ini frakturnya udah lama?  I can tell, fraktur tibia nya baru. Tapi kalo fraktur radius dan ulnar nya-"

"Ada yang aneh sama bentuk radial head-nya gak sih, bang?"

"Yap, ini pasiennya udah pernah patah tapi gak sembuh sempurna. Liat deh periosteal reaction di radiusnya, aneh."

"Bisa gak, kalo gak pernah diobatin, which is, gak pernah pergi ke ortopedi atau gak pernah di-gips.."

"Bisa aja, emang kenapa pasiennya?"

"Kita ngeliat banyak banget luka akibat benda tumpul di wajah dan badannya.. he looks like he ran away from someone," She turned down her volume.

Gue ngelirik April lalu ngecek status pasiennya. "Gak ada identitas?"

"Gak ada."

"Keluarga?"

"Nope."

Gue masuk ke ruang tindakan dan menghampiri bed pasien itu. Di wajahnya banyak bekas luka, kayak luka akibat benda tumpul. Mata sebelah kiri bengkak, I can see someone just punch his face. Damn, who did this?

"Dek?"

Pasien tersebut nengok. Sorot matanya ketakutan. Gue yakin pasien ini korban pemukulan, cuma yang masih jadi misteri, siapa yang mukulin dan maksudnya apa. Gue periksa bola matanya.

"Konsul mata dong, ada hifema kayanya nih." Gue perintahin April yang berdiri di samping gue. "April, lo bareng sama gue aja hari ini di orto. Lo yang tau pasien ini kan."

"Iya, bang."

"Dek, punya nama?"

"P-punya, dok.."

"Siapa namanya?"

"G-Gatra, dok.."

"Darimana asalnya?"

Pasiennya gak ngejawab cuma dia berusaha meraih sesuatu di dada kanannya. Ternyata dia nunjukkin sesuatu. Gue coba liat logo yang ada di bagian kanan polo shirt dia. Logo itu menunjukkan salah satu lambang universitas.

"Lo abis lari dari siapa?"

**

"Demi apa lo yakin kalo dia korban aniaya?"

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!