Chapter 102: Maou, ke Kerajaan Humas

2.4K 141 2


Konferensi Humas dan Evilia akan diadakan dalam satu minggu, Nazaar yang telah mengikuti keempat pahlawan terdiam ketika melihat apa yang terjadi di depan matanya.

Saat ini ia sedang ada di satu-satunya jembatan penghubung antara Evilia dan Humas. Dengan kata lain ada di perbatasan negri. Di sana atas jembatan itu ada seorang Evilia yang mencegah agar jembatan itu tidak dihancurkan Humas.

Evilia itu dipanggil Iraora, seorang mantan anggota Cruel, kekuatannya yang sudah cukup dikenal oleh para manusia membuatnya diperintahkan untuk menjaga jembatan ini bersama orang-orang kuat yang lain. Karenanya, jembatan ini masih berdiri utuh.

Tapi yang lebih mengejutkannya adalah saat keempat pahlawan melewati jembatan itu tanpa ragu. Padahal mereka berada dalam masa tenang pra-konferensi tetapi mereka berani melakukan hal yang bisa memancing keributan besar diantara kedua belah pihak, Nazaar hanya terpaku karena tidak mengerti ketika melihat ini.

Nazaar pun menggambar seekor burung di Sketchbook-nya dan menerbangkannya di dekat para pahlawan. Nazaar dapat menggunakan burung itu sebagai informannya saat target ada didekatnya karena dia bisa mentranmisikan apa yang didengar dan dilihat burungnya ke dirinya sendiri. Tentu saja para pahlawan tidak menyadarinya.

Pergi menyebrangi jembatan itu, mereka mendekati Iraora yang ada di tengah jembatan itu. Lalu dia pun terkejut karena salah seorang pahlawan mulai berbicara dengan Iraora.

"Apa kau Iraora?" (Taishi)

"Benar." (Iraora)

"Jadi kau adalah anteknya ya?" (Taishi)

Ta-Tadi apa katanya? Berkali-kali Nazaar mengulangi pertanyaan itu di kepalanya.

(A-Antek...? E... tu-tunggu sebentarssu... Antek... apa maksudmussu?) (Nazaar)

Nazaar menjadi terdiam karena tidak mengerti apa yang mereka katakan dan kini Iraora menambah keterkejutannya.

"Mereka sudah masuk. Oi, tuntun mereka." (Iraora)

Setelah Iraora mengatakannya pada salahsatu bawahannya, bawahannya itu pun memberi kode agar para pahlawan mengikutinya.

Para pahlawan pun mengikuti kodenya dan menyebrangi jembatan serta perbatasan kedua negara. Dengan kata lain mereka melangkahkan kaki mereka ke atas kerajaan Evilia.

(Mereka...? Siapa merekassu?) (Nazaar)

Sebelum dia menyadarinya, keringat sudah membasahi tubuh Nazaar. Tenggorokannya juga mulai mongering.

"A-Apa maksudnyassu? Kenapa Iraora membiarkan para pahlawan lewatssu? Selain itu... siapa merekassu?" (Nazaar)

Namun Nazaar langsung mengambil buku gambrnya dan mulai menggambar sesuatu.

"Po-Pokoknya ini adalah kejadian yang gentingssu! Kalau tidak dilaporkan secepatnya, Evilia dalam bahayassu!" (Nazaar)

Tiba-tiba lehernya dicekik dari belakang.

"Kuh!" (Nazaar)

Nazaar sama sekali tidak merasakan apapun. Saat ini dia memang tidak bisa berpikir jernih karena situasi di depannya, tetapi dia cukup yakin kalau dia tidak akan dengan mudahnya dikalahkan oleh seseorang.

Kemampuan Nazaar sangat berguna untuk operasi yang mengharuskan dia menghapus hawa keberadaannya. Dan dengan kemampuannya, dia seharusnya bisa mendeteksi lawan sebelum dia diserang. Tetapi kali ini dia sudah dikalahkan bahkan sebelum dia bisa mendeteksi hawa keberadaan musuhnya. Ini adalah mimpi terburuknya.

"... sia... pa... kau... ssu?" (Nazaar)

Entah bagaimana dia bisa mengeluarkan beberapa patah kata. Saat dia berusaha melihat ke arah penyerangnya, dia mendengar sebuah gumaman.

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!