EQUALIZATION 4

73 18 14




"Dengan ini rapat dinyatakan selesai," kata Alawen tegas.

"Hei, tunggu dulu ! kenapa pertanyaanku tidak dijawab?" cegah Caldre sedikit kesal.

"Dasar otak siput !" ucap Zita mengejek.

"Kau selalu saja menghina orang sembarangan nenek tua !" balas Caldre.

"Apa kau bilang?" ujar Zita menggeram.

"N-E-N-E-K T-U-A," kata Caldre dengan mengejakan hurufnya.

"Beraninya kau ! kakek-kakek kerempeng !" balik Zita.

"Sudahlah Zita, tak usah digubris!" seru Alawen.

"Baiklah... kami bertiga undur diri. Salam !" tutur Asta seraya menundukan kepala dengan diikuti Ivanka dan Raimund

"Salam," Sambut yang lainnya.

*ceklik

          Malam semakin larut. Semua orang pun telah terlelap kecuali petugas keamanan yang masih berkeliaran di area Pilis Academy. Dalam hening, senyap-senyap suara langkah kaki para penjaga keamanan dibiarkan menguasai pendengaran.

          Di sisi lain dedaunan berbisik satu sama lain dengan diselingi buaian angin yang menyentuh ranting mungilnya. Bulan pun tak hentinya memancarkan aura mistik yang tajam dan dengan riangnya ia menyelimuti kegelapan malam yang melanda.

          Selain itu, jarum jam bagaikan busur yang terus melepaskan anak panahnya. Satu pergesesan, perlahan dan berdetak seperti jantung manusia. Keberadaan angka di sekelilingnya mengarahkan waktu dalam dunia fana. Berputar tanpa peduli apa dan seberapa banyak yang sudah dilakukan oleh manusia. Roda kehidupan yang membawa kantung misterinya menyembunyikan segala hal yang akan terjadi. Ya! Segalanya, segala seuatu yang muncul di masa depan. Sebuah impian,harapan dan keinginan yang entah bisa tercapai atau tidak.

          Hawa berubah menjadi sedikit terasa dingin. Embun menerobos masuk melalui lubang ventilasi tanpa ijin dan berusaha melambai-lambai di pelupuk mata Ivanka, seakan memaksanya untuk bangun. Namun, Ivanka terus menggerang sebagai tanda bahwa ia masih ingin tidur. Hembusan angin membuat tirainya bergerak mengusik Ivanka dan ia sekali lagi menggerang, tapi keadaannya bertambah tidak nyaman karena tirai yang tiada henti mengusik wajahnya.

*aaarrrrggghhh

          Menggarukkepalanya yang tidak gatal dan ia mencoba membuka mata untuk melihat jam yangterletak tak jauh di atas meja dekat ranjang tidurnya.

"Sialan! sudah pukul 4! aku harus bergegas kalau tidak aku akan terlambat mengikuti upacara keberangkatan," Pikirnya.

           Di ruang lain, di area utama Pilis Academy. Ruangan yang terdapat setelah awal pintu masuk telah ditata dengan sedemikian tertibnya untuk upacara keberangkatan Nakaly. Semua orang juga sudah berkumpul dan menunggu jalannya upacara dengan tenang. Setiap prajurit telah siap siaga menantikan kedatangan para Vadovas dan Nakaly.

"Siiiaaaaap!" lugas salah satu komandan beraba-aba. Dan semua orang yang berada di ruangan itu berdiri tanpa pengecualian, "Beri hormat!" lanjutnya.

"Salam!" serentak semuanya memberi penghormatan pada para Vadovas dan juga Nakaly yang baru saja memasuki ruangan.

           Vadovas dan Nakaly membalasnya dengan melontarkan senyuman bermatabat. Setelah Vadovas dan Nakaly telah mendapati tempat duduknya, mereka yang bediri pun kembali terduduk. Tak lama kemudian upacara dimulai dengan dibuka oleh Dovas Apsaugoti Stiprumo Plieno salah satu Vadovas termuda dan satu-satu nyaperempuan di kalangan Vadovas saat ini.

BALTA PERLAS ANDLASIA (PERMATA PUTIH DARI ANDLASIA)Baca cerita ini secara GRATIS!