Pengasingan

1.1K 86 7

Ketika Dursasana akhirnya terduduk dan menyerah di dekat tumpukan sari Drupadi, Drupadi memegang dadanya, tangannya terengah-engah, lalu sebuah kutukan terucap dari mulutnya:

"Kalian penerus dinasti Kuru, aku bersumpah, aku takkan hidup tenang sebelum kalian mati satu persatu! Aku bersumpah, akan menjatuhkan perang pembalasan atas semua yang kualami hari ini! Perang yang akan menyengsarakan para perempuan-perempuan sepertiku yang sengsara hari ini! Aku bersumpah! Aku takkan pernah menyisir rambutku sebelum aku membersihkannya dengan darah dia yang telah menarik rambutku, menyeretku seakan-akan aku seekor binatang!"

Kilat menyambar seiring tiap kata yang terucap dari mulut Drupadi. Lolongan anjing dan serigala menyahut dari kejauhan, seakan-akan para dewa tengah menyegel sumpah itu dan menyimpannya untuk diwujudkan di kemudian hari. Semua orang di ruangan itu gemetar karena ketakutan. Dengan adanya kelima Pandawa yang berkekuatan dahsyat, semua yang diucapkan Drupadi sangat mungkin terwujud.

Sambil meraba-raba, Drestarasta mencari Drupadi. Ketakutan membayang di wajahnya saat dia merangkul Drupadi lalu menenangkan Drupadi yang masih menangis.

"Tenanglah, Nak... lupakanlah semua yang terjadi pada taruhan hari ini," dia berkata, "Pulanglah ke Indraprasta dengan semua barang-barang kalian."

Duryodhana memandang ayahnya dengan sorot tak terima. Sengkuni seketika tertawa, mengejek Yudhistira bahwa dia dan keluarganya diselamatkan oleh seorang perempuan.

Yudhistira—yang kupikir memiliki kejernihan pikiran seperti air Sungai Gangga, malah tersulut oleh ucapan Sengkuni. Yudhistira mengabaikan peringatan Drupadi dan saudara-saudaranya. Tanpa pikir panjang, Yudhistira menyanggupi tantangan Sengkuni.

Kali ini, taruhan mereka adalah sebuah pengasingan panjang selama tiga belas tahun. Siapa pun yang kalah saat ini, harus menjalankan pembuangan di hutan selama dua belas tahun. Lalu di tahun ketiga belas, pembuangan dilanjutkan dengan penyamaran.

"Kalau penyamaran kalian ketahuan, maka kalian harus mengawali lagi hukuman kalian dari awal," kata Sengkuni sambil menyeringai licik.

Ketika dadu digulirkan, saat itu juga takdir bergulir ke arah kehancuran. Aku sama sekali tak sanggup melihat kekalahan Yudhistira. Lebih-lebih, kebencian yang makin membara, menjalar ke ruangan itu, dan sebentar lagi, aku yakin... akan menghancurkan Dinasti Kuru, persis seperti sumpah Drupadi.

***

Sebenarnya, aku takut mendekati Drupadi. Saat itu, dia tengah berada di satu ruangan untuk mengganti pakaian dengan pakaian pelayan. Dia masih menangis tanpa berhenti. Rambutnya terurai tak ingin dia hiraukan.

Aku menitipkan Satyasena dan Sushena, dua anak kembarku kepada ibu asuhnya. Perlahan-lahan, aku mendekati Drupadi dari belakang.

"Mau apa kau?"

Sikap defensif Drupadi membuatku mundur. Saat itulah, aku betul-betul memerhatikan apa yang terjadi padanya. Luka dan lebam terlihat jelas di kulitnya yang mulus.

Takut-takut, aku membantu mengobati lebam-lebam dan luka di tubuhnya yang terjadi akibat kekasaran Dursasana. Mulanya Drupadi menolak, namun caraku meyakinkan agaknya membuat Drupadi membiarkanku.

"Supriya—ah, kenapa aku selalu lupa?" Drupadi menghela napas dengan kecewa, "Kenapa kau begini baik padaku? Lihatlah sikap suamimu! Dia membenciku! Dia menyamakanku dengan pelacur!"

Haruskah aku mengatakan soal air mata di mata Karna? Hatiku seketika sakit ketika mengingat sorot mata itu. Curiga bahwa sorot itu adalah sorot kasihan bercampur cinta yang tak pernah sampai.

"Jangan hanya diam! Kalau kau diam, kau semakin mengingatkanku akan Supriya! Seandainya dia ada di sini—"

"Maafkanlah suami, Saya, Putri," aku berkata sambil membantunya berganti pakaian, "Kalau anda ingin menyalahkan, salahkanlah saya. Kalau anda ingin marah, marahilah saya."

Sebuah tawa getir keluar dari mulut Drupadi.

"Su—Vrushali," Drupadi membersit hidung sambil menelan air matanya, "Jika aku berniat menikamkan pisau ke jantungnya, apakah kau bersedia menggantikan?"

"Jika kematian bisa memuaskan anda, maka bunuhlah saya, Putri. Jika kematian bisa menghapus dosa yang tuanku perbuat, maka hapuslah dosanya dengan kematian saya."

Tangan Drupadi terangkat, namun urung menyentuh pipiku.

"Mengapa kau mau melakukan semua itu demi seseorang yang telah berbuat jahat?"

"Orang tidak langsung menjadi jahat ketika dilahirkan," kataku dengan nada lembut, "Dan suami saya tidak jahat. Saya percaya benar hal itu."

Drupadi tersenyum, "Di mana aku mendengar kalimat itu, ya? Ah, sepertinya Supriya pernah berkata demikian di sela-sela dongengnya. Orang tidak langsung menjadi jahat ketika dilahirkan."

"Anda pasti menyayangi pelayan anda itu."

"Aku sempat menyuruh orang mencarinya di hutan, di desa, namun tak menemukan jejaknya," sergah Drupadi, "Aku hanya berharap dia tidak tewas dimangsa binatang buas."

"Dia akan baik-baik saja."

Drupadi mengangguk. Dia telah selesai mengenakan sari lalu mengeringkan semua air mata di wajahnya dengan sebuah kain.

"Apakah Raja Karna menaruh dendam karena aku menolaknya dalam sayembara perjodohan?"

Tanganku gemetar mendengar ucapan Drupadi.

"Kadang-kadang, aku berpikir... bagaimana kalau aku membiarkannya memanah ikan itu," kata Drupadi, "Aku berpikir, mungkin Karna bisa membelaku saat Dursasana berlaku begitu jahat."

Saat pandangan mata Drupadi menatapku, saat itu juga aku sadar... sorot itulah yang aku lihat di mata Karna. Air mataku perlahan menitik dan berubah menjadi sebuah tangisan tanpa suara.

Dengan langkah-langkah tegap, Drupadi kemudian keluar dari ruangan itu. Pandawa mengiringinya berjalan melewati lorong-lorong istana. Tak sedikit pun dia mengeluh saat selopnya dilepaskan, lalu mereka mulai berjalan bertelanjang kaki.

Suara-suara tangisan rakyat beserta kidung kematian menjadi pengiring kepergian para Pandawa menuju pengasingan mereka. Bergema menyayat-nyayat langit. Seolah menjadi pembuka kisah-kisah kematian yang akan segera dimulai.

#StopPlagiarism

Author Putfel

Legenda Negeri Bharata [ COMPLETED ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang