Hansol ↭ Barista

3.4K 331 11
                                    

Sang mentari tengah berada tepat di atas kepala. Siang ini Busan sedang sejuk jandi membuat sebagian orang tidak kepanasan.

Kamu tengah memperhatikan dosen yang sedang mengajarkan tentang materi emosi manusia. Kamu sangat semangat menyimak pembahasan itu. Ya, kamu bergabung dengan prodi Psikologi.

Setelah itu kelas sudah selesai, kamu tengah merapikan barang-barangmu. Seseorang menghampiri mejamu dan mengetuk mejamu.

"Call, kita ke kafe tempat biasa."

"Oke, tunggu gue beresin barang dulu."

Akhirnya kamu selesai membereskan barangmu Yeri menarikmu keluar dari kelas. Untung saja hari ini kelas hanya sekali masuk.

"Beruntung banget tadi gue tidur kaga ketauan sama dosen."

"Lagian lo pasti maraton drama lagi ya?"

Yeri nyengir ketahuan begadang sama kamu.

"Habis dramanya bikin gue ketagihan."

Hanya gelengan kepala yang dapat menjawab pertanyaan temanmu.

🐹🐹🐹

Tidak terasa kalian sudah sampai di kafe biasa tempat kumpul. Kamu sedang mencari seseorang dan terlihatlah kedua temanmu Seulgi dan juga Herin.

"Yer, lo kesana dulu gih biar gue yang mesenin minuman lo."

"Oke, gue yang biasa ae ya (y/n)."

Kamu mengangguk. Setelah Yeri hilang dari pandanganmu kamu berniat untuk mengantri.

Kamu tengah melihat menu.

"Selamat siang, nona. Ada yang ingin anda pesan?"

"Americano satu dan juga ice latte satu."

"Baiklah nona, mohon tunggu sebentar."

Sedari tadi kamu hanya melihat menu dan tidak melihat siapa yang menanyaimu. Namun, karena merasa asing kamu melihat ke arah sang penanya.

Di depanmu terlihat seorang pemuda bersurai blonde yang tengah meracik pesananmu.

"Orang baru kah?" Gumammu.

Pasalnya selama kamu dan teman-temanmu mampir di kafe ini kamu baru melihatnya sekarang. Lalu pemuda itu menyelesaikan pesananmu.

"Ini nona... Totalnya 10000 won."

Kamu mengerjabkan matamu ketika melihat wajahnya yang tampan. Sedangkan pemuda itu memandangmu bingung.

"Err... Nona. Apa anda baik-baik saja?"

"E-eh... T-tentu saja."

Kamu merasa malu karena menatap wajahnya. Kamu mengeluarkan dompetmu dan memberikan beberapa lembar uang kepada pemuda itu. Kamu sempat melirik tag nam yang beradadi dada pemuda itu, 'Ji Hansol' namanya.

"Ini, nona. Kamsahamnida."

Hansol tersenyum ramah padamu. Kamu membalasnya dengan tersenyum tipis. Dengan segera kamu menghampiri teman-temanmu sambil tersenyum.

"Weh, ngapain lo senyum-senyum (y/n)?" tanya Seulgi.

"Iya anjir! Nyeremin..." timpal Herin.

"Kek nemu harta karun ae."

Kamu lalu duduk di kursi yang kosong di samping Seulgi. Matamu menatap mereka sambil mengerucutkan bibir.

"Emangnya gue ga boleh bahagia?"

Semuanya menggeleng kecil.

"Maksud kita bukan gitu tumben aja lo kek gini."

Seulgi mengangguk setuju.

NCT ✘ Reader ♔ Imagine ♔ [ DISCONTINUED ] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang