3

45 2 0

"Kamu beneran suka sama Akbar, Sih?"
Pertanyaan itu membuat kasih menatap Dika. Ia tak tahu harus berkata apa pada lelaki yang dikenal dekat dengan Akbar ini.
Kasih terdiam, begitupun Nada. Sedangkan Dika ia kini dengan terangterangan menatap Kasih dan Nada deengan tatapan introgasinya.
Kasih berdehem sebentar untuk mencairkan suasana.
"Ehm, aku ada kuliah tambahan. Duluan ya Dika, Nada" 
Kasih pergi begitu saja diikuti pandangan Dika. 
"Itu tadi maksud suka nya Kasih ke Akbar itu gimana ya?" Dika menoleh bertanya pada Nada. Dika memutar bola matanya saat dilihatnya Nada tengah mendengarkan earphone untuk menghindari pertanyaan Dika. "Kebiasaan banget!" Dengusnya sebal.
**
Kesiangan! Itu kata yang tepat untuk Akbar saat ini. Dia ada kuliah pagi dan dirinya masih di rumah sementara jam sudah menunjukan pukul 07.45 dan kelas di mulai 15 menit lagi. Itu tak akan cukup untuk Akbar. Ia setengah berlari dengan baju yang belum terkancing sepenuhnya dan sepatu ia pakai setengah. Sungguh kesiangan itu menyebalkan! Batinnya. Jika saja hari ini bukan ujian tengah semester, Akbar pasti akan santai saja. Tapi karena ini UTS maka ia harus tidak boleh tidak hadir. Baru saja ia ingin membuka pintu depan bertepatan dengan suara lembut menegurnya.
"Buru-buru banget ya, Bar?" Langkah Akbar terhenti, ia berbalik dan menatap wajah itu. Wajah yang ia hindari di rumahnya sendiri. Bahkan baru kali ini di berani menegur Akbar. Itu bukan ibunya tapi orang asing bagi Akbar. Wanita itu tersenyum menatap Akbar dan ia berjalan menghampiri Akbar dengan satu gelas penuh susu putih untuknya.
"Gak baik buru buru begitu, apalagi gak sarapan dulu." Wanita itu memberikan gelas susunya pada Akbar dan ia merapikan baju Akbar. "Minum susunya, Bar. Nanti kamu masuk angin kalo kamu gak makan apa apa" wanita itu masih menatap Akbar dengan lembut. Sangat berbeda dengan tatapan Akbar yang penuh emosi. "Kata ayah kamu, kamu paling suka minum susu putih di pagi hari.
Akbar masih terdiam ia merasa bayangan dirinya ketika kecil menyeruak begitu saja. Perhatian dari ibunya, dari ayahnya terbayang di benak Akbar.
Ia mulai meminum susunya hingga tandas tanpa sisa. Wanita itu mengambil gelas yang sudah kosong itu. Akbar pergi tanpa pamit pada wanita itu. Wanita itu tersenyum lembut melihat susu yang dibuatnya habis oleh Akbar 'kemajuan yang baik' batinnya.
Mood Akbar hancur pagi ini. Ia tak mau banyak bicara dan hanya terdiam dengan mata yang penuh kemarahan. Tak ada yang berani bertanya karena ekspresi Akbar yang dingin, bahkan Dika pun enggan bertanya. Akbar bangkit dan pergi begitu saja padahal kini jam kuliahnya padat. Dika menatap Akbar heran kenapa pagi ini Akbar begitu dingin pada semua orang termasuk dirinya.
****
Kasih merasa lemas, ia menghempaskan tubuhnya pada kasur kesayangannya. Hari ini Akbarnya tidak tertangkap oleh indera penglihatan Kasih. Kemana lelaki kesayangannya itu. Tanpa Akbar dalam pandangannya semuanya menjadi kacau bagi Kasih. Hari ini ia absen menghayal tapi memikirkan Akbar. Sumber tenaga Kasih bukan hanya makanan tetapi juga wajah Akbar.
Kasih mengeluarkan handphone nya, ia harus stalker media sosial Akbar. Tapi hasilnya Nihil! Tak ada informasi yang di dapat Kasih dari hasil stalkingnya. Akbar tipekal pria yang jarang memakai media sosial. Ia hanya sekedar punya saja tanpa mau menggunakannya setiap hari seperti kebanyakan pria lainnya. Foto media sosialnya kebanyakan gaya Akbar yang stylish itu pun hanya salah satu fotonya saja dan yang lainnya panorama saja.
"Hmm Akbar, aku tuh sukaaaaa banget sama kamu" desis Kasih saat menatap foto Akbar di layar handphonenya. "Kapan kamu mau lihat aku, Bar?" Kasih terlonjak saat ia ingat sesuatu yang penting baginya. "Duh! Kok bisa lupa begini ya" lirihnya pelan.
Kasih terbangun ia harus segera pergi ke suatu tempat untuk mencari seauatu yang ia butuhkan.
"Sore gini mau kemana sayang?" Suara bundanya menghentikan langkah Kasih.
"Ehm bunda, Kasih mau beli sesuatu dulu, pulangnya gak malem malem banget kok ya bunda." Kasih memohob didepan bundanya.
"Yasudah, jangan terlalu malam, nanti ayah keburu pulang ya." Kasih mengangguk cepat.
"Iya bundaaa" ia memeluk bundanya dan mencium pipinya tanda terimakasih nya.
Tanpa berfikir lagi Kasih pergi menuju tempat yang ia pikirkan.
Sesampainya disana, ia sudah menemukan sesuatu yang ia perlukan. Ini bukan hari ulang tahun temannya atau pun Akbar, tetapi ini adalah hari atau tepatnya tanggal dimana pertama kalinya Kasih melihat Akbar. Setiap bertemu tanggal itu, dan setiap tahunnya pula ia selalu memberi sebuah kado untuk Akbar. Entah itu barang yang biasa hingga barang yang luar biasa. Itu kebiasaan Kasih di setiap tahunnya. Jika dua tahun lalu ia memberikan sebuah sepatu olahraga. Setahun yang lalu ia memberikan sebuah jaket dan kali ini Kasih memberikan Akbar sebuah topi dengan huruf A di depannya. Kasih tak berharap Akbar mau mengenakannya. Hanya saja Kasih selalu senang karena tanpa diduga Akbar selalu mengenakannya. Jangan ditamya bagaimana Kasih merasa senang ia teramat bahagia sampai 3 hari ia terus menerus senyum sendiri. Bahkan Nada menyarankannya agar Kasih konsultasi dengan psikiater.
Berbeda dengan saat Kasih memberikan hadiah di ulangtahun Akbar, ia fikir Akbar akan mengenakan apa yang ia berikan. Dia harus menelan kekecewaannya saat barang mewah yang ia berikan tidak pernah Akbar pakai. Waktu itu ia memberikan sebuah jam tangan bagus dengan harga yang cukup menguras uang jajannya. Tapi tak pernah ia lihat akbar sekalipun memakainya.
Setelah ia membungkus hadiahnya, Kasih beranjak pulang. Tapi langkahnya terhenti saat tak sengaja pandangannya melihat sosok yang ia rindukan.
"Akbar!" Serunya tertahan.
Kasih berjalan perlahan mengikuti Akbar. Ia penasaran akan pergi kemana laki laki pujaannya itu. Ia mengendap ngendap sudah seperti detektif yang sedang menyelidiki sesuatu. "Akbar ngapain kesini ya" lirih Kasih saat dilihatnya Akbar masuk ke sebuah tempat yang ramai dan berisik. Ia tak mungkin masuk ke tempat asing yang ia tak tahu itu tempat apa. Ia terhenti sejenak hingga suara ponsel miliknya mengejutkannya. Itu dari bundanya, Kasih menatap jam di pergelangan tangannya. Ia terkejut saat dilihatnya waktu sudah menunjukkam pukul 08.30.
"Aduh! Kemaleman!"
Kasih menepuk jidatnya. Ia berjanji untuk tidak pulang larut dan kini, ia sudah melewati waktu malamnya. Ia terlalu penasaran dengan Akbar hingga lupa waktu.

KeKasihKuRead this story for FREE!