Bab 1

4K 357 18
                                              


"Nadia!" Teriak sang kakek dari halaman depan rumahnya yang ditumbuhi oleh beragam bunga terutama jenis anggrek. 

"Kakek!" Balas Nadia sembari berlari tanpa menghiraukan  koper dan ranselnya yang tergeletak di trotoar seusai menuruni angkutan desa.

Dengan erat Nadia memeluk sang kakek. Kakek Nadia adalah pensiunan angkatan darat. Meskipun sudah berumur 70 tahun, kakek Nadia masih mempunyai tubuh yang bugar tegap serta tinggi menjulang. Rambutnya sudah beruban dan kerutan banyak terukir di wajahnya. Namun ketika tersenyum, terkesan seperti serdadu tua yang masih sanggup berperang.

"Lihatlah, kamu benar-benar mewarisi postur tinggiku," ungkap si kakek mengamati sosok Nadia yang sudah bertumbuh pesat menjadi 170cm di umur 17 tahun. Seingat kakeknya, tinggi cucunya itu hanya 120cm ketika umur 11 tahun pada kunjungannya terakhir 6 tahun yang lalu.

"Tapi meski begitu tinggiku masih kalah dari kakek," ketus Nadia, iri dengan tinggi kakeknya yang menjulang sampai 182cm." Kalau dipikir-pikir, kakek tambah ganteng saja semakin ke sini malahan." Dan si kakek tertawa riang menyikapi pujian sang cucu.

"Kakekmu memang sedari dulu selalu menjadi yang tertampan. Itu sebabnya mata hati nenekmu ini dibutakan olehnya." Si nenek tiba-tiba saja muncul dari pintu ruangan utama. Dia menaiki sebuah kursi roda yang didorong oleh perawatnya bernama Heny mendekati mereka berdua.

"Ah ... nenek!" Nadia langsung berlari dan memeluk neneknya.

"Sudah lama sekali ya Nadia sejak pertemuan terakhir," ujar neneknya sembari menahan genangan air mata yang ingin menetes karena ungkapan rindu yang sudah tak bisa dibendung lagi. Nadia melepaskan pelukannya dan memandangi sang nenek.

"Kamu semakin cantik saja." Nenek membelai rambut panjang Nadia. Kagum akan pesona cucunya yang sudah beranjak remaja.

"Bagaimana kesehatan nenek?" Nadia sedikit khawatir karena perawakan sang nenek berbeda drastis dibandingkan kakeknya.

Sang nenek mempunyai badan yang kurus, kulit yang agak kering. Tiga tahun yang lalu nenek Nadia terserang stroke, sehingga harus mendapatkan bantuan kursi roda untuk bergerak. Selama ini, Heny sang perawatlah yang mengurusi segala kebutuhan nenek Nadia.

"Aku baik-baik saja. Malah rasanya semakin sehat melihat kedatanganmu." Nenek tak berhenti membelai dan memilin-milin rambut Nadia.

"Heny, tolong angkat dan masukkan barang-barang Nadia," perintah si kakek.

"Baik pak," tanggap Heny. Seorang perawat wanita berusia 40 tahunan yang mungkin seusia dengan ibu Nadia.

"Terima kasih bibi Heny," kata Nadia sambil tatapannya mengikuti langkah perawat Heny yang menuju trotoar di mana tas koper dan ransel milik Nadia berada. 

Si kakek berjalan mendekati cucunya yang masih berjongkok di hadapan nenek dan memegang pundaknya.

"Siap untuk berkeliling Jogja? Bersenang-senang mengisi liburanmu?" Nadia mengangguk-anggukan kepala tanda mengiyakan perkataan kakeknya dengan senyum girang.

"Apa tidak apa-apa bagi nenek ikut keliling bersama kita?" Nadia agak khawatir dengan kesehatan nenek. Ketika mengabari bahwa dirinya akan berkunjung ke Yogyakarta, neneknya antusias sekali ingin menemani sang cucu berkeliling.

"Nenek kuat loh, cucunya yang cantik inilah yang menjadi semangatnya," terang si kakek.

"Aaarrrgghh!!" Terdengar suara jeritan perawat Heny. Sontak semua mata perhatiannya langsung beralih ke trotoar jalan.

Perlu waktu lama bagi mereka bertiga untuk memahami suatu pemandangan yang tidak lazim. Tubuh perawat Heny terbaring tak bernyawa di trotoar. Namun ada sesuatu yang ganjil di mata mereka. Seseorang dengan pakaian berlumuran darah menggigiti leher perawat Heny hingga dagingnya terkoyak dan tulang tenggorokannya nampak. Seseorang itu terlihat sangat kelaparan.

KILLING THE MOONLIGHTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang