Part 6 - Laki-Laki Sejati Pantang Menyakiti

302 23 2

Sepulang dari kedai, Kimi dan Titin pergi ke mall untuk sekedar melepas penat selama seminggu bekerja. Mereka keluar masuk macam-macam toko. Mulai toko pakaian, tas, sepatu, aksesoris hingga toko pakaian dalam.

"Tin, aku ke toilet sebentar ya." ujar Kimi. Titin yang sibuk menghabiskan burgernya pun hanya mengangguk.

Randi? Itu beneran Randi bukan ya? Tapi..

Kimi berjalan berbelok dari toilet untuk mengikuti Randi yang baru masuk ke dalam toko perhiasan. Dia mengendap-endap masuk ke dalam toko itu.

Ah Randi sweet banget sih. Dia pasti mau kasih aku surprise.

Kimi masih sibuk melihat Randi yang tengah memilih cincin. Namun prasangka Kimi melesat jauh. Saat tiba-tiba seorang perempuan tinggi semampai dengan wajah manis menghampiri Randi dan mencium pipi laki-laki itu.

"Sorry, Ran aku telat." suara perempuan itu terdengar sangat lembut namun sangat memuakkan untuk Kimi.

"Aku mau beliin kamu sesuatu. Kamu bebas mau pilih yang mana saja." kata Randi.

Giliran aku boro-boro ditawarin perhiasan.

"Serius, Ran?"

Sok-sokan nolak lo. Padahal mah lo seneng banget kan dibeliin perhiasaan sama cowok gue. Dasar cewek jadi-jadian!

Habis sudah kesabaran Kimi. Dengan langkah pasti dia menghampiri Randi dan perempuan asing itu. Randi pun terkejut.

"Kimi.." ucap Randi gugup.

"Iya, aku Kimi kamu pikir aku Dian Sastro?" tantang Kimi. "Kamu ngapain disini? Dan..siapa dia?"

Randi langsung mencengkram lengan Kimi dan keluar dari toko perhiasan itu. "Sakit tau! Kenapa? Kamu malu ketauan selingkuh?"

"Denger ya, Kim. Aku selingkuh karena kamu!"

Kimi tertawa hambar. Dia menatap Randi dengan tajam. "Karena aku? Apa yang sudah aku lakuin ke kamu, huh?"

"Pernah nggak sih kamu mikir kalau kamu itu masih seperti anak-anak. Kamu nggak dewasa, Kim."

"Kamu nggak pernah mempermasalahkan ini sebelumnya. Ini cuma akal-akalan kamu saja kan karena sudah terciduk selingkuh."

Randi memegang kedua bahu Kimi. "Denger ya, Kim. Sering kali aku meminta kamu untuk serius dengan hubungan ini. Tapi apa yang kamu kasih ke aku? Kamu main-main, kamu nggak serius. Aku ajak kamu menikah tapi selalu ada alasan untuk nolak." ujar Randi.

Deg..

Jantung Kimi terasa seperti diremas kuat oleh Hulk. "Aku punya target menikah dan aku nggak mau itu meleset. Jangan salahkan aku kalau kamu harus aku tinggalin. Salahkan saja om kamu itu."

Dengan cepat Kimi menepis kedua tangan Randi yang masih berada di bahunya. "Ini nggak ada hubungannya sama om El." kata Kimi sinis.

"Tentu saja ada, Kimi. Kamu baru diperbolehkan menikah kalau om-mu itu menikah, bukan? Tapi sampai kapan? Kecuali memang kalau om El itu seorang gay."

Plakk...

Tamparan keras mendarat di pipi sebelah kanan Randi. Perih sungguh terasa di telapak tangan Kimi sehabis menampar laki-laki nyinyir itu.

"Jangan pernah sekali-kali kamu bicara sembarangan tentang om El. Dia jauh lebih setia dan lebih sayang sama aku daripada kamu. Terserah kalau hubungan kita sampai disini. Nggak masalah banget buat aku. Tapi satu yang pasti, laki-laki yang mengaku normal nggak akan pernah nyakitin hati perempuan. Contohnya ya..kamu, Randi 'banci' Dewantoro."

Target KimiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang