Ten

11.6K 348 21

"Gue cinta dia. . . ."

Itu adalah kata-kata Alfredo yang terakhir sebelum dia tidak sadarkan diri. Kemudian, Mike masuk ke mobil dan meninggalkan Alfredo disana.

*******

Alfredo memaksakan dirinya untuk tetap pergi ke kampus walaupun badannya terasa nyeri di berbagai tempat. Belum lagi wajahnya sangat berantakan dan penuh luka.

Alasan dia pergi ke kampus adalah untuk melihat Fienna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Alasan dia pergi ke kampus adalah untuk melihat Fienna. Dia memandangi Fienna yang sedang mendengar lagu dari headset-nya dari kejauhan. Alfredo sempat melangkah mendekati Fienna, sebelum akhirnya kembali mundur dan berbalik pergi.

"Now, she isn't my girl again. I have to keep my promise. Even if my heart say I don't have to." Alfredo membatin.

Fienna melihat Alfredo melangkah jauh. Spontan, Fienna menghampiri Alfredo dan menepuk bahu cowok itu.

"Hey, mau kemana lo?"

"Ke kelas." Jawab Alfredo datar tanpa ekspresi.

Fienna memperhatikan wajah Alfredo yang berantakan dan membuka mulutnya shock.

"Astaga, muka lo kenapa bisa gitu?" Fienna menjulurkan telapak tangannya ke pipi Alfredo. Fienna mengusap pelan luka di wajah Alfredo itu dengan jari tangannya.

Alfredo menepis tangan Fienna dan menjawab dengan nada ketus,"Gue gak papa."

Fienna terkejut dengan sikap Alfredo, sedangkan Alfredo melangkahkan kakinya menjauh dari Fienna dengan sikap tidak peduli, tetapi Fienna menarik lengan bajunya.

"Jangan jauhin gue!" Kata Fienna dengan suara serak.

"Siapa yang jauhin lo? Gue cuma. ." Kata-kata Alfredo terhenti. Ia tidak sanggup mengatakan kebohongan.

Fienna mendongakkan kepalanya,"Cuma apa? Sejak kemarin, pas lo nanya gimana reaksi gue saat lo jauhin gue. Gue udah curiga karena sikap lo aneh. Tapi sekarang gue tau."

"Tau apa?"

Fienna menatap Alfredo dengan matanya yang berkaca-kaca,"Tau kalo ternyata kebersamaan ini gak ada artinya buat lo. Lo anggep apa kita selama ini, Al? Gue udah biarin lo merenggut semuanya dari gue. Tapi apa ini balasan lo? Dengan ninggalin gue?"

Batin Alfredo ingin merengkuh Fienna tetapi ia sadar ia tidak boleh. Alfredo memalingkan wajahnya tidak mau memandang Fienna. Alfredo tau jika dirinya terus menatap Fienna, pertahanan dirinya akan runtuh. Pada akhirnya, ia akan mengingkari janjinya yang telah ia buat dengan Mike saat pertaruhan itu. Alfredo ingin menjadi laki-laki sejati yang menepati sebuah janji. Ini semua adalah konsekuensi-nya karena kalah dari Mike. Ini adalah hukuman untuknya.

Alfredo melepaskan tangan Fienna yang memegang bajunya, lalu pergi menghilang dari pandangan Fienna.

Lutut Fienna terasa lemas, ia berjalan tersaruk-saruk menuju kelas mata kuliahnya. Kemudian, Fienna tidak dapat berkonsentrasi mengerjakan kuis di kelas yang diselenggarakan oleh dosennya. Akibatnya, ketika hasilnya kuis dibagikan, dosennya menegurnya. Dosennya mewanti-wanti Fienna agar lebih banyak belajar dan mempertahankan nilainya di semester sebelumnya.

Sepulang kuliah, Fienna menunggu Alfredo di samping motor Alfredo. Fienna tidak mau menyerah begitu saja. Setelah sekitar 5 menit Fienna menunggu, Alfredo berjalan bersama teman-temannya memasuki pelataran parkir.

Begitu melihat Fienna, Alfredo sudah berniat berbalik pergi. Namun, karena kehadiran teman-temannya Alfredo mengurungkan niatnya itu. Dia tetap berjalan menuju motornya dan mengabaikan keberadaan Fienna.

Brumm

Bunyi main motor yang baru menyala itu meraung kencang dan diiringi motor Alfredo yang melesat pergi. Fienna menghembuskan napas kuat-kuat dan menjinjing tas-nya dan berjalan ke halte bus dekat kampusnya.

Halte itu adalah pertemuan pertamanya dengan Alfredo. Sebelum kejadian itu, dia dan Alfredo tidak saling mengenal. Interaksi diantara mereka paling-paling hanya Fienna yang mencibir atas kelakuan Alfredo yang playboy dan Alfredo yang mengomentari penampilan Fienna bersama teman-temannya, tetapi mereka tidak punya hubungan apapun. 

"Iyaa, itu gue. Kenapa? Lo terkesan sama popularitas gue ya? Gue udah biasa."

Kata-kata Alfredo itu membuat Fienna tersenyum kecut saat mengingatnya. Lalu, Fienna mengingat ciuman pertamanya yang direnggut oleh Alfredo di halte. Sungguh ironis hidupnya. Dia punya orangtua workaholic, Alfredo menjauhinya setelah memanfaatkannya.

Tak lama, bus yang ditunggu Fienna datang. Dia menaiki bus itu dan duduk di sebelah jendela. Fienna menghabiskan sepanjang perjalanannya dengan melamun sambil menatap keluar jendela.

Setelah sampai di rumahnya, Fienna mengganti baju seragamnya dan menonton DVD. Ia berusaha menghilangkan perasaan gundahnya dengan menonton film komedi. Akan tetapi, semua lelucon dalam film itu tidak dapat membuat Fienna tertawa. Fienna malah larut dan terfokus pada lamunannya dibanding dengan film yang diputarnya.

Di tengah film, kakaknya ikut bergabung bersamanya. Fienna yang sedang melamun tidak mengacuhkan Mike. Setelah film itu berakhir, barulah Fienna menengok ke arah kakaknya yang duduk di sebelahnya.
Fienna terkejut melihat wajah kakaknya yang dipenuhi lebam dan luka.

Fienna menatap curiga ke arah kakaknya, pikirannya menggabungkan semua kepingan kejadian hari ini dan membuat kesimpulan.

"Kenapa wajah kakak sama kayak Alfredo? Kakak berantem sama Alfredo???!"


TBC

Maaf ya part-nya pendek dan membosankan. Author sih pengennya part ini dapet feel-nya.😅
Tapi hasilnya tidak sesuai ekspektasi😫😫

Makasih ya yang udah mau baca😘😘

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!