Satu

281 18 4
                                          


(1)

Aku ingin mati, tapi orang tuaku tidak mengijinkan.

I'm broken and I'm barely breathing..

Agra Scipio Guntara. Lumayan tinggi. Lumayan ganteng. Kulit warna gading. Rambut hitam yang terlihat gaya dengan poni ke atas. Aku bukan keturunan Indo. Bukan pula outsider. Tidak, aku asli pribumi, inlander sejati. Kata Ayah, nenek moyang kami berasal dari bagian selatan pulau Andalas, sebuah tempat yang tak lagi bisa kamu temukan di peta dunia.

Tapi itulah namaku. Sedikit berbau Indo, seolah aku seorang ningrat. Karena Ayah menaruh harap padaku, mimpi kosongnya bahwa suatu saat nanti, di bawah kepemimpinanku, keluarga Guntara bisa naik kasta dari sekedar pedagang kaya raya menjadi ningrat.

Harapan palsu. Karena sebentar lagi aku akan mati.

Sementara Ayah terbelenggu Undang-Undang Populasi untuk sekedar memberiku adik, atau baginya, ahli waris sejati. Seorang yang bisa berumur panjang. Yang bisa diandalkan. Bukan mahluk pemurung yang separuh kakinya terperosok ke liang kubur seperti aku.

Baiklah. Apa aku terdengar seperti sedang mengasihani diri sendiri? Itu lah faktanya.

I'm falling cuz my heart stopped beating..

Usiaku dua puluh satu, mahasiswa tahun terakhir. Dan kurasa, ini juga bakal jadi tahun terakhir hidupku.

Sebetulnya sudah lama aku ingin mengakhiri ini, hidupku yang tidak berarti. Tentu saja Ayah tidak mengijinkan. Bunda tidak memberiku restu. Mereka terus berharap keajaiban turun dari langit.

Tapi apakah kamu tahu esensi dari keajaiban? Hal yang mustahil terjadi. Karena kalau itu terjadi, orang-orang tidak akan menyebutnya keajaiban. Aneh kan?

Cukup. Aku mulai melantur. Mungkin aku cuma ingin semua ini segera berakhir. Mungkin aku cuma ingin menutup mata dan tak perlu lagi membukanya. Apakah harapanku yang sederhana ini kelewat batas?

Hei, ini hidupku, iya kan?

Harusnya aku lah yang paling berhak menentukan.

If this is how it all goes down tonigh..

Mereka menyebutnya sindrom Immortal. Kami menyebutnya Immortal Ascencion. Semula aku tidak paham kenapa dinamakan begitu. Tapi setelah delapan tahun hidup berdampingan dengannya, kurasa tak ada yang lebih mengerti hal ini dibanding aku.

Tidak Ayah. Tidak Bunda. Tidak pula dokter-dokter bertabur gelar di balik dinding megah Royal Hospital Oosthaven.

Mereka tidak tahu apa yang kualami. Tidak tahu apa yang kurasakan. Karena itu mereka tidak mengijinkan aku mati.

If this is how you bring me back to life..

Aku memeluk diriku sendiri di atas ranjang. Mereka tidak pernah lagi mengikatku saat aku mendapat serangan. Sekarang rasa sakitnya begitu hebat hingga aku cuma bisa bergelung seperti bola dan gemetar. Aku bahkan tidak lagi menangis.

Dulu aku masih ingat bagaimana mereka mengikat dan menyumpal mulutku dengan kain supaya aku tidak menggigit lidahku sendiri sampai putus atau menjenturkan kepalaku ke tembok. Waktu itu usiaku tiga belas.

Dulu rasa sakitnya tidak tertahankan. Sekarang jauh lebih parah.

Aku tak lagi punya tenaga ekstra untuk mengamuk. Jadi aku cuma bisa diam dan berdoa agar malaikat turun dan mengambil napasku. Ya, aku memang seputus asa itu. Intinya aku cuma ingin mati.

This is what it's like when we collide..

Siapa pun itu.. tolong panggilkan Thanatos dan biarkan kematian mengecup bibirku. Atau tanyakan pada Hypnos, apakah dia bersedia memelukku ke dunia mimpi yang tak pernah berakhir. Tidur panjang yang tak perlu lagi terbangun. Kumohon, biarlah putra-putra malam menghapus sakit ini dari tubuhku.

1001 Samsara: Jiwa AbadiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang