4

48 1 0

Dentuman musik yang keras menghantam telinga. Bau alkohol menyeruak di sertai dengan asap rokok yang pekat memenuhi ruangan. Tidak hanya lelaki, disini semuanya berbaur menjadi satu. Termasuk salah satunya Akbar. Ia kini duduk di bar yang sudah disediakan.
"Pesan apa, mas?"
"Yang biasa aja!" Bartender itu pun mengangguk. Ia sudah sering melihat Akbar ada ditempat ini. Akbar memberikan sebuah kartunama setelah bartender itu menyajikan apa yang Akbar pesan tadi.
Ia teringat beberapa minggu sebelumnya saat Akbar mabuk berat dan pihak Club tidak tahu harus dibawa hingga mereeka mengantar Akbar. Dan pada saat itulah akbar dapat masalah besar. Ia dimarahi habis habisan oleh ayahnya. Dan kali ini ia tak ingin lagi itu terjadi hingga ia memutuskan untuk menghubungi sepupunya untuk menyelamatkannya.
***
Akbar terbangun dengan tubuh yang pegal. Ini bukan aroma kamarnya, ia sangat tahu itu. Lalu dia dimana?
Perlahan Akbar membuka matanya, ia melihat sekeliling dan ia sekarang tahu dimana dia berada. Akbar bangun dan memijit pelipisnya, kepalanya berat sungguh berat. Ia tak begitu ingat bagaimana dia bisa sampai disini dan berapa banyak ia meminum minuman yang membuatnya seperti ini. Terdengar handle pintu terbuka dan tampak sosok yang sering ia temui.
"Udah mendingan, Bar?" Sapanya membuat Akbar tersenyum. Ia tahu laki laki itu kesal karena dirinya mengganggu kenyamanannya. Akbar mengangguk menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh sepupunya itu. "Kenapa sih, Bar? Lo ada masalah?" Tanya sepupunya itu. Ia menyodorkan minum dan obat pereda pusing untuk Akbar. Walaupun mereka tidak seibu dan seayah, tapi dia tetap perduli pada Akbar.
"Kepala gue pusing, Bang!"
"Iyalah pusing, lo mabuk banget tau gak! Gue tuh sampe gak tidur nemenin lo muntah!" Akbar menoleh menatap pria itu 'gue parah banget ternyata' batinnya.
"Sorry, Bang!"
"Yaudah sih, tuh baju lo tadi di anter supir, pake sana! Hari ini ada kuliah pagi!"
Akbar tersenyum menatap laki laki itu. Di kampus mereka biasa saja namun jika sudah berdua begini rasanya tali persaudaraan mereka terjalin begitu erat.
"Thanks, Bang!"
"Geli, Bar!! Please!" Dengus pria itu seraya beranjak keluar kamar.
Akbar terkekeh pelan. Dia paling tidak suka dipanggil Abang. Alasannya sederhana, karena mereka seumuran. Dia pernah berkata kalau Akbar panggil Abang, rasanya terlalu tua.

***
Kasih kini menunggu waktu yang tepat dimana ia bisa memberikan hadiahnya untuk Akbar. Biasanya Kasih memberikan hadiahnya tepat saat Akbar tengah ada di perpustakaan. Selalu seperti itu karena Akbar sering menuju perpustakaan. Selama yang Kasih tahu Akbar selalu diam diperpustakaan pada waktu waktu tertentu. Kini ia sendiri pun tengah diam diperpustakaan menunggu Akbar datang. Sepertinya ia takkan bertemu Akbar hari ini.
Satu pesan muncul di layar handphone Kasih.
'Kasih? Dimana?'
Itu dari Nada sahabatnya. Ia tak menghiraukan pesan yang ia dapat dari Nada. Ia menatap nanar pada kotak hadiahnya. Kasih beranjak dari tempat ia duduk dan beranjak keluar. Tapi langkahnya terhenti saat Akbar masuk dan menyimpan tasnya di loker perpustakaan. Senyum terukir di bibir gadis itu.
'Akbar selalu luar biasa!' Batinnya.
Kasih meneruskan langkah keluarnya menuju lokernya sendiri. Perpustakaan selalu sepi dan ia punya banyak kesempatan menggantungkan hadiahnya di pintu loker Akbar. Ia lega saat hadiahnya dapat sampai di tangan Akbar dan itu tandanya berarti Akbar akan melihatnya. Entah itu mau Akbar kenakan atau tidak Kasih tidak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah hadiah itu sampai di tangan Akbar.

Akbar seperti biasanya menumpang tidur di perpustakaan dan ia akan bangun saat perpustakaan tutup. Sperti saat ini ia baru saja bangun setelah mendengar bunyi lonceng tanda perpustakaan akan tutup. Sebenarnya ia menunggu hadiah di hari ini, karena ia yakin setiap tahunnya ia akan mendapat hadiah. Ini bukan ulang tahunnya, Akbar juga tidak mengerti kenapa di setiap tanggal sekarang di setiap tahunnya, ia selalu mendapat hadiah. Bukan barang mewah yang selalu ia dapat dari para wanita yang memujanya. Ia selalu mendapat barang yang sederhana dan Akbar suka itu. Ia keluar menuju loker tempat ia menyimpan barang bawaannya. Senyum terukir di bibirnya saat sebuah bingkisan tergantung di lokernya. Ia menoleh ke sekitar perpustakaan, barangkali orang yang memberinya bingkisan masih ada disini. Tapi ia harus menelan kekecewaannya saat perpustakaan sudah kosong.
Akbar membuka bingkisannya saat ia sudah sampai di taman dan duduk di sebuah bangku taman panjang. Kali ini ia mendapat sebuah topi hitam dengan huruf A di depannya. Topi yang sederhana dari gadis yang sederhana pula, pikirnya.
Ia mencari note dan ia menemukannya.

Selamat bertemu kembali Akbar,
Semoga kita selalu bertemu ditanggal yang sama.

KF
Selalu inisial itu yang Akbar dapatkan.
"KF itu siapa?" Lirihnya.
Gadis ini sungguh tak pernah Akbar duga. Ia tak tahu siapa KF, dan kenapa selalu setiap tahunnya. Di hari ulang tahunnya tidak ada yang mengirim hadiah dengan inisial KF.
Akbar tak ingin ambil pusing dengan inisial, karena ia sangat menyukai hadiah yang selalu ia dapat dari sipengirim hadiah.
Baginya hadiah yang mewah dapat ia beli dan selalu ia gunakan. Tapi sesederhana ini, Akbar senang ada yang tahu apa kesukaannya. Hanya sebuah hadiah sederhana dan itu sangat bermakna bagi dirinya.
***
Kasih tersenyum sendiri saat menatap layar handphonenya. Hari ini ia sedang dalam matakuliah yang sangat membosankan. Tapi semua itu hilang saat dengan sengaja Nada mengiriminya foto Akbar tengah tertawa lepas. Bukan itu yang membuat Kasih bahagia, tapi apa yang Akbar kenakan. Itu adalah hadiah darinya, dan Akbar mengenakannya hari ini. Baru kemarin ia memberikannya, dan itu membuat Kasih mampu menghayal berlama-lama jika ia tengah bahagia begini.
Nada memang selalu mengerti dirinya disaat Kasih sedang bosan ia selalu tahu cara ampuh menghilangkan bosan di diri Kasih. Perkuliahan baginya tidak terlalu penting, yang terpenting bagi Kasih adalah dimana ia biasa setiap hari menatap pangeran impiannya, Akbar Alvaro.
"Kamu dapet dari mana fotonya Akbar, Da??" Tanya Kasih. Saat ini mereka sudah berada di kantin. Nada bilang, ia kelaparan menunggu Kasih selesai dengan matakuliahnya, jadi mereka langsung menuju kantin.
Bukannya menjawab, Nada malah tersenyum menatap Kasih.
"Nada, jawab dong! Aku penasaran banget ini!!"
"Itu gak sengaja juga gue dapetnya, Sih. Kebetulan aja dia lewat pas kita lagi chat, dan lo bilang Bad Mood"
"Uuhh Nada, as always, thank you " Nada memutar bola matanya. Baginya Kasih itu sudah terkena penyakit cinta yang akut!
Mereka tengah asik berbicara mengenai masalah masing masing, hingga suara itu membuat mereka terkejut, terutama Kasih.
"Kita gabung ya?"
Kasih menoleh, ia terkejut tentu saja! Bagaimana mungkin, apa ini mimpinya, atau malah dia terjebak di dunia khayalannya.

KeKasihKuRead this story for FREE!