Dendez menoleh kearahku dengan tatapan tajam. "Barusan itu kau menyerang dirimu sendiri? Bagaimana kau melakukannya?"

Aku bersyukur karena pikiranku tidak ikut terikat dengan Dendez dan itu membuatku merasa lega karena tampaknya ia tidak menyadari keberadaan peri Floss di saku jubahku.

Sebuah cahaya melesat dan menghantam Dendez dengan keras dan tepat mengenai dadanya. Aku terbatuk dengan menahan nyeri yang sangat luar biasa di dadaku hingga ke punggung, membuatku memekik kesakitan lagi.

"Sebelum kau melenyapkanku, aku yang akan lebih dulu melenyapkanmu Dendez!" desis Felix.

"Alex hentikan!" teriakku.

Felix berhenti dan menatapku heran. "Kenapa kau menghentikanku?"

Dendez tertawa begitu membahana. "Ada apa Alex? Kenapa kau berhenti menyerangku?" Dendez mulai berdiri. "Seranglah aku! Ayo serang aku hahahah."

Felix kembali melesat dan kali ini ia menyerang Dendez dengan sungguh-sungguh.

"Alex kumohon hentikan!" teriakku lagi.

Namun Felix tidak mendengarkan teriakanku. Ia berhasil menyerang Dendez dengan Ulqinya yang semakin kuat. Tubuhku terasa di hantam begitu keras lagi dan lagi hingga aku mulai mati rasa karena rasa sakitnya.

Felix menghampiriku dengan khawatir. Tatatapannya begitu nanar saat melihat tanganku di penuhi goresan Vinculum.

"Jadi ini yang membuatmu mencoba untuk menghentikanku? Bagaimana bisa ia melakukan ini padamu?" gumamnya dengan rahang mengencang dan memelukku. "Maafkan aku Ririn."

"Felix," bisikku lemah.

Dendez mendengus tertawa perlahan dan tawanya semakin keras dengan sedikit pekikan rasa sakit yang menderanya. Aku bisa merasakan sakitnya yang membuat nafasku terasa sesak.

"Apa kau mau melenyapkanku sekarang juga?" Ucapnya diselilingi tawa. "Kau akan kehilangan kekasihmu lagi Alex. Lihat! Dia sama sekaratnya denganku."

Felix terdiam, tapi tangannya mengepal dan mencengkram jubahku pertanda emosinya mulai terpancing. "Maafkan aku Ririn. Aku terpaksa harus melakukan ini agar aku bisa membawamu pergi."

Gumamannya terdengar samar di telingaku tapi aku tahu maksudnya. Felix menggedongku dengan satu tangan sementara tangan yang lainnya sudah mengeluarkan Ulqi dengan cahaya yang berpendar. Aku sempat melihat Ulqinya sekilas namun aku merasa ada yang aneh. Warnanya sedikit berubah dari biasanya dan aku tidak tahu apa penyebabnya. Biru cerah khasnya semakin lama mulai memudar menjadi sedikit lebih putih.

Tubuhku tersentak dengan pekikan menahan sakit. Felix kembali menyerang Dendez dan itu berimbas di tubuhku. Kini aku terkulai lemas di dalam pelukan Felix dan melesat bersamanya. Hembusan angin yang menerpa wajahku memberi tanda bahwa saat ini Felix berlari dengan cepat sekali dan entah membawaku kemana.

Aku memejamkan mataku dan membiarkan diriku semakin terkulai di dalam pelukannya sementara ia semakin erat merengkuhku.

"Felix," bisikku lagi.

Tidak ada jawaban, entah ia tidak mendengarku atau sengaja tidak mau menjawabku.

"Felix." Kali ini aku mencoba untuk mencengkram bajunya dengan melawan Ulqi yang masih melekat di tubuhku.

"Sebentar lagi kita sampai." Suaranya terdengar bergetar. "Kumohon bertahanlah."

"Aku sudah terikat dengan Dendez, sejauh apapun kau membawaku ia akan tetap mengetahui keberadaanku," gumamku lemah.

"Aku tidak perduli asal kau bersamaku. Lagi pula, kenapa kita harus kembali terjebak di tempat ini?"

"Apa kau menyesal telah kembali kemari? Bukannya kau seharusnya senang telah kembali ke tempat asalmu?"

Loizh III : ReinkarnasiBaca cerita ini secara GRATIS!