Thirteen

8.2K 264 17

Fienna dapat meraih baju Alfredo, entah darimana datangnya tiba-tiba ada Robert. Dia mengaitkan tangannya di tangan Fienna. Jadi, sewaktu Alfredo membalikkan badannya. Pemandangan Fienna berpegangan tangan dengan Robert-lah yang dilihat Alfredo.

Alfredo tidak mengucapkan satu kata pun saat melihat itu. Namun, matanya tampak menyala-nyala oleh emosi.

"Fine, I will stay away from your life, Fi."

*****

Ketika Alfredo beranjak pergi, Fienna hendak mengejar Alfredo dan meluruskan kesalahpahaman itu. Namun, Robert menahan Fienna.

"Al, Al!" Panggil Fienna berusaha menghentikan Alfredo yang semakin lama semakin menjauh.

Ketika Alfredo sudah meninggalkan restoran itu, Robert kembali duduk di kursi restoran dengan elegan seakan tidak terjadi apa-apa. Kemudian, karena amarah yang memuncak Fienna menampar pipi Robert dengan keras. Robert tidak bergeming, dia masih diam dengan wajah cool-nya.

"You bastard!!" Maki Fienna.

Lalu, Fienna meninggalkan Robert dan keluar dari restoran. Beberapa orang di restoran itu menatap Robert dengan tatapan ingin tahu. Tetapi, ketika Robert membalas tatapan mereka dengan tatapan tajam mereka semua memalingkan pandangannya dan tidak berani menengok lagi.

Mike menghampiri Robert sambil bertanya,"Semuanya tidak berjalan sesuai rencana, heh?"

"Yah begitulah." Jawab Robert tak acuh.

Diam-diam, Mike mulai merasa simpati kepada Fienna. Dia mulai ragu melanjutkan rencananya yang mungkin akan merenggut kebahagiaan adiknya itu.

"Apa lo yakin rencana ini bakal berhasil. Jujur, gue mulai ragu. Mungkin lebih baik kita udahin aja plan kita." Usul Mike

"Gue gak bisa udahin plan ini. Selain karena udah berjalan sejauh ini, gue juga udah suka sama adek lo." Tolak Robert.

Mike mengutuk dirinya dalam hati,"Sial, Robert gak mau batalin. Di satu sisi gue gak pengen Fienna menderita. Tapi di sisi lain, gue terlalu pengecut untuk nyelesain masalah gue sendiri dan akhirnya berurusan dengan orang kayak Robert. Seandainya waktu itu gue gak kalah taruhan, gue gak bakal kayak gini."

******

Keesokan harinya. . .

Fienna pergi ke fakultas Alfredo dan mencari keberadaan cowok itu, namun hasilnya nihil. Alfredo absen di semua mata kuliahnya.

Fienna sampai rela membolos mulai demi menunggu Alfredo. Ia absen pada 3 mata kuliah pada hari itu. Keesokan harinya hal itu terulang lagi, dan lagi-lagi penantian Fienna tidak membuahkan hasil. Begitu juga esok harinya lagi.

Sudah 3 hari Alfredo tidak terlihat di kampus. Selama itu juga, Fienna tidak berhenti mengunjungi fakultas Alfredo dan menanyakan keberadaan Alfredo kepada teman-teman Alfredo.

"Al, lo dimana?"  Batin Fienna bertanya-tanya.

Fienna terpaksa pulang ke rumah karena hari sudah semakin gelap. Dia pulang dengan ekspresi lesu dan putus asa. Keberadaan Alfredo saat mempengaruhi Fienna. Setiap ke kebersamaan dengan Alfredo membuat Fienna terbiasa dengan kehadiran Alfredo di dekatnya.

"Dek, waktu itu sama Robert kenapa pulang tiba-tiba?" Tanya Mike saat melihat Fienna ingin masuk ke kamarnya.

Fienna memutar bola matanya malas. Dia sedang tidak mood berbicara, apalagi tentang Robert.

"Kak, tolong jangan kenalin gue sama cowok kayak gitu lagi!" Ucap Fienna datar sambil melangkah masuk ke kamarnya.

Mike menghela napas dan memandang pintu kamar Fienna dengan pandangan meminta maaf, "Gue juga gak mau ngenalin lo sebenernya. Gue terpaksa, maaf. . . ."

Keesokan harinya, Fienna kembali masuk ke kampusnya. Ia tidak lagi mencari Alfredo di fakultas cowok itu. Dia mengikuti setiap mata kuliah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.

Meskipun dia menjalani rutinitasnya dengan baik, tetapi Fienna merasa dia tidak hidup. Hari-harinya begitu kaku, seperti seorang robot yang diprogram. Ia hanya menjalani semuanya tanpa perasaan. Ia tampak seperti patung berjalan karena ekspresinya yang selalu datar.

Suatu siang, ketika Fienna hendak pulang. Seseorang menghadang jalannya. Fienna mencoba tidak menghiraukan orang itu. Ia berbelok dan hendak melangkah pergi. Namun, lagi-lagi orang itu menghalangi jalannya. Fienna yang sedang menundukkan kepalanya tidak bisa melihat siapakah orang itu. Tetapi, dilihat dari sepatu pantofel hitam mengkilat dan celana bahan berwarna hitam yang kelihatan mahal rasanya Fienna tau siapa itu.

Fienna mendongakkan kepalanya dan matanya langsung bertatapan dengan mata Robert yang menatapnya tepat di manik mata.

"Kenapa kau disini?" Tanya Fienna dengan sengit. Terus terang, Fienna masih membenci Robert karena pertemuan pertama mereka di restoran waktu itu. Robert membuat bentang jarak antara ia dan Alfredo semakin jauh.

"Ingin menjemputmu." Jawab Robert sambil mencoba menggandeng tangan Fienna. Akan tetapi, Fienna menepis tangan itu dengan kasar.

"Aku bisa pulang sendiri. Sebaiknya kau pergi dan jangan temui aku lagi!" Tegas Fienna sambil berlari menuju mobilnya.

Robert ingin menyusul Fienna, namun dia sadar ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan pendekatan. Fienna masih emosional karena menghilangnya Alfredo. Sambil menyunggingkan senyum licik, Robert masuk ke dalam mobil Porsche hitam miliknya.

"Kau tidak akan pernah bisa lari dariku, Fienna." Gumam Robert.

Fienna tidak ingin pulang ke rumahnya. Ia benci ketika Mike menyebut nama Robert. Ia membenci cowok itu. Ia ingin Alfredo-nya kembali.

Fienna menghentikan mobilnya di depan sebuah klub malam. Ia masuk ke dalam dan memesan segelas vodka. Fienna bukanlah gadis klub. Sesungguhnya, ia merasa asing dengan suasana klub yang dipenuhi suara musik yang berdentum-dentum dan sinar lampu sorot yang menyilaukan. Tetapi, setelah ia meminum segelas vodka itu Fienna dapat merasakan bagaimana rasanya terbang ke awang-awang.

 Tetapi, setelah ia meminum segelas vodka itu Fienna dapat merasakan bagaimana rasanya terbang ke awang-awang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Fienna berjalan ke dance floor, dan ikut menari disana. Semua beban yang tadinya berada di atas pundaknya hilang entah kemana. Fienna merasa bebas dan. . . liar. Namun, rasa itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba rasa pening mendera kepalanya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut dan pandangannya menjadi kabur.

Fienna melihat Alfredo di depannya samar-samar. Ia tidak yakin apakah itu nyata atau ia hanya berhalusinasi. Ia melihat Alfredo sedang menari dengan seorang wanita.

"Apakah itu nyata?" Tanya Fienna dalam hati.


TBC

Hope you enjoy this part.
Sorry for the typo

-CW

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!