Woozi or Jihoon, Coups or Seungcheol?

506 77 35
                                                  

Special for chii <3 (woojihoonqt)


"Apakah kalian sudah selesai mengisi selembaran ini?" tanyanya dan semua orang di kelas itu menganggukan kepalanya. Pria mungil itu kemudian meraih lembaran angket yang akan diantarkannya dari tangan teman-temannya.

Semua angket itu sudah terkumpul di tangannya dan Jihoon menggeser pintu kelasnya. Dia baru saja ingin keluar dan sesuatu sudah menghantam tubuh mungilnya. Dia membuka matanya perlahan dan memijit pelipisnya pelan.

"Kau tidak apa-apa?" tanya orang yang menabraknya dan Jihoon kesal mendengar suaranya itu.

"Apakah aku terlihat baik-baik saja?"

"Sepertinya tidak..."

"Lalu?"

"Apakah kau mau kubantu?" tanyanya dan Jihoon menjawabnya ketus, "Bukankah seharusnya begitu. Kenapa kau menanyakannya lagi?"

"Apakah kau mau kubantu?"

Pria dengan rambut cokelat itu mendengus kesal, "Tidak, terima kasih."

"Baiklah kalau begitu..." Jihoon benar-benar kesal mendengarnya. Rasanya dia ingin sekali mengacak wajah orang yang menabraknya sekarang juga.

"Hei Choi Seungcheol! Kau sudah menabrakku dan tidak meminta maaf sama sekali!"

"Bukankah aku sudah menawarkan diri untuk membantumu?"

"Tapi kau tidak maaf kepadaku!"

Seungcheol tersenyum sarkastik, "Oh... maafkan aku Tuan Lee."

Jihoon memandangi Seungcheol yang berjalan meninggalkannya dan berteriak, "Akan kubalas kau bodoh!"

Wonwoo menatap Jihoon yang menunjukkan ekspresi masam di balik kacamata bulatnya. Dia tau sahabatnya itu selalu berwajah masam setiap kali dia dijahili oleh Seungcheol. Pria pendiam itu menepuk pundak sahabatnya pelan.

"Kau mau ke PC Bang bersamaku setelah pulang sekolah?"

Jihoon menggelengkan kepalanya, "Aku bermain di rumah saja..."

"Lalu bagaimana dengan dia?"

"Kami sudah berjanji akan bermain bersama malam ini..."

"Kalian akan party bersama?"

Jihoon menggaruk tenguknya yang tidak gatal, "Seperti itulah... bagaimana denganmu?"

"Aku tidak ikut... jika tidak aku akan menjadi nyamuk di antara kalian." dan Wonwoo mendapatkan tatapan mematikan dari pria mungil itu.

"Kenapa kau menatapku seperti itu? Bukankah kalian adalah pasangan di dalam game?"

Jihoon berhenti menatap pria itu dan menghela napas, "Bisakah kau tidak mengungkit hal itu? Bukankah kami hanyalah pasangan yang lebih tepatnya partner dalam bermain game? Lagi pula kami tidak mengetahui tentang identitas asli kami dan itu hanya melanggar kode etik dalam bermain game online."

"Dan kau tidak bermain di PC Bang, kenapa?"

"Aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian jika mereka tau siapa itu Woozi."

Wonwoo tersenyum, "Baiklah-baiklah Woozi... pemanah wanita terkuat dengan partner yang sederajat tingkatannya."

Jihoon memukul pelan lengan pria berambut hitam itu, "Jangan lupa kau harus merahasiakan siapa itu Woozi..."

Pria mungil itu menghidupkan komputernya setelah dia membersihkan tubuhnya. Matanya melihat ke layar komputer yang cukup terang itu. Dia menekan ikon yang setiap hari dia buka. Program itu terbuka dan Jihoon mengetik username dan password yang sudah dihapalnya. Jihoon menekan karakter yang akan dimainkannya dan karakter perempuan itu masuk ke dalam kota di dalam game itu.

Online GameTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang