6

18K 1K 3

"Ada apa derek?" Maxim baru saja masuk ke dalam kamar di mana Carissa berada, sembari menerima telepon dari Derek.

"Varrel mulai mencurigaimu. Kau harus berhati-hati. Si bangsat itu sudah menyuruh anak buahnya mencarimu di seluruh penjuru negara ini."

"Jadi, maksudmu aku harus pergi keluar negeri?" Marxim berusaha memelankan suaranya, karena Carissa tengah tidur di ranjang miliknya dan ia tidak ingin gadis itu terbangun.

"Iya, kau harus pergi secepatnya. " jawab Derek di teleponnya, lalu memutuskan sambungannya.

Maxim menatap Carissa lekat. Gadis itu sudah terlihat rapi dari sebelumnya. Seorang pelayan wanita telah mengganti pakaiannya. Namun, mata sembab gadis sedikit mengganggunya. Ia tidak menyukai itu.

Maxim berjalan mendekati gadis itu dan duduk di tepi ranjang. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada wajah Carissa.

"Maafkan aku. Aku bersumpah akan menjagamu seumur hidupku." lalu ia mengecup bibir ranum gadis itu.

***

Carissa membuka matanya saat sinar matahari menerpa wajahnya. Ia menegakkan badannya dan merasakan tangannya telah lepas dari kaitan borgol. Ia mengedarkan pandangan ke seisi kamar. Kamar itu berbeda dari sebelumnya.

"Apa kau merasa lebih baik?" tiba-tiba suara boriton mengejutkannya. Ia menatap Maxim dengan pandangan takut dan berusaha menjauh saat Maxim mulai duduk di tepi ranjang.

Pandangan takut itu, membuat Maxim tertegun. Saat ia menyentuh pundak Carissa, ia merasakan tubuh gadis itu gemetar. Kini penyesalan melingkupinya. Pada saat itu kemarahannya sudah berada di puncaknya, sehingga Maxim tidak bisa mengontrolnya.

"Jangan sentuh aku!!" ucap Carissa ketakutan.

Maxim berusaha untuk tetap bersikap lembut. "Kau ingin keluar bersamaku?"

"Aku ingin pulang," ucap Carissa, mulai menangis. Tindakan kasar Maxim masih terbayang di kepala Carissa.

Maxim mengusap wajahnya kasar. Bagaimana jika gadis itu mengetahui bahwa ia telah membawanya jauh dari negaranya? Mereka tidak lagi di Oxford. Mereka di Seattle dan sekarang mereka berada di rumah sederhana yang dikelilingi dengan pepohonan yang menjulang tinggi. Tidak terlalu besar, namun keamanan tetap terjaga.

Tiba-tiba Maxim mengangkat tubuh Carissa ke dalam gendongannya. Melihat aksi Maxim, membuat Carissa bergetar ketakutan setengah mati.

Apakah lelaki itu akan melemparkannya ke kandang singa? Atau memutilasinya?

Carissa memberontak. "Lepaskan aku!!"

Setelah sampai di teras rumah, Maxim menurunkannya dan menatap ke arah depan. Carissa mengernyit, kemudian ia mengikuti pandangan lelaki itu.

Seketika mata Carissa membesar pemandangan di depannya. Danau yang tidak terlalu jauh dari perkarangan rumah itu, memantulkan cahaya pagi yang cerah. Apakah itu benar-benar danau?

Carissa berjalan mendekat hingga berhenti di pembatasan balkon. Belum pernah seumur hidupnya melihat danau seindah ini.

"Indah bukan?" tiba-tiba Maxim membuka suara, membuat Carissa sadar lelaki itu masih bersamanya.

"Yah, sangat indah," lalu Carissa menatap Maxim.

"Ada apa? Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Maxim, membalas tatapannya.

"Kenapa kau mau melakukan semua ini?"

Tatapan mereka semakin dalam. Carissa menunggu lelaki itu menjawab pertanyaannya. Semua yang telah terjadi, membuat Carissa bertanya-tanya. Ia masih tidak mengerti mengapa Maxim bertindak sejauh ini untuknya.

Maxim masih belum menjawab pertanyaannya, hingga pada akhirnya Carissa memutuskan tatapan mereka yang cukup lama itu. Carissa menyerah untuk menanyakan hal itu lagi. Ia sadar ini adalah keputusannya untuk meninggalkan mansion, sehingga ia bertemu dengan Maxim.
Ia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi.

Seandainya Maxim bukan salah satu anggota organisasi itu, kejadian itu tidak akan pernah terjadi. Mungkin saja, Carissa akan mempercayai Maxim sepenuhnya.

Carissa tidak akan pernah tahu siapa Maxim sebenarnya, jika lelaki itu tidak mengatakan padanya sendiri. Bagaimana mungkin ia bisa mempercayai seseorang yang ia tidak ketahui asal-usulnya. Carissa ingin lari dari ini semua, namun ia tidak bisa. Sekarang Maxim telah menguasainya. Walaupun begitu, Carissa masih berharap ia bisa bebas.

"Jangan paksa aku untuk mempercayaimu, jika kau tidak ingin mengatakannya padaku." Carissa hendak kembali ke kamarnya, namun Maxim menahannya.

"Aku melakukan ini semua, karena aku mencintaimu dan aku takut kehilanganmu."

Tatapan Maxim begitu dalam, membuat Carissa tertegun. Sangat mengejutkan dan aneh mengetahui, seseorang yang baru ia kenal tiba-tiba menyatakan perasaan padanya. Maxim mencintainya?

"Mungkin bagimu ini tidak masuk akal, tapi bagiku tidak. Tapi, kumohon sekarang ini, tetaplah bersamaku."

Carissa mengalihkan pandangannya dari lelaki itu. Tidak ada satu pun kebohongan di mata Maxim. Carissa takut akan mempercayai perkataan lelaki itu, setelah melihat tatapan itu.

"Aku ingin keluar. Bukankah kau tadi ingin mengajakku keluar?" Carissa akhirnya mengubah topik pembicaraan.

"Baiklah."

***

Jangan lupa vote dan comment ya..

IG: capricorn_rere

MY MYSTERIOUS BODYGUARDBaca cerita ini secara GRATIS!