1

122 3 0

"Akbar?"
Pria itu menoleh bertepatan dengan gadis yang duduk diam di sebuah tempat duduk. Bukan karena nama mereka sama, melainkan dia adalah lelaki yang selalu menghiasi hari harinya.
Mereka bukan sepasang kekasih, tentu saja bukan. Itu adalah mimpi yang mustahil bagi wanita itu. Tapi siapa yang tahu bukan kah rencana tuhan itu selalu indah bukan? Lafalan itu yang selalu ia ingat di hatinya bahwa kesempatan akan selalu ada suatu saat nanti.

Dia Kasih Fabiola yang menaruh hati pada Akbar semenjak pertama masuk kuliah. Waktu itu ia tak sengaja melihat Akbar untuk pertama kalinya karena dia berada di depan kelompok ospek Kasih.
Akbar sungguh tampan waktu itu, wajahnya seperti anak kecil, kuliatnya putih dan yang paling Kasih kagumi adalah senyumnya yang manis. Tidak ada yang bisa membuat Kasih benci pada Akbar. Dua tahun kebelakang, Kasih tak pernah melihat Akbar dengan pacarnya. Yang ia tahu Akbar adalah tipekal lelaki yang banyak diidolakan perempuan hingga ia sendiri pun yakin Akbar belum punya kekasih.
Kasih selalu menatap Akbar dari kejauhan. Dan kini ia pun menatap pria itu yang tengah tersenyum bersama teman-temannya dari kejauhan pula. Kasih tak pernah memberi tahu perasaannya pada siapa pun kecuali sahabat sejak kecilnya yakni Nada Destia.
"Pandangin terus sampe puas" ucapan itu membuat Kasih terbangun dari khayalan nya. Ia menoleh dan mendapati sahabatnya tengah duduk di sampingnya.
"Eh Nada, kamu dari tadi disitu?" Pertanyaan itu membuat Nada memutar bola matanya 'tuhan please buat kali ini aja, angkat penyakit menghayal dari Kasih!' Batin Nada.
"Udah dari seminggu yang lalu, Sih!"
"Ish kamu gitu banget"
"Abisnya, ngehayalin Akbar sampe segitunya banget! Samperin sana!" Kasih merenggut sedih, Nada selalu tahu apa yang ada dipikirannya itu.
"Nggak mau lah! Nanti dia takut sama aku, Da!" Nada tertawa melihat sahabatnya itu.
"Kasih, kalo cuma nyamperin doang dia gak bakal lari, emangnya dia itu hantu apa?"
Kasih hanya terdiam dengan mata yang kembali memandang Akbar pangeran tampannya. Nada geram, tentu saja. Gadis disampingnya itu tak ada sedikitpun keberanian, ia hanya diam dan diam.
"AKBAAAR!"
Teriakan itu sukses membuat Kasih terperanjat dan ia kalangkabut dengan teriakan yang berasal dari arah sampingnya yang berarti sahabaatnya itu. Ia menoleh dan mendapati sahabatnya tersenyum manis ke arah kasih yang wajahnya memucat.
"Kamu kenapa Nada!" Kasih menggeram kesal.

Sementara yang dipanggil tengah menoleh menatap dimana asal suara itu berbunyi.
"Siapa bar? Lo kenal?" Akbar menggeleng tapi matanya tetap pada kedua gadis yang duduk di bangku taman itu. "Fans lu ya, Bar?"
Akbar terkekeh pelan ia hanya tersenyum dan berlalu begitu saja meninggalkan temannya itu.

Sedangkan Nada tertawa melihat tingkah temannya itu, sungguh lucu baginya melihat Kasih seperti itu. Kasih mengangkat kepalanya ke arah pangeran nya dan ternyata pangerannya sudah berlalu tanpa Kasih tau dia kemana.
"Tuh kan, Da! Kamu sih jadi Akbarnya hilang"
"Kok aku? Kamu tuh. Aku udah panggil tadi malah pura pura!" Kasih terdiam baginya dengan memandang wajah Akbar dari kejauhan sudah cukup bahagia. Tapi Nada tengah mengacaukan acara memandangnya. Selama ini Kasih tak pernah ketahuan diam diam memandang Akbar.
"Sih?" Kasih menoleh menatap sahabatnya "kalo kamu cinta sama Akbar, kamu bilang sama dia" spontan kasiih menggeleng. Ia tak mungkin melakukan hal sebodoh itu. Nada menghela nafasnya kasar.
"Kasih"
"Nada, perasaan aku sama Akbar cukup aku, kamu sama tuhan aja yang tahu! Yang lain gak usah" nada memutar bola matanya. Menurutnya kasih terlalu lembut untuk akbar.
"Aku tahu!"
Keduanya terperanjat mendengar suara itu. Lalu mereka tersenyum ketika tahu siapa yang datang.
"Dika"
"Hai kasih, hallo sayang"
Dia Andika Andrianto pacar dari Nada. Mereka berteman baik namin berbeda fakultas. Jika Kasih mengambil jurusan Sastra Inggris, maka Nada mengambil jurusan Keperawatan dan Andika mengambil jurusan yang sama dengan Akbar yaitu Hukum.
"Dika, tahu gak akbar kemana??" Andika mengernyit saat Kasih menanyakan hal itu.
"Kayaknya pulang deh Sih" bahu Kasih terkulai lemas ternyata Akbarnya kini sudah pulang. Apa yang ia harapkan? Baginya Akbar itu penyemangatnya di setiap kesulitan yang ia hadapi misalnya saat ia tengah banyak tugas tugas kuliahnya, praktikumnya atau apapun itu yang membuat Kasih pusing.
Tak perlu mengungkapkan karena mencintai itu bukan berarti harus memiliki bukan? Cukuplah hanya sekedar dalam hati.
•••
Akbar menghembuskan asap rokok yang kini ia hisap. Banyak hal yang ia fikirkan terutama kisah hidupnya kini. Akbar merupakan anak tunggal yang berasal dari keluarga yang berada. Ia memilih fakultas hukum karena ia tertarik dengan menjadi seorang yang bisa menegakkan keadilan.
"Bar?" Ia menoleh mendapati temannya yang terengah-engah. "Sorry bar, sorry banget. Tadi gue ada kuliah tambahan" Akbar hanya mengangkat alisnya menatap temannya itu.
"Kuliah tambahan? Atau pacaran?" Sindir Akbar membut temannya hanya tersenyum menggaruk tengkuknya.
"Dikit sih, Bar"
"Banyak juga gak apa-apa, Bang!"
"Geli, Bar! Gue sama lu tuh seumuran, gak usah pake Abang! " dengus pria itu sebal. Akbar hanya tersenyum menatap saudara sepupunya itu. Mereka bagaikan adik dan kakak yang seibu dan se ayah.
"Yuk bang. Berangkat!"
Laki laki itu terdiam menatap pria yang kini melenggang pergi begitu saja. 'Punya sodara kok begitu banget! Kok bisa ya cewek suka sama dia' pikirnya dan mengikuti Akbar.

*to be continue*

KeKasihKuRead this story for FREE!