Eight

16.3K 400 16

Setelah selesai, Fienna membalut tubuhnya dengan handuk. Saat membuka pintu kamar mandi, Fienna melihat pemandangan yang membuat nya terkejut setengah mati.

"AAAAAAAAA!"

*****

Di depannya Alfredo tergeletak dengan darah dari sudut bibirnya yang terluka. Lalu, di depan Alfredo ada kakak laki-laki Fienna, Mike yang tinggal di Los Angeles.

"Kak!" Seru Fienna saat kakaknya hendak melayangkan tinju pada Alfredo.

"Udah, kamu gak perlu belain baj*ngan kayak dia. Kakak tau apa yang dia lakuin ke kamu." Kata Mike.

Fienna menutup mulutnya saat kakaknya kembali memukul Alfredo dengan brutal. Bahkan sekarang hidung Alfredo juga mengeluarkan darah. Ketika Mike melayangkan pukulan dengan tenaga penuhnya pada Alfredo, Fienna berlari menghadang kakaknya.

BUGHH

Mike yang tidak siap mengerem saat Fienna menghalanginya. Akhirnya pukulan Mike mengenai Fienna dengan telak. Seketika itu juga, Fienna terjatuh ke lantai.

Mike menghampiri adiknya dan memeriksa keadaan adiknya.

"Kamu gak papa kan, Dek?" Tanya Mike.

Mike melihat hidung adiknya yang mengeluarkan darah. Sepertinya dia tadi terlalu terbawa emosi hingga tidak dapat berhenti.

Fienna tidak menjawab pertanyaan Mike. Matanya tertutup dan tidak ada satu kata pun yang lolos dari bibirnya. Sang kakak, Mike menjadi panik. Dia menggendong Fienna ke dalam mobilnya. Sedangkan Alfredo berusaha bangkit berdiri dan ikut menggendong Fienna walaupun badannya terasa nyeri dan babak belur.

"Liat nih! Gara-gara lo, adek gue jadi kayak gini. Kalo adek gue kenapa-napa, awas aja lo!" Mike menatap tajam ke arah Alfredo.

Alfredo meringis dalam hati,"Padahal kan yang nonjok dia, kenapa gue yang disalahin? Yaudahlah kakak ipar emang selalu bener."

"Gue ikut ya nganter Fienna ke rumah sakit." Pinta Alfredo setengah memohon.

"Terserah." Jawab Mike tak acuh.

Mike menyetir mobilnya dengan resah. Sebentar-sebentar kepalanya menengok ke arah Fienna dengan pandangan khawatir.

Lima belas menit kemudian. . .

Mike setengah berlari sambil menggendong Fienna masuk ke dalam rumah sakit. Sialnya, rumah sakit tampak begitu ramai. Katanya, ada kecelakaan beruntun di dekat rumah sakit itu sehingga pasien rumah sakit membeludak tak terkendali. Oleh karena itu, Mike diminta mengantri.

Mike menatap wajah Fienna yang pucat. Mike tidak dapat berbuat apa-apa selain menunggu. Kemudian, Mike melihat Alfredo menerobos antrian dan berbicara dengan serius pada resepsionis rumah sakit. Mike mengangkat alisnya bingung saat tiba-tiba dia dipersilahkan untuk langsung masuk ke dalam kamar rapat untuk mendapat perawatan dari dokter.

Di dalam kamar rawat, Mike bertanya kepada Alfredo,"Lo ngomong apa tadi sama resepsionis?"

"Gak ngomong apa-apa. Gue cuma bilang kalo gue kenal direktur rumah sakit ini."

Tiba-tiba, Mike menatap Alfredo dengan serius, "Gue tau lo ngapain sama adek gue. Gue gak suka cara lo ngedeketin dan manfaatin dia buat nafsu bejat lo. Intinya, mulai sekarang gue pengen lo jauhin adek gue."

"Gue tau sikap gue ke Fienna emang salah. Mungkin sebagian besar orang bakal bilang kalo gue cuma manfaatin dia. Tapi, gue cinta sama dia. Gue gak bisa ngejauhin dia." Kata Alfredo dengan sungguh-sungguh.

Mike tertawa sumbang dan berkata dengan nada mengejek,"Kalo cinta itu disayang, bukannya malah dirusakin. Cinta lo itu basi tau gak?"

"Terserah apa kata lo, tapi gue gak bisa jauhin Fienna." Tegas Alfredo.

"Lo.." Geram Mike.

Suara lirih menginterupsi perdebatan antara Alfredo dan Mike.

"Ka..k Mike."

Mike menghampiri Fienna yang masih terbaring di ranjang rumah sakit,"Kenapa, Dek? Kamu masih sakit? Pusing?"

Fienna menggeleng pelan, dia memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut-denyut.

Mike menatap adiknya meminta maaf,"Tadi kakak kebawa emosi. Niat kakak sih bikin cowok laknat itu babak belur, eh malah kamu yang kena. Maafin kakak, ya."

Fienna mengangguk kecil dan mencoba berdiri. Namun, badannya limbung dan kembali jatuh ke tempat tidur rumah sakit. Saat melihat itu, Alfredo yang berada di kamar itu langsung mendekati Fienna.

"Jangan bangun dulu, Fi! Lo belom sehat." Kata Alfredo.

Alfredo hendak duduk di samping tempat tidur Fienna, tetapi Mike menghalanginya.

"Jauh-jauh lo dari adek gue!" Kata Mike dengan sengit.

Fienna menegur kakaknya,"Kak, jangan gitu!"

"Kamu harus tegas sama dia. Kamu tenang aja kalo kamu dulu gak bisa jauhin sama dia, kakak bisa bikin dia jauhin kamu. Kalo dia ngapa-ngapain kamu, kasih tau kakak! Biar kakak bikin dia sekarat." Ujar Mike berapi-api.

"Dia gak sejahat yang kakak bilang." Bela Fienna.

Mike melotot,"Gak jahat kamu bilang? Dia merenggut kesucian kamu. Apa itu gak bisa dibilang jahat?"

Fienna menghembuskan napas kasar, "Udahlah, Kak. Itu udah lalu, gak perlu dibahas."

Mike terdiam. Dia mengalihkan pembicaraan pada kondisi Fienna. Setelah dirasa Fienna cukup sehat untuk pulang, Mike mengantar Fienna pulang. Tentu saja, Alfredo juga ikut.

Sesampainya di rumah, Mike menyuruh Fienna untuk pergi beristirahat agar kondisinya lebih cepat pulih. Fienna hanya mengiyakan kata-kata Mike dan pergi tidur.

Setelah Mike memastikan Fienna sudah tertidur, dia menemui Alfredo yang sedang duduk di ruang tamu.

"Gue mau taruhan sama lo." Ucap Mike memandang Alfredo lurus-lurus.

Alfredo menatap Mike was-was, "Taruhan? Buat apa?"

Mike tersenyum licik, "Jadi gini, gue pengen duel sama lo. Kalo lo menang, lo boleh bebas deketin adek gue semau lo. Tapi kalo lo kalah, lo harus ngejauh dari hidup adek gue dan gue gak mau ngeliat muka lo ada di depan gue."

Alfredo mengetatkan rahangnya. Sebuah dilema yang sangat memusingkan. Di satu sisi, jika dia memenangkan duel dia bisa menjalin hubungan dengan Fienna tanpa gangguan Mike. Di sisi lain, jika dia kalah maka siap tidak siap dia harus hengkang dari hidup Fienna.

Mike menaikkan alisnya dan menantang Alfredo,"Jadi gimana? Lo terima taruhan gue?"

TBC

Maaf pendek partnya. Author update dulu biar readers gak kelamaan nunggu. Sekali lagi maaf 😢😢

. .

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!