Bertemu Masalalu ( CTR )

Mulai dari awal

Aku menarik lengkungan senyumku ke atas, lalu kembali terpejam.
" Aku kangen! " ucapnya pelan.
Kata-kata yang menjadi langganannya saat tiba-tiba datang menemuiku.

" Satu bulan itu lama ya? Kenapa nggak satu minggu lagi aja? Atau sekalian besok? " ungkapnya lagi. Aku tahu maksud perkataannya.

" Satu bulan itu singkat Dim. Kalo kamu ngitungnya pakek hari ya lama. Apalagi pakek jam. Bisa sampe ribuan. Jalanin aja. " jawabku sabar.

Dia mempererat pelukannya pada perutku, menaruh kepalanya pada bahuku dan bersandar nyaman di sana.

" Aku udah nggak sabar miliki kamu seutuhnya. " ungkapnya lagi yang samar-samar aku dengan karena lantunan musik yang masih terpasang di telingaku.

Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, tinggi kami tidak jauh berbeda sehingga aku tidak harus mendongakkan kepalaku untuk menatap wajahnya. Aku menarik satu speaker earphone itu dan menyumpalkan pada satu telinganya, lalu membalas pelukannya sambil menuntun kakinya untuk berdansa. Dansa dadakan yang romantis.

Aku akui, ini adalah balasan sikapku atas semua kebaikannya.
Karena sejujurnya, untuk melupakan Al sepenuhnya aku belum bisa, dan mungkin inilah salah satu cara untuk mengungkapkan kata maafku untuknya.

" Kamu tau Yuki, aku selalu merasa berada di atas awan, melayang bebas karena bahagia. " ungkapnya terdengar serius. Aku memasang telingaku baik-baik untuk mendengar semua ungkapan hatinya.

" Kamu bisa buat dunia aku berubah sedemikian rupa."

" Hidup aku penuh warna, dan itu juga karena kamu "

" Kamu itu ibarat zat adiktif yang buat aku selalu kecanduan. sehari nggak liat kamu itu rasanya kebahagiaan aku direnggut dengan paksa. Dan aku nggak mau itu terjadi " ungkapnya masih semangat.

" Ceritakan aku menurut kamu" perintahnya padaku.

Aku melepaskan pelukanku, namun jarak kami tetap berdekatan. Bahkan deru napasnya terasa amat dekat menyapu wajahku.

Aku menggeleng, " Kenapa? " tanyanya. " Aku nggak bisa gombal kayak kamu" jawabku sambil tertawa.

Dimas memanyunkan bibirnya.
" Aku nggak gombal Yuki, itu isi hati aku" jawabnya sedikit kecewa.

" Kamu tau aku Dim, aku kurang bisa ngerangkai kata-kata manis. "

" Aku nggak butuh kata-kata manis. Aku butuh kejujuran dari hati kamu.! " Dimas menatapku. Ucapannya kali ini terlihat serius, dan itu artinya aku tidak boleh main-main lagi.

" Oke, kamu itu seperti lentera" jawabku singkat. Alisnya terangkat meminta penjelasan.

" Penerang jalan aku untuk lihat masa depan. " jawabku jujur.

" Oh ya? " tanyanya menyelidik.

Aku mengangguk.

" Alasannya? "tanyanya lagi.

" Aku udah bisa move on dari masalalu karena kamu. Satu hal yang nggak pernah aku ceritain ke kamu, dan sepertinya kamu harus tau ini sekarang! "
Ya, harusnya dari dulu aku menceritakan apa yang terjadi pada masalaluku. Jika tidak sepenuhnya, setengahnya akan lebih membuat hatiku lega.

Kakinya berhenti. Untuk beberapa detik, kami terdiam.

" Ceritakan! "

*******

Aku sudah bilang, jika satu bulan waktu yang singkat kan? Dan ya, hari ini adalah hari pernikahanku.
Akad nikah kami sudah berlangsung dua jam yang lalu, dan kini aku resmi menjadi istri dari Dimas Anggarjaya. Lelaki dengan usia lima tahun lebih tua dariku.

Short Story ( Alki Version)Baca cerita ini secara GRATIS!