four (another feelings)

31 0 0


wanita itu sadar, tak seharusnya ada yang di kenang dalam-dalam. Rekaman yang kini ada diotaknya hanya sebagai noise untuk kaset kosong yang akan di produksi. Enggan memaksanya untuk bertahan. Dalam lingkar yang sama. Memunculkan fatamorgana lain di kepalanya. Berharap tidak ada titik penyesalan di ujung cerita.

ini pilihan. Rayya memilihnya. Duduk berjam-jam, menyeruput red velvet di kala hujan, menyedu teh di kala senja sedang baik-baik saja. Membolak-balik halaman buku menjadi kebiasaan. Membeli kaktus setahun sekali. Berkutat di depan layar sambil memainkan jari. Mengecek e-mail. Masih sama. Semua itu membuat dirinya lupa bahwa dia melakukannya sendirian. Rasa jenuh tidak mucul sebelum benar-benar terasa di ubun-ubun. Bagaimana mungkin ia lupa dengan segalanya. Genggaman terakhir saat menyebrang jalan untuk membeli sebotol air mineral, agar wanita yang ada disampingnya tidak dehidrasi. Masih dengan cara menyentuh yang sama. Rasa yang sama. Tidak ada tanda apapun. Lalu hilang.

Rayya selalu memunculkan harapan itu setiap kali ia membuka mata. Rayya paham apa yang sedang dilakukannya. Harapan hadir bukan tanpa sebab. Salah satu alasannya karena rasa nyaman. Bercerita tanpa beban mengenai banyak hal tentang apa yang membuat mereka tertawa bahagia hingga rasa pilu. Menemukan tempat bersandar tidak semerta-merta lelah berlari kemudian duduk di bawah pohon rindang. Ia tau mana yang ia butuhkan. Rayya mampu menjawab kemana mereka akan pergi saat saku menipis. Bagaimana cara mereka menonton saat tiket di bioskop terjual habis. Apa yang akan mereka lakukan saat penat dengan rutinitas menekan mereka.

Rayya selalu kagum dengan cara berpikirnya. Realistis sesuai porsi. Sesekali mengalah saat wanitanya mulai memalingkan wajah. Diakhiri dengan tawa kecil sebagai bentuk kemenangan telah berhasil membuat Rayya kesal. 'Jangan biasakan ngeluh. Semua itu di jalanin aja.' Kalimat yang membuat Rayya selalu berpikir ulang untuk mengucapkan kata lelah. Karena Rayya hafal cara laki-laki itu memeluk saat dirinya benar-benar butuh semangat.

Tidak ada alasan untuk melupakan.

Rayya memutuskan untuk kembali masuk ke cafe. Setelah satu jam ia bersandar pada kursi panjang di halaman. Memandangi jalanan kecil yang sesekali dilewati oleh kendaraan.

Aku tidak akan menganggapmu benar-benar hilang. pergilah sebentar. Selesaikan tugasmu. Membenahi apa yang belum rapi. Menyiapkan bekal untuk berjalan jauh. Semoga ini menjadi penguatku. Aku masih menunggumu untuk pulang.




#31HariMenulis

old tasteBaca cerita ini secara GRATIS!