Adrio

Satu hal yang gue inget waktu gue keterima kedokteran adalah kata-kata nyokap gue,

"Le, kamu tau kalo mama bangga sekali sama kamu? Good luck ya, sayangnya Mama."

Iya, gue dipanggi 'Le' sama nyokap. Entah itu artinya 'Bule' atau 'Tole', which is panggilan jawa buat anak laki-laki. Gue udah kebiasa sih dipanggil itu sama nyokap. Nyokap gue jawa tulen, arek suroboyo banget pokoknya, sedangkan bokap gue asli California. Kalian tau dimana bokap nyokap ketemu? Di Bandung. Di kota yang gue habiskan masa SMP sampe sekarang ini. Bokap waktu itu lagi liburan ke Bandung, tahun 90-an kan katanya Bandung masih indah-indahnya, well, kata gue juga sekarang masih indah sih. Terus nyokap gue emang dapet kerja di Bandung. Mereka papasan gitu di jalan terus bokap gue malah nanya alamat ke nyokap, eh, keterusan sampe nanya alamat rumah.

Jadilah gue dan kakak gue. Btw, kakak gue cewek, sekarang udah tinggal sama suaminya di Australia. Suaminya dokter anak kaya di Satria. Mereka udah tinggal disana setelah nikah. Suaminya emang asli sana dan kerjanya di rumah sakit sana. Kakak gue ngikut aja karena belom dapet kerjaan disini tapi dia suka banget masak jadi dia buka kafe kecil-kecilan di Aussie.

Ah, gue jadi kangen nyokap gue.

"Incoming," Suara Nabil memecah nostalgia gue. "Ngelamun mulu,"

"Kangen nyokap, Bil."

"Adududuh...Lo gak pantes ngeluh gitu dah,"

"Rese lo. Pasien apa, nih?" Gue beranjak dari kursi setelah pasiennya pindah dari bed pre-op ke meja operasi.

"Ny. G, 38 tahun, P3A1 dengan myoma uteri. Rencana histerektomi, dok." Kata salah satu koas anestesi yang stay bareng sama gue.

Gue menggangguk. "Ibu udah puasa?"

"Sudah dari jam 9 malem, dok."

"Ada alergi atau asma gak bu?"

"Gak ada, dok."

"Nanti obat biusnya saya suntikin dari sini ya, ibu tenang aja. Bangun-bangun operasinya udah selesai. Oke?" Gue nunjuk ke arah infusan yang ada di tangan kiri si ibu.

"Iya, dok."

"Dek, pasang tensian, saturasi, sama oksigen."

"Dio," Regan dateng sambil bawa keranjang plastik isi obat-obatan. "Lu kosong malem ini?"

"Kenapa emang?"

"Gue nanya,"

"Kosong sih. Kenapa? Numpang nugas?"

Lah, dia nyengir. Emang Regan lagi ada project sama seniornya, disuruh bikin artikel gitu. Lagi kejar-kejaran sama deadline. Dia sering nginep di kosan gue karena kalo di kosan dia, ya dia tidur bukannya nugas.

"Hehe, boleh ya."

"Iyeeee,"

------

What I like about hospital is our bench talk. Kita punya tempat nongkrong yang biasa kita datengin pas makan siang. Lokasinya di belakang rumah sakit, tapi pas banget di belakang gedung IBS. Jadi kalo ada apa-apa tuh kita gampang lari nyusulinnya. Gue, Regan, Chandra, dan Nabil adalah penduduk setia daerah ini. We called it 'Tempat Steril'. Maksudnya, ini lo mau ngomong apa juga bakal langsung nguap sama kaya kamar operasi, ada alat penyedot bakteri jadi kamar operasi tetep steril. Kalo tempat steril gue ini nguap nya karena lo akan mengeluarkan semuanya disitu, ya marah, ya bete, ya sedih, keluarin aja disitu. No one will judge and we'll keep it secretly. Sayangnya yang tau tempat itu cuma gue dan geng anestesi sama anak-anak enamhari which is masih termasuk 'orang-orang gue'.

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!