4

19.5K 1.2K 18

Mereka berhenti di sebuah mansion.
Carissa menatap mansion itu dengan heran."Kau tidak bermaksud untuk mencuri mension ini dari pemiliknya kan?"

"Sayangnya, aku telah melakukannya." Maxim berjalan masuk ke dalam mension itu dan disambut beberapa pelayan di sana.

Carissa berjalan mengikuti Maxim dan pikirannya mulai bertanya-tanya. Siapa sebenarnya lelaki ini?

Tentu saja Carissa heran. Bagaimana tidak? Orang seperti Maxim yang ia kenal sebagai bodyguard memiliki mansion seperti itu.

Maxim masuk ke dalam sebuah kamar, sedangkan Carissa memilih menunggu di luar kamar. Ia tidak tahu mengapa mereka ke tempat ini. Bagi Carissa tidak ada yang menarik dari mension mewah ini. Ia sudah terlalu bosan melihat hal yang mewah.

Carissa mengedarkan pandangan ke arah pintu kamar yang tidak tertutup rapat, membuatnya bisa melihat dalam ruangan itu melalui cela pintu.

Di sana Maxim sedang membuka kaosnya. Carissa hendak segera mengalihkan pandangannya, namun terlihat tato berbentuk elang di punggung lelaki itu. Seketika Carissa tertegun. Ia tahu tato itu bukan hanya sekedar tato. Melainkan lambang dari suatu organisasi. The Eagle.

Empat tahun yang lalu, sesorang dari organisasi itu pernah membunuh mendiang kakeknya. Sungguh mengejutkan bahwa salah satu anggota itu menjadi anak buah kepercayaan William. Apakah lelaki itu merencanakan hal yang sama padanya? Membunuhnya?

Carissa tanpa sengaja menyenggol pintu dan menimbulkan suara, hingga lelaki itu menoleh. Tanpa berpikir panjang, Carissa lari secepat mungkin dari tempat itu.

Maxim yang menyadari itu, langsung mengejar Carissa. Ia menghubungi bawahannya untuk menutup pintu utama agar Carissa tidak bisa keluar dari mansion.

Carissa menatap pintu besar itu yang telah ditutup dari luar. Ia mencoba untuk membuka pintu itu, namun terkunci.

Saat ia berbalik-mencari tempat untuk keluar- Maxim berada di sana, menatapnya. Carissa menatap seisi ruangan, mencari benda apa saja untuk melindungi dirinya dari lelaki itu.

Melihat Maxim berjalan mendekat ke arahnya, membuatnya semakin panik. Tatapannya terjatuh pada sebuah pistol yang terletak di meja yang tidak jauh darinya. Dengan cepat, ia mengambil benda itu lalu menodongnya ke arah Maxim.

"Jangan mendekat!! Atau aku akan menembakmu," ucapnya berusaha memegang benda-yang menurutnya- berat itu agar tidak terjatuh dari tangannya.

Maxim terkekeh menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut mati di tangan gadis itu.

"Aku melihatnya. Kau dari organisasi itu. Katakan apa tujuanmu dan siapa mengutusmu?" tanyanya sambil mengawasi gerak-gerik lelaki itu. Tiba-tiba datang segerombolan pria berjas dengan menodong pistol ke arah Carissa. Sepertinya mereka bawahan lelaki itu.

Maxim memberi kode pada bawahannya untuk menurunkan senjata mereka dan menyuruh mereka untuk keluar dari ruangan. Kini hanya tinggal mereka berdua.

Bisa-bisanya dirinya percaya dengan orang asing begitu saja. Perlahan, Carissa berjalan mendekati Maxim. Melihat reaksi Maxim yang tenang saja, membuatnya kesal.

"Apa yang kau tunggu? Tembak saja." Carissa menatap lelaki itu tidak percaya. Apa lelaki itu tidak takut mati? Atau diakah yang takut membunuh orang? Carissa segera membuang pikiran itu. Bukankah ini dunia yang sebenarnya? Ia tidak akan takut.

"Sebelum, aku membunuhmu. Katakan apa tujuanmu dan siapa yang mengutusmu. Kalau aku membunuhmu sekarang, aku tidak tahu siapa dalang dari ini semua."

Maxim masih terlihat tenang dan ia menatap Carissa lekat. "Tujuanku hanya untuk melindungimu dan aku tidak memiliki atasan."

"OMONG KOSONG!!!" bentak Carissa kesal.

"Itu benar."

Mata hijau Carissa menatap Maxim tajam. Gadis itu seketika berubah kasar setelah mengetahui organisasi itu.

"Kau bilang tidak memiliki atasan? Itu berarti kau ketua organisasi itu? Dan kau adalah dalang dari kematian kakekku bukan? Apa itu juga benar, BRENGSEK?"

Maxim hanya diam, membuat Carissa berpikir bahwa itu semua benar. Dengan penuh dendam, Carissa menekan pelatuknya ke arah Maxim, hingga benda tembaga itu menembus pada bahu kiri lelaki itu.

Seketika Maxim mengerang kesakitan dan tersungkur ke lantai. Melihat Maxim bersimpah darah, membuat sekujur tubuh Carissa kaku. Ini pertama kalinya ia melukai seseorang.

Tiba-tiba segerombolan pria tadi, datang setelah mendengar suara tembakan. Carissa yang menyadari itu, segera menarik pelatuknya ke arah jendela besar yang berada di sebelah pintu, lalu keluar melalui pecahan kaca itu, sebelum anak buah Maxim menangkapnya.

Maxim menatap kepergian Carissa dengan penuh amarag. Habis sudah kesabarannya. Ia tidak akan membiarkan gadis itu pergi. Tidak akan pernah. "Jangan perdulikan aku. Kejar dia sekarang, CEPAT!!!" perintahnya. Kemarahannya mengalahkan rasa sakit pada bahu kirinya. Ia bahkan mengeluarkan peluru itu dengan tangan kosong. "Arrgghhh.."

Tidak lama kemudian pelayan datang hendak membopongnya dan membawanya ke kamar, namun Maxim tidak membiarkannya. Ia harus mengerjar Carissa. Ia tidak bisa diam saja.

Mengabaikan luka di bahunya, Maxim berlari menuju mobilnya dan mengejar Carissa.

Sedangkan Carissa terus berlari secepat mungkin. Berharap ada kendaraan yang lewat dan memberinya tumpangan, namun tidak ada satupun kendaraan yang lewat di daerah itu. Sebenarnya di mana ia sekarang?

Sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Keluar pria berjas hitam dari mobil itu.

"Ini perintah tuan, my lady. Anda harus ikut saya." ucap pria itu.

"Tidak!!! Pergilah!" ucap Carissa hendak berlari menjauhi mereka, namun mobil yang lain datang menghalanginya. Pria berjas hitam keluar dari mobil itu dan datang untuk menangkapnya.

"Maaf, my lady."

Carissa memberontak saat mereka menariknya untuk masuk ke dalam mobil.

"Lepaskan dia!"

Tiba-tiba Maxim turun dari mobilnya dan menatap Carissa tajam. Ia berjalan menghampiri Carissa dan mencekram lengan gadis itu erat-erat.

"Ikut denganku."

***

Sepertinya pecinta Carissa dan Maxim belum terlalu kelihatan😂

Sabaaar😄

Oke. Yang ingin kisah mereka lanjut, plis komen. Biar aku semangat nih lanjutin nya.

IG: capricorn_rere

MY MYSTERIOUS BODYGUARDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang