Enam

1.7K 221 23

Sepeninggal Dira aku masih saja berdiam diri di dalam kamar. Rasanya aku tak ingin keluar kamar dan memperlihatkan mataku yang bengkak kepada keluargaku.

Paper bag dari Pras yang di titipkan kepada Dira masih teronggok di lantai kamarku. Aku masih enggan untuk membuka dan mengetahui isi dari paper bag itu.

Apakah aku masih marah pada Pras? Entahlah perasaanku saat ini sungguh campur aduk antara marah dan sedih. Marah karena aku telah di bohonginya selama 1,5 tahun berpacaran dan sedih karena tahu saat ini dia tengah bertugas entah dimana.

Kembali aku melihat photo yang Pras kirimkan padaku. Baret merah, rasanya itu sesuatu yang sedikit menakutkan bagiku.

Tidak, aku bukan takut dengan baret merahnya. Tapi aku takut tak dapat mendampingi Pras dengan baik, tak dapat kuat saat harus di tinggal tugas seperti sekarang ini.

"Nil," kata mama sambil membelai rambutku.

Aku langsung memeluk mama dan menangis di pelukan mama mengeluarkan semua rasa yang aku rasakan.

"Sudah jangan nangis, mama dan papa tak marah dengan kebohongan Pras," kata mama bijak.

"Kenapa mama dan papa gak marah?"

"Sayang, setiap orang yang berbohong pasti memiliki alasan, begitu pun dengan Pras,"

"Tapi...,"

"Berdamailah dengan hatimu sayang. Ini apa?"

"Itu pemberian Mas Pras yang dititipkan pada Dira,"

"Bukalah,"

Aku membuka isi paper bag itu, isinya adalah sebuah baju berwarna hijau pupus lengkap dengan kerudungnya.

Aku membuka lipatan baju itu dan kutemukan sebuah kertas terselip di dalamnya. Aku membuka kertas tersebut yang ternyata sebuah surat yang di tulis tangan.

"Teruntuk kelasih hatiku

Maafkan aku sayang yang tak mampu menjelaskan semuanya saat ini kepadamu. Inginku jelaskan semuanya sekarang, tapi Negara memanggilku untuk menjalankan tugasku sebagai abdi negara.

Aku tak pernah ingin kamu mengetahui semuanya dengan cara seperti ini, aku ingin kamu tahu dari diriku secara langsung. Tapi ternyata takdir Tuhan berkata lain, Dia memilihkan jalan sendiri agar kamu tahu siapa aku sesungguhnya.

Ini adalah pakaian persit untuk pengajuan kita nanti, hampir semuanya telah aku urus walau aku terpaksa menyuruh orang bukan mengurusnya sendiri. Di dalam amplop lain, ada beberapa hal untuk pengajuan kita, bukalah dan bacalah.

Aku sangat yakin jika pakaian ini akan pas di tubuhmu. Walau kita jarang bertemu, tapi aku masih ingat bentuk tubuhmu.

Maaf sayang aku tak dapat menulis banyak dan tak dapat berkata romantis karena kamu tahu aku bukan orang romantis.

Aku berangkat sayang, jaga dirimu dan hatimu untukku sayang.

I Will Always Love You Bu Boss"

Aku melipat kembali surat yang terselip di dalam pakain tadi. Aku menangis sejadi-jadinya tak pernah menyangka jika dia akan melakukan hal seperti itu.

Aku tak pernah tahu jika dia benar-benar telah memikirkan semua masa depan kami hingga mengurus pengajuan untuk kami, walau mungkin hanya hal-hal yang bagian dia saja.

Sekarang semua rasa yang ada di dalam hatiku benar-benar telah campur aduk. Marah, sedih, dan kagum tercampur dengan sempurna.

Aku yang tak pernah tahu dunia militer, tak pernah tertarik dengan orang militer kini seolah dipaksa memahami semuanya dalam waktu singkat.

Tidak, rasa cintaku pada Pras tak lantas hilang hanya seorang militer. Aku memang tak tertarik dengan dunia militer, tapi aku mencintai dia apa adanya, sudah menjadi konsekwensiku untuk menerima pekerjaan dia sekarang.

Mama kembali memelukku dengan erat dan mencoba menenangkanku. Mama selalu menjadi orang yang dapat memahami dan mengertiku.

"Jangan menangis lagi Nil, tenangkan dirimu," kata mama sambil melepaskan pelukannya.

Mama beranjak dari kamarku dan membiarkanku seorang diri. Mama ingin agar aku menghadapi semuanya dan menerima apa yang sudah terjadi.

Mungkin lebih tepatnya jika mama ingin aku berdamai dengan keadaan. Bukan sesuatu yang mudah memang, apalagi aku tak pernah tahu jika dia seorang TNI.

Aku beranjak dari tempat tidur, aku berjalan ke sisi jendela kamarku. Kupandangi langit yang perlahan mulai gelap menandakan akan turun hujan.

Kutarik nafas dalam dan merasakan oksigen memenuhi setiap rongga paru-paruku. Perlahan hatiku mulai tenang dan amarah yang aku rasakan mulai menguap bersama dengan angin yang berhembus.

Kring...ponselku berbunyi dengan sangat nyaringnya. Ternyata itu telpon dari Kak Andra.

"Hallo kak," kataku.

"Kamu habis mewek ya? Kenapa? Pras bikin kamu nangis lagi?"

Kakakku yang satu ini memang sangat tahu bahwa aku sering kali menangis hanya karena Pras. Selama satu tahun kami berpacaran, aku selalu dan selalu menangis, ada saja ulah Pras yang membuatku menangis.

Namun itu satu tahun awal kami berpacaran. Selama enam bulan terakhir ini aku sudah tak pernah menangis lagi bahkan saat dua bulan Pras tak mengabariku.

"Ya kak," kataku lemah.

"Kenapa lagi?"

"Dia bohongi aku kak,"

"Bohongi apa?"

"Benar kata kakak, dia baret merah,"

"Tahu darimana?"

Mau tak mau akhirnya aku menceritakan semuanya padanya. Dia hanya diam mendengarkan tapi sesekali dia tertawa. Kesal juga saat kita bercerita tetapi malah di tertawakan.

"Oh iya tadi aku juga lihat dia di pom, mungkin ketika pulang dari rumahnu ya?" kata Kak Andra.

"Entahlah kak, yang jelas sekarang dia sedang pergi bertugas,"

"Sabar kamu kan sudah biasa,"

"Biasanya aku hanya tahu dia gak punya pulsa kak,"

"Ya anggap saja seperti itu,"

"Ya gak bisa kan aku tahu. Oh iya kak, dia ngasih seragam persit dan beberapa hal yang harus aku siapkan untuk pengajuan,"

"Paling juga photo copy ktp dan kk saja yang belum, sisanya sudah dia uruskan?"

"Darimana kakak tahu?"

"Aku kan peramal,"

Aku tertawa memdengar ucapan Kak Andra. Di memang suka beecanda dan itu selalu membuatku tertawa lepas bahkan saat aku sedang sedih sekali pun.

Dalam hati aku sangat bersyukur karena memiliki kakak seperti dia. Walau dia bukan kakak kandungku, tapi dia sudah seperti kakakku sendiri yang selalu ada di kala aku membutuhkannya.

"Sudahlah jangan nangis lagi, ayo kamu browsing soal baret merah," kata Kak Andra.

"Lah kata kakak gak semuanya ada di mbah google,"

"Ya setidaknya biar kamu melek dikit, tahu hal-hal umumnya saja agar kamu memahaminya," kata Kak Andra lalu menutup telponnya.

Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Kak Andra. Setidaknya aku bisa mencari hal-hal umum mengenai mereka karena hal-hal yang bersifat rahasia tak akan pernah ada di google sekalipun.

Aku duduk di jendela sambil menikmati hembusan angin dan mulai berselancar di google. Aku masukkan di pencarian beberapa hal umum mengenai baret merah. Memang tak akan dapat dibpahami satu hari, tapi setidaknya aku mulai belajar dan memahami dia.

My ArmyBaca cerita ini secara GRATIS!