1. All By Myself

1.2M 17.7K 1.6K
                                              

Devan POV

Aku berjalan cepat dan semangat menuju ruang kerja Direktur Utama tempatku bekerja setahun belakangan ini. Perusahaan yang dibangun dengan kerja keras oleh Kakekku dan dipertahankan hingga kini oleh Papaku. Ya, Direktur Utama perusahaanku bekerja adalah Papaku sendiri, Revan Putra Firdaus.

Aku, Altair Julio Devan, anak pertama dari empat bersaudara. Di umur 20 tahun, aku telah menyelesaikan pendidikan S2 di Inggris dengan tittle Summa Cum Laude di jurusan Business Administration karena IPku yang sempurna. Setamatnya dari Inggris aku pun mulai bekerja di perusahaan keluarga Papaku ini. Seperti yang Papa sarankan, aku pun mulai dari jabatan rendah, sebagai Supervisor.

Dalam dua tahun, aku pun berhasil menduduki jabatan Manager Operasional tanpa bantuan keluargaku, semua murni dari kerja keras dan kegigihanku selama ini. Karena aku ingin membuat kedua orang tuaku bangga dan juga sebagai kepuasan tersendiri bagiku. Dan sekarang aku dipercaya sebagai General Manager di usiaku yang masih terbilang muda.

Sambil membaca dokumen di tanganku, aku bisa melihat dari sudut mataku para staf wanita yang melihatiku sejak keluar dari ruangan hingga sekarang saat sudah akan sampai di lift. Hal biasa yang selalu terjadi setiap aku menampakkan diri. Aku tidak risih dengan perhatian ini karena aku sudah terbiasa sejak masih sekolah dulu, namun juga tidak membuatku menyukainya. Aku hanya tidak peduli dengan mereka. Bagiku, pekerjaanku jauh lebih menarik dibandingkan para wanita ini.

Aku masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dimana tempat Papa bekerja. Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka dan aku melangkah cepat keluar.

"Siang, Pak Devan" sapa Security yang berjaga di depan.

"Siang. Pak Direktur ada?" tanyaku. Selama bekerja, aku tidak pernah memanggil Papaku dengan sebutan biasanya. Karena di sini, Papa adalah atasanku dan aku ingin menjaga keprofesionalan dalam bekerja walaupun kami adalah keluarga. Jadi aku tetap memanggilnya dengan sebutan Pak Direktur atau Pak Revan.

"Ada, Pak"

"Oke, thanks" kataku mengangguk pada Security dan berjalan masuk ke dalam.

Keadaan ruangan sangat sepi. Maklum, karena memang hanya dua orang yang menghuni ruangan besar ini. Direktur Utama dan asistennya. Saat melihat meja asisten, tidak kutemukan siapapun di sana. Kupikir mungkin sedang ke toilet ataupun lantai lainnya.

Tanpa memperhatikan lagi, kudorong pintu ruangan Direktur yang tertutup setengah. Saat aku baru akan mengucapkan sesuatu, suaraku terhenti melihat pemandangan dihadapanku saat ini.

Direktur utama alias Papaku sedang bercumbu mesra dengan wanita dipangkuannya. Aku bisa melihat kedua tangannya yang sudah berada di dalam blouse yang digunakan wanita tersebut. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Wanita itu menangkup wajah Papa dengan kedua tangannya sambil melumat bibir Papa dengan agresif. Keduanya mengeluarkan desahan-desahan pelan yang membuatku sedikit bergidik. Sebenarnya pemandangan seperti ini sudah sangat sering kulihat tapi tetap saja aku masih tidak bisa tidak merasa geli tiap kali melihat mereka berdua bermesraan.

Wanita yang ada dipangkuan Papa adalah asistennya. Asisten kesayangan yang menjadi tangan kanannya sejak dulu hingga sekarang. Satu-satunya asisten Papa yang kuat menghadapi Papa dengan segala kesempurnaan dan ketegasannya. Sudah berpuluh wanita gagal menjadi asisten Papa selama ini, hanya wanita ini yang bisa bertahan lama.

"Ehem" kataku berdeham agar mereka menyadari keberadaanku. Sepertinya mereka terlalu asik hingga tidak sadar aku sudah berdiri di sini sejak tadi. Hanya beberapa meter dari mereka berdua.

Keduanya terlonjak kaget. Papa yang sedari tadi memejamkan matanya pun membuka mata dan melihatku. Senyumannya pun terbentuk diwajah tampannya yang masih terjaga walaupun umurnya sudah 53 tahun.

[4] My Lady [SUDAH DITERBITKAN]Where stories live. Discover now