Chapter 104: Motif Raja Rudolf

2.2K 142 14

"... silahkan." (Portnis)

"Sacred Room ini mudah dimasuki, tetapi untuk keluar, dibutuhkan izin kepala pendeta, benar?" (Rudolf)

"... seharusnya begitu." (Portnis)

Portnis penasaran mengapa Rudolf menanyakan hal itu.

"Dan jumlah orang yang bisa masuk, termasuk yang terhormat kepala pendeta, adalah 13 orang, benar?" (Rudolf)

"... haa." (Portnis)

"Terlebih lagi, tidak ada informasi yang bisa masuk sama sekali dari luar... ruangan yang bisa disebut sebagai tempat yang terpisah dari dunia." (Rudolf)

Judom mengangkat alisnya.

(Rudolf... sebenarnya apa yang...) (Judom)

Itu adalah hal yang semua orang di ruangan ini, tidak, karena Perdana Menteri juga tersenyum kecil, dia juga pasti tahu sesuatu. Tetapi, hampir semua orang terdiam karena tingkah aneh Rudolf.

"... tidak, aku hanya ingin memastikan. Maaf karena sudah mengambil waktunya." (Rudolf)

"Ti-Tidak." (Portnis)

Judom tidak terlalu mengerti maksuda Rudolf yang ingin mengkonfirmasi hal itu. Tetapi Judom melihat kalau mata Aquinas memicing. Sama seperti Judom, dia juga merasa was-was pada Rudolf.

(... Rudolf, kau...) (Judom)

Judom tidak ingin mempercayainya tapi... saat dia memikirkannya, dia pun memutuskan untuk menunggu dan melihat sedikit lebih lama lagi.

"Baiklah, mari kita perkenalkan diri kita lagi." (Rudolf)

"Aku adalah raja dari seluruh Humas, Rudolf van Strauss Arclaim, Raja【Victorias】." (Rudolf)

Setelah Rudolf memperkenalkan dirinya sendiri, Eveam pun membuka mulutnya.

"Aku adalah raja yang mengendalikan ibukota Evilia:【Xaos】, Eveam Gran Early Evening. Pada kesempatan ini, karena telah merespon permintaan Evilia, aku sangat berterimakasih pada raja Victorias." (Eveam)

Eveam melihat sekeliling dan mengangguk.

"Tidak, kami juga memiliki keuntungan dengan adanya aliansi." (Rudolf)

Walaupun Eveam menggunakan kalimat formal, Rudolf yang tidak menggunkan formalitas membuat kesal Marione. Marione pun mengangkat alisnya dengan tidak senang. Tetapi Aquinas menggeleng kecil dan memberitahu Marione agar tidak memperdulikannya.

Eveam sendiri nampaknya tidak peduli.

"Aku sangat senang mendengar itu dari anda secara langsung." (Eveam)

"Tapi." (Rudolf)

"..." (Eveam)

"Ada juga yang tidak menginginkan aliansi ini." (Rudolf)

"Aku mengerti akan hal itu." (Eveam)

"Itu sendiri merupakan bukti bahwa kita telah saling melukai... dan sangat tersakiti." (Rudolf)

"Ya, tapi aku rasa yang bisa menyembuhkan luka itu bukanlah balas dendam, melainkan kedamaian." (Eveam)

"..." (Rudolf)

"Kita pernah berkonflik. Pastinya itu adalah alasan mengapa kita mengenal ketidak-manusiawian. Semakin kesedihan dan kebencian membesar, maka konflik dan perselisihan pun terus terjadi. Kita tidak bisa membiarkan ini. Jika tidak ada yang menghancurkan mata rantai perselisihan ini, tidak akan ada kedamaian!" (Eveam)

Semua orang mendengar pernyataan itu dengan seksama.

(Gadis itu... jadi ini adalah Maou saat ini) (Judom)

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!