Adrio

"Anda bukan anak SMA yang merasa bahwa berkelahi ada hal yang keren 'kan?"

"Bukan, dok."

"Kalau begitu kenapa masih saja dilakukan?"

"Maaf, dok."

"Memalukan. Anda tidak boleh masuk kamar operasi selama 3 hari. Renungi semuanya."

"Siap. Terima kasih banyak, dok."

Yap, pagi ini gue secara resmi diskors dari ruang operasi selama 3 hari ke depan. I didn't blame everyone, Ini emang murni kesalahan gue. Kemaren gue secara gamblangnya berkelahi sama orang yang bahkan gue cuma denger sekali namanya. Dari mulut cewek kesayangan gue pula. Pathetic? No. Gue merasa senang sempat membuat dia merasa sakit- walaupun sedikit- atas apa yang dia perbuat sama April.

Gue meringis pas megang luka di tulang pipi gue. Gue belom sempet nutupin luka ini, cuma sempet di kompres air dingin doang semalem. Itu juga karena Regan ngasihin anduk yang diisi balok es. Karena luka-luka tonjokkan ini masih ketara jelas, keliatan lah sama chief resident gue. Abis lah gue dimarahin doi, sampe gue diskors begini. Jadi, sampe 3 hari ke depan gue akan menghabiskan waktu gue di ruang residen, ICU, kantin RS dan Masto. Ya, itung-itung istirahat.

"Gue bisa sih bayangin lo nonjok orang," Satria yang lagi nemenin gue di kantin, komen setelah gue cerita panjang lebar kenapa muka gue bisa kayak gini. 

"Tapi?"

"Tapi?"

"Iya, tapi. Dari nada lo, kayaknya lo belom selesai ngomong,"

"Hahaha. Tapi gue yakin abis itu lo cursing. Tangan lo pasti sakit 'kan?"

"Banget. Nih, ikut biru-biru tangan gue."

"Lo kok berani ngambil langkah kayak gitu?"

"Ya, lo bayangin aja kalo Gendis digituin sama cowok lain. lo pasti kesel juga lah."

Gendis itu pacarnya Satria, btw.

"Gendis mah gak bakal kayak gitu. Orang gue pacar pertamanya,"

"Serah lo."

Tiba-tiba Brian nongol bawa nampan berisi dua mangkok. Yang satu bubur kacang ijo, yang satu bubur ayam. Dia ketawa simpul ngeliat muka gue. Bentar lagi juga ngejekkin gue pasti.

"Nih, makan dulu, Biar gak cenut-cenut itu luka lo." Dia nyerahin mangkok kacang ijo. "Gak rugi kan gue sempet ngajarin lo muay thai?"

"Berguna lah sedikit." sambil mengangkat bahu gue, gue mulai nyuap si kacang ijo.

"Lo beneran diskors?" tanya Brian.

"Ho'oh."

"Berapa hari?"

"Lah lo diskors??" Satria dengan tampang kaget dan mata melototnya bikin gue pengen nyiram kacang ijo ini ke muka dia tapi gue lagi laper.

"3 hari doang. Ya, itung-itung istirahat."

"Yaaah, padahal gue ada kasus seru hari ini."

"Apaan?"

"Gue sama Dio ortopedi, gabung dokter Bil bakal operasi skoliosis pasien usia 15 tahun."

"Shit, seru tuh operasinya."

"Sabar ya, lo liat di internet aja. Hahay,"

"Bangke lu."

"Eh, Yo. Terus April udah nemuin lo hari ini?" Tanya Satria.

"Belom, gue belom ketemu dia hari ini."

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!