Eleven

10.4K 317 29

Fienna menatap curiga ke arah kakaknya, pikirannya menggabungkan semua kepingan kejadian hari ini dan membuat kesimpulan.

"Kenapa wajah kakak sama kayak Alfredo? Kakak berantem sama Alfredo???!"

*****

Mike yang mendapat pertanyaan dadakan itu, sontak terkejut. Mike menjawab dengan tergagap-gagap, "G-gak kok."

Fienna memelototi kakaknya dengan tatapan menusuk," Jawab yang jujur kak!"

"Oke, kakak emang berantem sama dia." Ucap Mike akhirnya.

"Kenapa kak? Kakak kan tau dia itu penting buat aku. Seberapa parah sih kakak berantem sama Alfredo? Luka-luka kakak sama Alfredo kayak luka habis tawuran tau gak." Kata Fienna dengan nada cemas.

Mike menyentuh luka-luka di lengannya yang mulai memudar,"Tenang aja, Dek. Kalo luka itu buat cowok gak ada apa-apanya. Lagian kakak gak bakal nangis kok dengan luka kayak gini."

"Tapi tetep aja, Kak. Aku gak mau kalian berantem kayak gitu." Ucap Fienna tidak setuju.

"Maaf, tapi kakak gak bisa biarin dia nyakitin kamu. Dia itu mainin kamu doang. Buktinya, dia jauhin kamu gitu aja." Mike berkata dengan mimik wajah geram.

Fienna menggeleng,"Gak, kak. Dia bukan orang yang kayak kakak bilang. Bukannya aku gak percaya sama kakak, tapi selama di deket dia aku tau dia gimana. Dia emang bukan cowok yang polos dan kadang nyebelin, tapi di balik semua itu dia adalah sosok yang baik."

Mike memandang Fienna dengan sendu,"Menurut kamu gitu ya. . . Yaudah kakak gak akan ngelarang kamu sama dia."

Fienna memeluk Mike erat,"Makasih, Kak. "

Setelah itu, Mike masuk ke kamarnya dan tersenyum licik. Dia mengambil HP-nya dan menelpon seseorang.

"Halo, sesuai skenario yang kita buat. Dia bakal nganggep gue kakak yang baik karena gak ngelarang dia deket sama Alfredo, tapi di satu sisi Alfredo bakal ngejauhin dia." Jelas Mike.

"Hmm, bagus. Lo emang partner kerja sama yang brilian. Gue seneng kerja sama bareng lo." Jawab suara di seberang telepon.

"Gue juga. Dengan begini, gue bisa dapetin apa yang gue mau." Mike terkekeh-kekeh.

"Cuma ada satu hal yang gue kurang suka dari lo. Lo bikin Alfredo babak belur." Nada suara di seberang terdengar judes.

"Yah gapapa lah yang penting rencana kita jalan."

"Hmm."

Tuut tutt

Sambungan telepon itu diputuskan sepihak oleh pihak di seberang sana.

******

Fienna melangkahkan kakinya ke kantin kampus dan langsung duduk di sebelah Alfredo. Alfredo menggertakkan giginya dan berlalu pergi. Fienna memegang lengan Alfredo. Alfredo melepaskan tangan Fienna di lengannya, tetapi Fienna tetap keuhkeuh memegang lengan Alfredo dengan erat.

Akhirnya, Alfredo menarik Fienna ke halaman belakang kampus yang sepi. Alfredo mendorong Fienna ke dinding dan mengurung Fienna dalam rentangan lengannya. Fienna tidak melawan seperti saat mereka pertama kali bertemu.

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!