Chapter 18 ; Pelukis Langit

993 84 7

Wahai pelukis langit, tolong lukiskan wajahnya di langit. Agar aku bisa memandanginya dan melepas rindu yang menyeruak.


Reina menatap ponselnya yang sedaritadi hanya memunculkan layar hitam polos. Belum ada notifikasi apapun yang muncul di ponselnya. Ia mendesah pelan. Mengeluarkan sedikit penat dari tubuhnya.

Sekarang hari Sabtu. Ia merasa bebas sementara karena sudah menjalani Try Out berbasis komputer yang diadakan sekolahnya selama empat hari belakangan ini.

Tetapi, sudah hampir selama lima hari ini, ia tak saling berhubungan dengan Alvan. Di sekolah pun ia tak bertemu Alvan dikarenakan jadwal Try Out mereka tak pernah bertemu.

Karena Try Out pertama itu berbasis komputer, maka, sekolahnya membuat gelombang untuk pengerjaan Try Out. Kebetulan, kelas Reina dan Alvan memang tak selalu satu gelombang. Setiap kelas Alvan selesai mengerjakan Try Out, kelas Reina harus langsung masuk ke dalam ruangan lab komputer.

Atau, disaat kelas mereka berdua sama-sama mendapat gelombang dua atau tiga,mereka sama-sama sibuk di dalam kelas masing-masing.

Ah, sepertinya Reina merindukan tuan teduhnya. Bukan apa-apa.

Sekarang, yang Reina lakukan hanya menunggu Alvan. Menunggu ponselnya bergetar menampilkan pesan dari cowok itu. Melelahkan.

Kenapa menunggu itu selalu melelahkan?

Reina Liana : oiii alvann

Setelah matanya lelah memperhatikan pesan yang sudah ia kirim dari kemarin,Reina memutuskan untuk mematikan ponselnya dan tertidur. Lalu, dalam doanya sebelum tertidur ia berharap padaNya untuk melukiskan wajah Alvan di langit sana agar ia bisa melepas rindunya.

*

Hari Minggu.

Bukan hal yang buruk dan juga tidak merupakan hal yang baik. Karena esok, Reina harus kembali beraktifitas disekolah.

Hari ini, ia masih terbaring malas dikasurnya. Selimutnya lama-lama ia turunkan setelah ibunya masuk ke dalam kamarnya dan mematikan AC kamarnya. Membuat dirinya lama-lama merasa gerah berada di dalam lilitan selimut.

Perlahan, ia mengambil ponselnya yang tepat berada disampingnya yang sudah memunculkan berbagai rentetan notifikasi dari teman-temannya dan juga Alvan.

Tentunya, ia akan membuka pesan dari Alvan terlebih dahulu. Prioritas.

Van : mbb ya

Van : wifi rumah dari kmrn2 rusak

Van : baru dibenerin semalem

Reina Liana : oh yaa

Van : nyariin ya? wkwkw

Van : jgn ngambek

"Anjir kali. Menurut lu aja woi." umpat Reina kesal.

Lantas, jarinya langsung bergerak dengan cepat untuk membalas pesan Alvan.

Reina Liana : ya menurut lo aja nyariin apa ga

Van : yah beneran ngambek ya

Reina Liana : tau dah

Van : maaf ya

Reina Liana : g

Van : yaah

Van : maaf yaa

Intuisi [ Completed ]Baca cerita ini secara GRATIS!