Kecemburuan

1.1K 90 9

Sorot mata Karna dan Drupadi masih terasa menyesakkan bagiku. Aku mulai tidak bicara dengan Karna saat itu. Hatiku terbakar dan pedih. Merasa begitu rendah saat mengingat wanita tercantik di Arya pernah menyimpan perasaan kepada suamiku.

Krisna datang sekitar sebulan setelah peristiwa itu terjadi. Alih-alih mencari Drestarasta atau Duryodhana, Krisna mendatangiku di Angga. Krisna menerima salamku dalam duka. Dia menanyakan, bagaimana persisnya kejadian penuh kecurangan itu.

"Drupadi datang kepadaku untuk mengadukan nasibnya," ada sesal dalam suara Krisna saat itu, "Seandainya saja, Raja Salwa tidak membuat masalah di Dwaraka, aku mungkin bisa mencegah bencana itu."

"Sri Krisna... saya benar-benar tak berdaya," aku merasa hatiku pedih setelah menceritakan seluruh kejadian kejam itu, "Seandainya saya menurut dan terus mengamati dari Sungai Gangga..."

"Tidak. Tidak.Tidak," Krisna menggoyangkan serulingnya, "Jalan takdir sudah dibentuk. Sekarang kita harus berjalan di atasnya hingga jalan itu habis. Kalau pun berakhir pada jurang, maka kita akan jatuh bersama-sama."

Senyuman di wajah Krisna tak sedikit pun menghibur hatiku. Krisna menatapku dengan kilat jail yang selalu menentramkan hati orang lain.

"Ada apa, Supriya?"

Oh, aku lupa. Ada alasan tertentu yang membuat Krisna lebih suka menyebut Supriya. Dia mengatakan, itu lebih sesuai dengan wanita yang penuh dengan cinta (Supriya = yang tercinta).

"Kecemburuan itu bisa menjadi racun," Krisna mengangkat satu alisnya, "Kalau kau iri hati kepada orang yang tidak memiliki apa yang kau miliki, maka saat itu, kau telah berubah menjadi seorang wanita pendengki."

Aku menunduk tanpa berani menatap wajah Krisna.

"Kau tahu, Supriya? Beberapa hari lalu, aku mengunjungi Drupadi. Saat itu, Resi Durwasa hendak berkunjung. Kau tahu, kan? Resi yang terkenal temperamental itu?"

Aku mengangguk.

"Di lumbung mereka hanya ada sebutir beras. Drupadi bingung harus berbuat apa."

Krisna menyunggingkan senyuman misterius. Membuatku mau tak mau harus membuka mulut.

"Lalu apa yang anda lakukan?"

"Ketika sebuah masalah sudah melampaui kemampuan manusia, apa yang seharusnya dilakukan?" Krisna tertawa, "Supriya, aku hanya bisa memberkati beras itu lalu menelannya separuh."

"Dan separuhnya lagi?"

"Tentu saja kuberikan kepada dunia," tawa Krisna mengalun seperti nyanyian. Aku membayangkan keajaiban yang terjadi. Mungkin beras itu bertambah berkali-kali lipat. Mungkin beras itu berubah menjadi hidangan-hidangan lezat...

"Pada saat Resi Durwasa dan rombongan datang, mereka sudah kenyang," Krisna tampaknya membaca pikiranku, "Hal sederhana seperti itu, bisa menjauhkan manusia dari penderitaan. Kenyang. Puas."

Mendengar perkataan Krisna, aku menangis sejadi-jadinya. Menangisi kecemburuanku. Menangisi suamiku yang kini terperosok semakin dalam karena keserakahan sahabatnya. Semua orang menyebut Karna mabuk ketenaran, dan aku semakin malu mendengar ejekan itu.

"Ada titik di mana kau tak bisa berbalik lalu melangkah kembali," Krisna mengatakan, "Hati-hatilah, Supriya. Kau pernah melewati batas. Jangan sampai kau semakin tersesat."

"Tapi suamiku telah tersesat, Sri Krisna."

Krisna menggeleng lalu memandangku dengan kasih sayangnya.

"Supriya, apakah kau pernah mendengar legenda tentang Dewa Surya?"

Aku menggeleng. Sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan oleh Krisna.

Krisna memutariku sekali, seperti yang dulu dia lakukan di Panchala.

"Konon, Dewa Surya rela membakar dirinya sendiri agar bisa menerangi dunia," Krisna berkata, "Mungkin kau bisa belajar dari cerita itu."

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang