#4

2.1K 331 97

Adrio

Lo belom bosen kan sama cerita gue? Hehe, kali aja gitu udah bosen terus mau pulang. Mending temenin gue, ketemu banyak orang, ketemu pasien yang anehnya gak ada ujung, ketemu kasus unik, dan yang pasti ketemu residen kece.

Hari ini gue dapet telfon, katanya ada konsul dari ruang nifas a.k.a ruang rawat buat ibu hamil atau pasca melahirkan, gak cuma itu sih, pasien perempuan yang punya masalah dengan organ kandungan pun akan dirawat di sini. Apakah lo bisa nebak siapa yang akan kita temui?

Yap. Marva. Residen sengklek ini lagi tahun ketiga juga di obs/gyn atau kandungan, yang kemaren di Masto dia ngeluh capek. Tuh liat, anaknya sekarang senyam-senyum aja like nothing happens.

"Marva,"

"Weits, Dio. Ada yang konsul ya?"

"Lah, bukan pasien lo?" Jarang sih gue harus ke rawat inap terus visite pasien, biasanya koas anestesi yang follow up, ntar gue atau residen lain yang ngecek statusnya di ruang pre-op. Kecuali emang kasusnya kita ditelfon buat ngeliat pasiennya dulu. Kayak sekarang.

"Bukan, pasiennya Benedikta." Benedikta? "Ben! Nih, anesnya dateng." Oh, temennya Marva.

"Halo, sorry tadi lagi nelfon dokter bedahnya dulu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Halo, sorry tadi lagi nelfon dokter bedahnya dulu."

"Santai, bos. Kenapa kenapa?"

Benedikta ini mukanya kayak anak umur 10 tahun ya. Bocah banget kecil lagi dibandingin gue. Dia temennya Chandra juga, which means, temennya April juga.

"Ny. P, 31 tahun, G1P0A0, tapi dia juga ada appendicitis, rencana operasi hari ini. Lo mau liat pasiennya gak?"

"Boleh, boleh. Pantes tadi koas anes laporan ada pasien appendicitis di nifas. Kamar berapa?"

"Kamar...7B. Sama gue, yuk."

Gue ambil status pasien itu dari Benedikta. Anjir?? 80 kg??

"Pagi, bu.." Benedikta masuk duluan dan disusul gue. Pasiennya emang gendut, tapi tetep cantik, hehe.

"Pagi, bu. Saya dokter biusnya ya. Masih sakit bu perutnya?"

"Masih sedikit, dok.. Ini beneran dioperasi hari ini?" Muka si ibu agak panik gitu.

"Iya, bu. Rencana hari ini, ya. Ibu udah puasa?"

"Dari jam 12 malam tadi, dok."

"Siap. Nanti saya suntik dari punggung ya, karena ibu lagi hamil. Jadi nanti gak bakal kerasa dari perut ke bawah."

"Gak dibikin tidur aja, dok? Saya takut..."

"Kan ada dedek bayi, kalo ibunya tidur nanti dedek bayinya kurang oksigen.. Nanti gak kerasa kok pokoknya pas operasi, ya?"

Si ibu refleks memegang tangan gue, "Tapi dokter ada disana kan nanti? Di kamar operasinya?"

Benedikta ketawa, gue juga. Udah berapa kali gue dapet pertanyaan kayak gini. "Saya satpam di kamar operasi, bu. Tenang aja, ya?"

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!