-duabelas

2.2K 373 13

Mingyu, Jelo, Yugyeom sama Jaehyun cuma bisa mandang Jungkook prihatin. Abis dapat surat pemanggilan, Jungkook emang udah harus balik dari sekolah dan selama seminggu kedepan dia juga harus jalanin skorsing yang dikasih. Jungkook udah beres-beresin barang-barang dia dan siap buat balik tapi ditahan sama sohib-sohibnya.

"Lu gak apa, Jek?" tanya si Yugyeom sambil nepuk-nepuk bahu Jungkook.

Beberapa temen sekelasnya yang tau kabar skorsing Jeka langsung heboh ngegosip. Gak cewe, gak cowo, semuanya langsung heboh. Gimana engga? Kabar skorsing Jungkook karena ketauan bawa rokok ke sekolah udah nyebar ke satu sekolahan dan nama dia sebagai mantan ketua OSIS juga udah ancur.

"Sans aja. Lebih baik nama gua yang jelek daripada nama Taehyung yang harus jelek." Jungkook masih sok ngasih senyum ke sohibnya meski sohibnya pada sadar itu senyuman sakit. Iya, sakit. Apalagi pas sadar pipi dia yang sedikit memar, bekas tamparan Taehyung. Kayaknya dia udah bener-bener emosi banget.

"Terus bokap lu..."

"Sans aja. Bokap gua, itu urusan belakang. Dah gua balik dulu ya." pamit Jungkook pada sohibnya.

"Oh ya gua titip Taehyung ya. Bantu liatin dia dari jauh aja. Gua cuma takut dia kenapa-kenapa. Meskipun udah ada Eunwoo, gua-"

"Sipp.. Lu tenang aja. Kita semua pasti bakal bantu jagain Taehyung. Dan kita bakal cari tahu siapa biang masalah ini." jawaban Yugyeom buat Jungkook senyum. Ia ngerasa berhutang sama sohib-sohibnya itu.

"Thanks banget ya. Sorry kalo harus ngerepotin kalian. Dah gua balik dulu!" Jungkook langsung balik dari sekolah. Sepanjang jalan, dia ditatap sama semua murid-murid yang dia lewatin dan hampir semua mandang dia gak percaya. Dia bahkan banyak denger bisik-bisik orang yang ngomongin dia.

Anjiran mantan ketua OSIS kita gitu banget!

Tau! Gak nyangka jir mantan ketua OSIS eh perokok dan berani lagi bawa rokok ke sekolah!

Mentang-mentang dulunya OSIS!

Dan masih banyak sebagainya. Jungkook cuma bisa hela napas dan langsung cabut dari sekolah.

...

Plakk

Jungkook cuma bisa gertakin giginya pas dia dapet satu tamparan dari ayahnya. Iya, ayahnya. Ayahnya baru aja dateng ke apartment dia dan marah-marah karena dapet telpon dari sekolah Jungkook dan bilang Jungkook di skorsing. Dan ayahnya harus ngehadap kepala sekolah gara-gara kelakuannya ini.

"Malu-maluin! Sadar gak sih apa yang kamu lakuin itu malu-maluin nama keluarga kita! Nama ayah!" Pak Jeon udah keliatan marah banget. Mukanya bahkan udah merah banget tanda dia beneran marah. Jungkook sendiri sih cuma diem aja. Gamau jawab apapun.

"Nama baik, nama baik, nama baik terus yang ayah omongin! Sadar gak sih kalo apa yang udah ayah lakuin juga udah ngerusak nama baik keluarga kita, nama baik ayah sendiri. Nama baik Jeon Junhyeong!"

Plakk

"Kenapa? Aku salah bicara? Bener kan? Apa yang ayah lakuin juga ngerusak nama ayah sendiri. Bahkan ayah yang ngerusak keluarga ayah sendiri! Kenapa? Masih ngelak? Gara-gara jalang itu ay-"

Plakk

"Marah? Kesal? Kenapa? Yang aku bilang benar kan? Semua karena jalang itu! Semua karena di-"

Plakk

"Kau!"

"Seharusnya ayah sadar! Jalang itu perusak semuanya! Dia yang memperalat ayah! Dia cuma mau harta ayah! Dia cuma mau manfaatin ayah! Dia yang ngerusak semuanya! Ngerusak ayah! Ngerusak keluarga kita! Ngeru-"

"Jeon Jungkook!"

"Wah hebat sekali jalang itu bisa memperalat ayah dengan baik bahkan sampe ngebelanya kayak gini ckckck"

"Jeon Jungkook!"

"Jangan sebut nama Jeon di depan namaku lagi! Sejak satu langkah kakiku keluar rumah, sejak saat itu juga aku bukan bagian dari keluarga Jeon lagi."

"Jeon Jung-"

"Silakan keluar, Jeon Junhyeong-ssi." potong Jungkook sambil menunjuk ke arah pintu.

"Kau!"

"Anda tau dimana pintu keluarnya kan, Jeon Junhyeong-ssi?" dan saat itu juga Pak Jeon langsung keluar dari apartment Jungkook.

Jungkook merebahkan badannya di sofa. Ia memijat pelipisnya. Kepalanya pusing dan kedua pipinya rasanya sangat sakit akibat tamparan dari ayah- ahh masih pantaskah dia panggil dia ayah?

...

Jungkook ngambil jaket hitam dan kunci motornya. Dia berencana pergi sekarang terlebih jam masih cukup pagi. Dia berencana untuk pergi ke suatu tempat dimana dia ingin mencari ketenangan dan pegangan.

Jungkook memperlambat laju motornya begitu dia sampai ditempat tujuan dan segera memarkirin motornya. Helaan nafas terdengar waktu dia turun dari motornya dan melepas helm fullface yang dipakai. Di melihat bangunan itu dengan pandangan yang campur aduk. Sedih, kesal namun kerinduan yang lebih banyak terlihat.

Jungkook bungkukin badan tiap kali papasan sama perawat yang kerja disana. Beberapa perawat ada yang sempat ngajak bicara, kebetulan Jungkook juga yang udah lama gak keliatan dateng ke sana. Jungkook baru saja mau masuk ke salah satu bangsal sebelum seorang perawat, Kim Jiwon, beritahu kalau orang yang dia cari sedang ada di taman, duduk sendirian di kursi taman. Dan Jungkook pun langsung kesana, ke taman yang ada di rumah sakit.

Jungkook berdiri cukup jauh, mandangin satu pasien yang duduk diam di kursi taman. Matanya keliatan kosong mandangin air mancur yang ada di tengah taman. Sebenarnya dia gak sendirian disana. Ada juga beberapa pasien lain yang juga sama-sama di taman. Jungkook natap sedih dirinya dari kejauhan.

Rambut hitam panjang yang dulu terurai indah, kini terlihat kusut berantakan, bahkan sudah berubah warna jadi putih. Wajah yang dulu tampak cantik dan bersih kini terlihat berkeriput banyak dan kusam tak terurus bahkan kantung mata besar tercetak dibawah mata sayu itu. Tubuhnya bahkan terlihat kurus dan ringkih dibalut satu seragam rumah sakit berwarna biru yang agak pudar. Miris dan sedih tiap kali Jungkook menatapnya. Menatap ibunya yang kini menjadi salah satu pasien di rumah sakit jiwa.

.

.

.

Bersambung..

I. HIGH SCHOOL DAILY (JJK+KTH)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang