Adrio

"ETT-nya pake yang nomor 6,5 aja, teh. Propofol, Fentanyl sama Noveron udah masuk kan?" Gue udah dalam posisi siap melakukan intubasi. Gue melihat jam, menghitung udah berapa lama pasien ini gue bagging. "2 menit lagi mulai intubasi ya."

"Siap, dok."

Di rumah sakit ini, di Instalasi Bedah Sentral ini, setahun yang lalu, gue bertemu April. Dia masuknya setahun setelah gue, jadi jatohnya dia junior gue walaupun umur kita sama. Mungkin sebelum memutuskan sekolah lagi, dia kerja dulu atau kuliah S2 atau mau nikah. Eh, jangan dong. Kan nikahnya nanti sama gue gimana sih. Gue pertama kali liat dia di lobi IBS, dia lagi pengarahan sama seniornya. Mukanya polos, she had her messy bun dan gue belom pernah sesuka itu sama cewek dengan messy bun. Sekali gue ngeliat dia, awalnya sih biasa aja karena seorang Adrio gak pernah kesengsem sama cewek. I wasn't into a relationship that time, seriously.

"Ini dok ETT-nya,"

"Yuk, mulai." Tangan gue udah pegel dariadi bagging mulu. "Kamu yang intubasi, dek. Sini saya ajarin. "Gue berdiri di sebelah koas, ngasih tahu dia gimana cara megang laringoskop yang bener dan ngasih tahu ETT harus masuk kemana. Sebelum pasien di operasi, pasien harus diintubasi dulu. Intubasi ini adalah proses memasukkan alat bantu napas macem pipa atau lubang buat membantu jalan napas dia selama operasi. Ini namanya ETT atau endotracheal tube, udah paling awam dipake buat operasi. Eh, gak apa apa ya gue sambil cerita April, gue cerita juga tentang kehidupan gue. Tenang, lo bakal tau kehidupan yang lain kok ntar.

"Kamu pegang laringoskop pake tangan kiri, masuk sampe trakea, nanti kelihatan selaput warnanya agak pucat, itu vocal cord. Ketemu gak?"

"Gak keliatan, dok," Ujar koas.

Gue sedikit menekan bagian kerongkongan pasien. Biar agak kedorong dan bisa kelihatan si vocal cord-nya. "Sekarang keliatan?"

"Kelihatan, dok!" 

"Nah, masukkin deh tube-nya terus sambungin sama alat." Gue mengarahkan. 

Setelah pertemuan pertama kali gue sama dia, gue udah mulai suka liatin dia sehari-hari. Tapi sayangnya, gue cuma liat dia kalo memang dia ikut operasi. Karena kerjaan residen bedah gak cuma di kamar operasi, mereka nyebar juga ke IGD, poliklinik bedah, rawat inap bedah (padahal ranap bedah ya masih di gedung IBS juga) dan kadang ke gedung ranap anak. Sedangkan gue menghabiskan separuh waktu gue di kamar operasi, paling melipir ke ICU atau ke ruang post-op buat sekedar cek tanda vital pasien.

Tapi, pertemuan kedua gue sama April ini agak menyimpang sebenernya. Tapi bermakna. Lo pada tau kan gue suka main band? Nah, waktu itu tuh gue diminta buat ngisi acara tahunan rumah sakit. Semacam charity show gitu, gue ajak band gue akustikan aja karena gak mungkin kita jingkrak jingkrak sedangkan pasiennya pada di kursi roda semua. Waktu itu acaranya di IBS, dan kebanyakan pasien bedah dari mulai anak kecil sampe dewasa atau lanjut usia pun pada dateng. Pasien dari gedung ranap anak juga dateng karena one of their favorite resident, Satria, ikut tampil. Lobi IBS penuh sama kursi roda dan tiang infus, semua selalu seneng kalo ada charity show. Gue inget banget, waktu itu gue pake flanel merah dan April pake baju jaga dia yang navy blue. Dia ngeliatin kita main dari kerumunan paling belakang. Wajah dia keliatan capek, tapi senyumnya gak ilang sama sekali. Pas gue nyanyi, ini gue geer sih kayanya, tapi gue yakin April ngeliatin gue. ASLI. GAK BOHONG. Gue juga balik ngeliatin dia lah, padahal pas itu lagu nya tentang putus cinta.

That was, for me, one of the greatest moment I've ever got

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

That was, for me, one of the greatest moment I've ever got. Gue gak peduli gue lagi nyanyi lagu putus cinta, yang penting dia ngeliat gue nyanyi. Hahay dangdut emang. Tapi gue seneng. Meskipun abis gitu dia pergi buru-buru, kayanya karena ada pasien, sih. Senyum gue gak berhenti disitu dan kayanya Satria nyadar senyum gue sedikit mencurigakan.

"Lo kenapa, Yo?"

"Hah? Emang gue kenapa?"

"Senyum lo patologis banget, jir."

"Hehehe."

"Gara-gara April ya?"

"Siapa lagi,"

"Dia kenapa malah dipanggil 'Qil' sih? Perasaan namanya April bukan Qil."

"Ya terserah anak orang, Sat. Lo gue panggil Bob juga nengok-nengok aja."

"Sialan lo."

Emang jauh sih ya? Dari April, eh, malah dipanggilnya Qil. Tapi..yang gue tangkep, yang manggil Qil juga cuma beberapa. Siapa aja ya? Kalo gak salah tuh, dua temennya April yang ngikutin April kemana-mana, Chandra sama temen dia yang cewek yang gue gak tau siapa. FYI, Kaisar, Chandra sama si cewek itu adalah temen kuliah April, which means udah kenal lama sama April. Gue belom berani kalo disuruh manggil Qil, tapi April juga gak nyuruh sih. Gak usah geer guenya.

"Dok, dimulai ya operasinya.." kata dokter Bil, bedah saraf yang sekarang lagi satu ruang operasi sama gue.

"Eh, iya, dok. Silahkan." Tuh kan, gue sampe lupa gue lagi jagain operasi dokter Bil. April-April ini bikin gue susah fokus terkadang, gak kadang malah, sering. Apalagi kalo gue lagi bareng dia di kamar operasi. Beuh, koas anestesi harus berapa kali nepuk bahu gue untuk menyadarkan gue.

**

-------------------------------------

note:

ETT = endotracheal tube

Propofol, Fentanyl, Noveron = Obat-obatan anestesi

Hello!!! Ambiverrrt is here! Terima kasih sudah membaca, komen dan kasih vote :") aku terharu sekali. Semoga kalian enjoy baca cerita ini yaa. Kritik dan Saran sangat ditunggu loh to make this story much better.

Kalo ada yang mau ide nanyain tentang Qil/April, atau tentang siapapun komen aja ya.

HAPPY READING!

much love, Ambiverrrt

Tentang AprilBaca cerita ini secara GRATIS!