Seven

19.5K 417 9

"Fi, udah nyampe." Panggil Alfredo.

". . ."

"Fi, Fienna!"

*****

Alfredo memanggil-manggil nama Fienna beberapa kali, namun Fienna tidak menyahut. Alfredo turun dari motornya dan mendapati Fienna tidak sadarkan diri.

Alfredo meletakkan telapak tangannya di dahi Fienna. Dahi Fienna begitu panas. Alfredo menatap Fienna dengan khawatir. Alfredo membopong Fienna ke dalam rumahnya. Dia membaringkan Fienna di ranjang, dan menyelimuti Fienna.

Kemudian, Alfredo mengambil air dingin, merendamkan handuk ke dalamnya, dan memerasnya. Lalu, Alfredo meletakkan itu di dahi Fienna untuk meredakan demam Fienna yang sangat tinggi.

"Cepet sembuh ya, Fienna." Bisik Alfredo sambil mengecup dahi Fienna.

Fienna menggeliat sedikit karena sentuhan bibir Alfredo pada dahinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Fienna menggeliat sedikit karena sentuhan bibir Alfredo pada dahinya. Alfredo mengelus kepala Fienna dengan sayang.

"I'll be here for you." Kata Alfredo.

Alfredo ikut berbaring di atas ranjang di samping Fienna. Dia merendam handuk itu di air dingin dan meletakkannya di dahi Fienna secara berkala. Dia tidak tidur walaupun waktu telah menunjukkan pukul tengah malam.

Alfredo menahan rasa kantuk yang membuat matanya terasa berat. Alfredo membuka matanya lebar-lebar, lalu ia membasuh wajahnya dengan air dingin untuk melawan rasa kantuk yang menyerangnya.

Alfredo pun terjaga sampai pagi hari. Sekitar pukul 6 pagi, Alfredo jatuh tertidur karena tidak mampu melawan rasa kantuk dan kelelahan yang menderanya.

*****

Ketika Fienna terbangun, kepalanya terasa pusing. Matanya masih berkunang-kunang dan pandangannya buram. Setelah beberapa lama kemudian, barulah Fienna dapat melihat sekelilingnya dengan jelas. Fienna memandang Alfredo yang sedang tertidur di sampingnya dengan pulas.

Lalu, Fienna membalikkan badannya menghadap Alfredo. Jari-jari tangan menyusuri wajah Alfredo. Mulai dari kedua kelopak matanya yang tertutup, hidungnya yang mancung, bibir tipisnya.

Fienna tersenyum dan melihat wajah Alfredo lekat-lekat. Ia ingin menghafal setiap inci wajah Alfredo untuk disimpan di dalam memori ingatannya.


Fienna mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alfredo. Fienna menekankan bibirnya di atas bibir Alfredo. Saat Fienna hendak melepas ciumannya, bibir Alfredo bergerak membalas ciuman Fienna. Fienna tersentak, ia mengira Alfredo sudah bangun.

Fienna mengangkat kepalanya, ia melihat kedua mata Alfredo masih tertutup rapat. Tapi kenapa Alfredo masih bisa membalas ciumannya jika ia sedang tidur? Fienna cepat-cepat membalikkan badannya kembali memunggungi Alfredo. Ia takut jika Alfredo terbangun dan mengetahui tindakannya tadi. Mungkin Alfredo bisa menciumnya tanpa canggung, tapi itu tidak berlakunya bagi Fienna. Walaupun mereka telah berkali-kali melakukannya, Fienna tetap malu untuk melakukan kontak fisik dengan Alfredo.

Saat Fienna sedang meredakan panas di pipinya yang tiba-tiba muncul, kedua lengan Alfredo tiba-tiba bergerak memeluk pinggang Fienna. Alfredo memeluk Fienna erat seperti memeluk guling.

"Al!" Erang Fienna saat tubuhnya tenggelam di pelukan erat kedua lengan Alfredo.

Alfredo tidak bergerak, ia masih tertidur pulas. Tetapi sekalipun Alfredo sedang tidur, dia memeluk Fienna dengan sangat erat. Fienna merasa risih karena setiap dia bergerak sedikit apapun, dia akan bersentuhan dengan Alfredo.

Fienna pasrah. Dia menutup matanya dan mencoba bersyukur atas keadaannya.

*****

Sekitar 30 menit kemudian, saat terik siang sedang berkuasa di bawah naungan awan.

"Good morning!" Sapa Alfredo dengan suara serak khas baru bangun tidur.

"Ini sudah siang tau." Kata Fienna membenarkan sambil memasang wajah cemberut.

"Jangan cemberut! Masih pagi." Kata Alfredo.

"Lo meluk gue daritadi kayak meluk guling. Gimana gue gak cemberut?" Keluh Fienna dengan kesal.

Tiba-tiba Alfredo menyadari sesuatu. Alfredo melihat ke arah dahi Fienna.

"Mana handuk dan airnya?" Tanya Alfredo sambil memandang sekelilingnya.

Fienna menunjuk ke arah meja nakas di sebelah tempat tidur. Di sana ada sebuah handuk dan baskom berisik air.

"Keadaan gue udah baikan. Gue gak perlu itu lagi." Kata Fienna.

"Makasih ya buat yang semalem. Lo mau ngerawat gue." Tambah Fienna.

"Udah sewajarnya kali gue ngerawat lo. Kalo lo yang sakit kan gue yang menderita." Alfredo menampakkan cengiran mesumnya.

Fienna langsung melotot dan mencubit lengan Alfredo,"Lo itu ya! Gue baru aja sembuh udah gitu. Gak bisa apa sebentar aja jadi gak kayak itu."

"Habis enak sih jadi ketagihan." Ujar Alfredo cengengesan.

"Kalo lo gitu terus, gue sakit lagi nih." Kata Fienna sambil pura-pura memegang kepalanya.

Alfredo yang melihat itu langsung menjadi khawatir. Dia meletakkan telapak tangannya di dahi Fienna.

"Udah mendingan kok. Udah gak panas lagi." Gumam Alfredo.

"Lo masih ngerasa pusing?" Tanya Alfredo.

"Udah gak lagi. Hmm lo bisa keluar bentar gak? Gue mau mandi." Kata Fienna.

Bukannya pergi, Alfredo malah merangkul Fienna dan berbisik,"Gimana kalo kita mandi bareng aja? Kebetulan gue juga pengen mandi sekarang. Kan lumayan buat hemat waktu."

Sebagai jawaban, Fienna menjewer telinga Alfredo.

"Lo!! Mending lo cepetan mandi sama beres-beres deh. Hari ini lo kan ada kuliah siang 2 jam lagi." Kata Fienna mengingatkan.

"Oiya ya. Kok gue gak inget? Makasih ya udah mau ngingetin jadwal gue. Lo emang pacarable banget." Ujar Alfredo sambil mengedipkan sebelah matanya.

Fienna tidak menggubris perkataan Alfredo yang ditunjukan untuk menggodanya. Dia beranjak bangun dan berjalan ke kamar mandi dengan kaki menghentak-hentak lantai dengan keras.

Setelah itu, Fienna masuk ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandinya. Ia kesal karena Alfredo terus menggodanya di setiap kesempatan yang ada. Tetapi jika dia meladeni tingkah Alfredo, ia akan terlambat kuliah. Sungguh dilema. . .

Fienna menyalakan shower dan membasuh tubuhnya dengan air hangat. Lalu, ia masuk ke dalam bath tub.

Setelah selesai, Fienna membalut tubuhnya dengan handuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setelah selesai, Fienna membalut tubuhnya dengan handuk. Saat membuka pintu kamar mandi, Fienna melihat pemandangan yang membuat nya terkejut setengah mati.

"AAAAAAAAA!"

TBC

Update soon

My Wild BoyBaca cerita ini secara GRATIS!