JERITKU

109 3 2
                                    

Malam adalah waktu dimana bait-bait puisi itu tercipta.
Teruntuk mereka yang tak pernah mengerti.
Teruntuk mereka yang tak pernah memahami.

Ini ujarku melalui diksi-diksi murahan dan terkesan rendahan.
Mereka tertawa bersamaku namun takkan pernah melihat kesedihanku.

Lalu, haruskah aku berteriak agar mereka memelukku?
Andai aku seberani itu, pasti hidupku tak lagi merasa pilu.
Ini bukan tentang cinta, ini mengenai dia kehidupanku.

Haruskah aku menyerah, bersama nadi yang tak lagi memerah.
Haruskah aku melangkah, meski pijakanku rapuh dan rusak parah.

Rasanya ingin mati saja, berharap semua sepi akan menghilang sendiri.
Rasanya ingin ku akhiri saja, berharap kesedihanku berhenti.

Akan tetapi para malaikat takkan memelukku jika aku begitu.
Aku ingin kembali kemasa itu, dimana aku tak lupa siapa diriku.

Lantunan Dalam BaitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang