1. Teror yang Baru

470 52 37
                                                  

Tetesan darah jatuh untuk kesekian kali ke aspal.

Bersamanya, serentetan langkah tak beraturan dan deru napas seorang pria berderap mengekor tanpa henti.

Lengan kanan pria itu lenyap. Hanya tersisa sekerat daging, sepotong tulang yang mencuat, dan pembuluh nadi yang terus mengucurkan darah di tempat bahunya semenit yang lalu masih berada. Kemeja biru yang baru ia beli pagi ini terciprat darah, menciptakan corak bunga yang mengerikan. Celananya yang koyak mengeluarkan bunyi yang mirip kaokan monster di setiap langkah yang ia ambil terlalu buru-buru.

Sepatu miliknya terasa semakin berat. Segera dilepasnya benda itu dalam langkah terburu-buru, guna mempercepat larinya di tengah jalanan yang tidak dilalui seorang pun malam ini.

Jalanan bergoyang hebat dalam pandanganya yang terjebak delusi adrenalin. Namun pria itu sungguh mengira jalanan benar-benar berubah bergelombang. Dia sudah tidak memercayai segala rasionalitas.

Bau anyir menusuk hidungnya. Bau itu berasal dari bajunya yang tercoreng moreng darah. Beberapa kerat daging tersisa di celana dan punggungnya, sisa dari tiga temannya yang tidak berutnung.

Pria itu mulai menitikkan air mata. Segalanya tidak seharusnya seperti ini. Mereka berempat hanya pulang larut malam untuk merayakan kenaikan jabatannya yang baru saja diumumkan kemarin dan dirayakan di kantor. Selepas kerja, mereka berempat yang telah bersahabat sejak masih menjabat sebagai tenaga kontrak memutuskan untuk minum-minum melepas penat.

Hanya minum dua botol bir murah, paling banyak. Ia sudah memastikan itu. Tidak ada kelebihan alkohol yang dapat menyebabkan delusi. Ia juga tidak mengkonsumsi minuman atau makanan aneh apa pun.

Lalu, dari mana gerangan asal makhluk-makhluk yang menyerang mereka?

Makhluk-makhluk itu tidak berukuran maupun berbentuk seperti Manusia. Mereka jauh lebih mengerikan dari hewan dengan tinggi yang tidak masuk akal, cakar panjang, dan lengan yang panjangnya sampai menyentuh lantai sekalipun mereka telah berdiri. Ada tiga lapis gigi di mulut salah satu dari mereka, dengan masing-masing geligi berbentuk segitiga runcing yang langsung melumat kaki temannya hidup-hidup seperti blender menghancurkan potongan buah. Makhluk yang lain memiliki empat tangan dengan masing-masing enam cakar di setiap tangan yang terentang. Kaki-kaki mereka seperti kait dan cara mereka bergerak benar-benar tidak masuk di akal. Dalam satu kedipan mata, makhluk yang entah dari mana datangnya itu menyeberangi jalan selebar dua belas meter, meraih temannya yang paling malang.

Saat kejadian, ia mendorong dua temannya sendiri ke mulut sang maut demi menyelamatkan nyawa dan setelahnya, karma langsung datang

Suara tawa menggema di angkasa malam.

Lelaki itu bergidik. Ia menangis semakin kencang. Isakannya terdengar memilukan di tengah sunyi yang tak acuh. Wajah-wajah yang dilupakannya mendadak muncul: ibu yang tidak pernah dikabarinya selama delapan bulan, adik yang tidak pernah ia nafkahi kendati masih butuh biaya sekolah, dan calon istri yang seenaknya ia selingkuhi di waktu luang.

Sekarang ia terancam tidak akan bisa memperbaiki apa pun lagi.

Tidak, pria itu menolak keras. Ia tidak mau mati. Tidak mala mini. Tidak dengan cara seperti ini.

Dari belokan terdekat, seorang wanita muda muncul. Wanita itu memandangi ponselnya yang menyala biru dalam gelap tanpa memerhatikan sekitar.

Mungkin wanita itu tak melihatnya, tapi baginya, wanita tak acuh itu bersinar bagai suar di tengah malam. Pria itu berlari segenap yang ia bisa. Adrenalin dan endorfin mengendurkan rasa sakit yang ia derita.

"Nona!" teriaknya terengah-engah seperti sapi sekarat. "To-tolonglah! Tolong ... saya!" Pria itu menggapai-gapai, mengulurkan lengannya kepada sang wanita.

FELIN [UNDER CONSTRUCTION]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang