Pelukan

1K 91 4

Aku menyusut air mata saat memandang punggung Karna. Perkataan Krisna terserap di dalam hatiku. Menyejukkan, sekaligus membangkitkan lagi semua perasaan yang membuatku mengasihi Sang Suryaputra.

Perkataan Dewa Surya saat dia meninggalkan Karna di Champanagari itu terngiang kembali di telingaku. Senyuman Dewa Surya saat itu mengingatkan aku akan luka-luka jiwa yang terus menerus mendera suamiku.

Aku mendekati Karna, menyentuh punggungnya dengan lembut. Dia tampak terkejut, karena sudah lama aku berusaha menjauh darinya. Meski tiap malam dia datang kepadaku.

"Vrushali."

Aku duduk di sebelahnya. Membiarkan Karna berbaring dengan menaruh kepalanya di pangkuanku.

"Maaf..." aku mengeringkan air mata di pipiku, "Aku telah bersalah kepadamu. Aku mohon, maafkan aku, Tuanku."

"Kau telah kembali," dia bangkit. Manik matanya bersinar cerah seperti pagi yang datang, "Vrushali-ku telah kembali."

Aku menangis semakin keras. Karna menyentuh pipiku. Tak ada air mata yang menetes di matanya, namun aku bisa merasakan kesedihannya. Bukan karena mencuri. Kesedihannya meresap langsung ke dalam hatiku. Sama seperti kekecewaanku menyentuh hatinya.

"Kau pantas membenciku, Vrushali. Aku telah menjadi orang jahat. Sumpah persahabatanku telah mengikatku pada angkara murka."

"Aku... bagaimana aku bisa membencimu, Tuanku? Aku tidak membencimu, aku hanya terlalu sayang... terlalu sayang hingga takut suatu saat dirimu akan celaka."

Karna memandangku dengan rasa kasihan, "Vrushali... aku pasti akan celaka. Aku telah mengatakan, aku akan menjadi perisai bagi sahabatku. Aku akan menemaninya hingga akhir. Membantunya menang, atau hancur bersamanya."

"Tuanku..."

"Dewa Narada telah mengatakan, kalau kehancuran akan datang saat para Pandawa itu kembali," keluh Karna, "Namun sahabatku menutup telinganya. Bahkan nasihat ayahnya sendiri telah menjadi minyak yang disiramkan pada api dendamnya."

Aku menyentuh tangan Karna di pipiku. Membawanya ke pangkuan. Menggenggamnya erat-erat.

"Hastinapura akan terbakar..." kilat luka itu kembali ke sorot mata Karna. Aku mengadang air mata yang mulai menitik di pipinya.

"Kalau Hastinapura terbakar, maka kita akan terbakar di dalamnya."

"Aku pasti akan terbakar, Vrushali. Tapi, kau..." Karna memalingkan wajah, menghindariku.

"Tuanku," aku meremas jemarinya, "Kalau boleh aku menanyakan, mengapa tuanku langsung melamarku ketika aku pingsan, lalu tersadar di rumahmu?"

Senyuman Karna saat itu seketika mendatangkan kehangatan membalut luka hatiku. Ada kerinduan yang begitu lembut, kenangan yang melintas bak kepakan sayap kupu-kupu.

"Vrushali, ada saat-saat di mana aku merasa begitu sendirian," Karna menyentuhkan jemarinya di bibirku, "Sehari sebelum aku minggat membawa kebencian yang kemudian membusuk... seseorang membuatku teringat, ada seseorang yang senasib denganku."

Aku tertegun.

"Kau adalah teman pertamaku, Vrushali. Teman yang bisa membuatku melepaskan semua topeng yang aku kenakan. Aku terus mengadu, karena mengira kau tak bisa bicara. Jadi semua ucapanku hanya akan menjadi rahasiamu..."

Aku tak menunggu Karna meneruskan perkataannya. Dia terkejut saat aku menghambur... merengkuhnya dalam sebuah pelukan. Dia diam beberapa saat, lalu tangannya melingkar di pinggangku. Dia mengecup puncak kepalaku, sementara kami berlindung pada dinding-dinding kasih sayang yang terbangun.

"Aku bersalah, Tuanku. Aku bersalah karena membiarkan kecemburuan dan kecurigaan menggerogoti hatiku," aku terisak-isak, "Aku cemburu melihatmu berdiri di dekat Drupadi. Aku...aku..."

Karna mengangkat daguku, "Vrushali, aku tahu... kau selalu menangis untukku. Lalu bagaimana aku dapat menjelaskan semua tindakanku, jika itu akan membuatmu semakin menderita?"

Karna mengucapkannya dengan nada selembut beledu. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Kupandangi sorot matanya yang kini sama dengan sorot mata di balairung itu. Dan aku menyadari... perasaan yang ada di sana bukanlah cinta tak tersampaikan.

"Tuanku," aku akhirnya menyurukkan kepalaku di bawah bahunya, "Jika memang kau akan terbakar karena sumpah persahabatan, maka izinkan aku untuk terbakar bersamamu. Ini adalah sumpahku, Tuanku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang