2

55 2 0

Akbar terdiam dikelasnya ia tak sedikitpun mendengar dosennya yang sedang menjelaskan materinya. Baginya itu tidak terlalu penting ya walaupun nantinya ia akan ditegur.
"Bar!, AKBAR" desis laki laki yang duduk disebelahnya. Akbar menoleh menatap lakilaki itu. Ia menggerkan dagunya menanggapi panggilan temannya.
"AKBAR ALVARO KAMU TIDAK MENDENGAR SAYA!" Akbar menoleh mendapati sang dosen tengah menatapnya marah. Ia tersenyum menatap dosen itu. "KELUAR DARI KELAS SAYA!"
Akbar hanya terdiam menuruti apa yang dosennya katakan. Ia keluar dan menuju perpustakaan tempatnya untuk tidur. Tak banyak yang tahu kelakuan asli dari dirinya. Yang mereka tahu bahwa Akbar itu tampan dan di idolakan anak anak dikampusnya, termasuk Kasih.
Gadis itupun kini tengah menghayal tentang Akbar. Tak beda jauh dengan Akbar dia pun tak memperhatikan sang dosen. Bayangan senyum akbar selalu menghampiri Kasih. Ia merasa jika materi yang disampaikan itu tak penting baginya. Dihidupnya hanya bayangan Akbar yang mengisi hari-harinya.
"Kasih!" Satu panggilan tak membuatnya menoleh tapi justru teman temannya yang menatap padanya. "Kasih!" Dua kali tak membuatnya terkejut. "KASIH FABIOLA KAMU DENGAR SAYA!!" Baru panggilan ke tiga membuatnya menoleh pada asal suara.
"Hadir bu" ucap kasih dengan mengangkat sebelah tangannya. Sang dosen menggeleng menatap kelakuan mahasiswinya itu. Bukan hanya itu satu kelas menatap aneh pada gadis itu, ia di juluki si gadis khayal karena kesehariannya di kampus selalu berkhayal.
Pernah suatu ketika ia terperanjat dengan panggilan dosen dan mengucapkan kata kata yang membuatnya mendapat catatan merah dari sang dosen. Waktu itu ia tak sengaja melihat style Akbar yang mengenakan jas hitam rapih dan itu sungguh tampan bagi Kasih. Ia berkhayal jika ia di tembak oleh Akbar saat di ajak dinner dan Akbar bertanya "Kasih, would you like to be my girlfriend" hingga ia meneriakan kata kata "Ya. Aku mau Bar!".
"Melamun lagi, saudari?" Kasih hanya tersenyum malu.
"Ehm maaf pak, saya tidak sengaja"
"Tidak sengaja? Itu alasan kamu untuk ke berapa kalinya selalu seperti itu!" Kasih terdiam ia pasrah dengan apa yang dosennya katakan. Ia bisa menghitung sampai tiga dan ia di buang dari kelas itu. 'Satu.... Dua......tii...'
"Saudari Kasih, GET OUT FROM MY CLASS!!!"
Bahu Kasih terkulai lemas. Ia bangkit dan keluar dari kelasnya. 'Keluar lagi dan lagi lagi keluar' batinnya. Rasanya ia selalu seperti itu, salahnya juga karena keseringan melamun di kelas.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada sahabatnya itu
'Nada? Dimana?'
"At my class, kenapa?"
'Aku keluar kelas, itu masih lama gak?'
'Keluar? Paling dikeluarin! Lumayan sih, Kenapa? Gara gara bayangin akbar yang dateng pake kemeja putih plus bawa kuda putih?'
'Lebih parah, Da! Aku lihat dia pake mobil sport, terus bawa bunga dia nunggu aku di depan gerbang kampus buat aku, hmm berasa banget jadi tuan puteri'
'PARAH!! Buang tuh khayalan, langsung samperin aselinya! Bentar lagi aku keluar, pesen kursi pojokan ya non!!!'
Kasih tersenyum melihat pesan akhir dari kawannya itu. Nada sudah seperti saudaa kembar baginya. Mereka berbagi suka duka bersama. Nada sudah tahu tabiat Kasih begitupun sebaliknya.
Nada memang bukan orang biasa, bisa dibilang derajatnya hampir sama dengan sebagian besar anak anak dikampusnya. Dia difasilitasi mobil oleh orang tuanya. Tak jarang Kasih selalu di jemput ketika berangkat dan tak jarang juga di nebeng pulang. Bukannya Kasih orang yang tidak punya, hanya saja dia berasal dari keluarga sederhana. Ibunya ibu rumah tangga biasa sedangkan ayahnya hanya seorang arsitek yang bekerja pada perusahaan. Ia memiliki adik laki-laki yang terpaut usia 12 tahun darinya. Kasih sedang di semester pertengahan maka tak jarang tugas nya selalu padat.
Kini Kasih tengah duduk di kantin kampusnya menuju tempat pojok yang diperintahkan oleh Nada sahabatnya. Dari sini ia bisa melihat lalu lalang orang orang yang sedang makan siang.
Ada yang sibuk dengan skripsinya, ada yang sibuk dengan penelitiannya, ada juga yang sibuk dengan dunia game dan media sosialnya. Sedangkan Kasih, dia kini sibuk memperhatikan semua yang ada disana termasuk ibu kantin yang sedang memasak. Baginya bukan hal yang jarang ia dikeluarkan dari kelasnya.
Kasih mempunyai jam khayal tersendiri. Jika kuliah pagi dia masih konsentrasi dengan mata kuliahnya. Namun jika di jeda dengan istirahat pasti ia akan bertemu dengan Akbar . Ya walaupun hanya melihat saja tanpa menyapa, tapi bayangan Akbar pasti akan mampu menghilangkan konsentrasinya.
Ia sungguh mengagumi pria itu, bukan itu bukan kagum tapi lebih ke perasaan cinta yang besar. Kenapa? Karena kasih selalu gugup hanya dengan melihat wajah Akbar dan ia selalu salah tingkah jika hanya mendengar suaranya saja. Padahal itu bukan pada dirinya, melainkan berbicara dengan orang lain.
Tak ada yang tahu jika ia punya perasaaan segila itu pada Akbar. Kasih selalu melihat akbar itu orang yang sangat tampan, baik dan dia berpikir pasti Akbar itu lelaki sempurna satu satunya di dunia ini. Katakan saja ia gila karena membayangkan Akbar sebagai malaikat yang turun sengaja untuk menemui Kasih hanya saja ia belum diizinkan untuk bertemu secara spesial dengan laki-laki itu.

BRAAAK!!!

Gebrakan meja membuat Kasih terperanjat dari lamunannya. Tentu ia terkejut setengah mati.
"Ngelamun lagi, Sih?" Itu suara Nada. Kasih memutar bola matanya saat nada dan pacarnya Dika tengah melempar senyum ejekannya.
"Kamu ngagetin banget, Da!"
"Hmm kaget ya? Kasiiaan" serunya dengan bola mata yang berkedip kedip. Dika hanya menggeleng dengan tawanya. "Makannya jangan keseringan ngelamun! Gak baik loh itu nghayal terus. Sampe dikeluarin dari kelas"
"Nggak apa kali, Da. Siapa tahu ngelamun bisa jadi pengalaman! Iya gak, Dika?" Dika hanya tertawa mengangguk menatap Kasih.
"Ngawur! Mana ada, yang ada lo tuh bisa gila!"
"Nyenengin hati sahabat sedikit bisa kali, Da?"
"Kemaren gue udah panggilin tuh si Akbar, kurang baik apa coba buat nyenengin sahabatnya? " Kasih memukul tangan Nada keras membuat gadis itu meringis "aduh sakit Kasih!"
"Mulut kamu tuh ih! Katanya bisa jaga rahasia, kamu mah ingkar!"
Dika yang mendengarnya menatap Kasih dan Nada bergantian ia tahu jika Kasih sangat menyukai akbar namun Dika hanya diam saja. Ia takut gadis itu merasa malu atau salah tingkah jika Dika ikut bicara. Tapi kali ini ia juga penasaran seperti apa rasa suka Kasih untuk Akbar.
"Kamu beneran suka sama Akbar, Sih?"
Pertanyaan itu membuat kasih menatap Dika. Ia tak tahu harus berkata apa pada lelaki yang dikenal dekat dengan Akbar ini.

To be continued

KeKasihKuRead this story for FREE!